Ahmadun. Namanya saja sudah mengandung makna pujian. Sosoknya sederhana, seorang karyawan swasta dengan penghasilan cukup di Batam. Ia memilih tetap menggunakan sepeda motor, alih-alih mobil yang lazim dimiliki, karena sebagian rezekinya ia alokasikan untuk membantu sesama.
Kesederhanaan dan ketulusannya membuatnya disegani. Ia mengelola sebuah pengajian yang beranggotakan para profesional: pegawai, dokter, dan pengusaha. Status sosialnya tak memengaruhi perannya sebagai pembina. Justru, karisma dan pemahaman agamanya yang mendalam membuat para anggotanya menganggap Ahmadun sebagai ‘suhu’ atau ‘syaikh’ tempat mereka berkonsultasi.
Taujih utama yang selalu ia tanamkan adalah tentang Persaudaraan (Ukhuwah) Sejati. Bukan sekadar kenal, tetapi saling memahami, bekerja sama, dan membantu dalam segala keadaan. Persaudaraan yang mewujud dalam kepedulian sosial, saling merasakan suka dan duka, dan menghindari buruk sangka.
Konsep ini benar-benar telah mendarah daging. Anggota pengajian itu sigap membantu siapapun yang kesusahan. Dan salah satu kisah yang paling menyentuh adalah ketika mereka membantu Ibu Rita.
Ibu Rita, seorang tukang cuci dari kampung Sukajadi, kebingungan. Anaknya terserang demam berdarah dan dirawat di RS Otorita. Suaminya, seorang tukang sayur keliling, tak punya uang untuk biaya perawatan.
Di sinilah ukhuwah diuji. Teman-teman Ahmadun, diprakarsai oleh Dr. Arifudin, seorang dokter di RS lain, segera mengumpulkan dana takaful (dana sosial). Setelah terkumpul jumlah yang cukup untuk biaya rumah sakit, mereka bergegas mengunjungi Ibu Rita di Sekupang.
Arifudin menyalami Ibu Rita, kemudian mendekati Zakiya, anak yang sakit itu. Ia memegang kepala Zakiya, memeriksa infusnya, dan memastikan obat yang diberikan perawat.
“Insya Allah, Zakiya sudah mulai membaik, Bu. Demamnya sudah turun. Biarkan di sini dulu sampai sembuh total,” kata Arifudin, menenangkan hati Ibu Rita.
Ibu Rita yang mengenakan jilbab panjang usang, hanya bisa tersenyum haru dan mengucapkan terima kasih. Saat rombongan itu pamit, Hery, ketua rombongan, menyelipkan amplop. “Ini sedikit dari teman-teman, Bu, semoga bisa untuk beli obat. Semoga Zakiya cepat pulang.”
Setelah rombongan itu pergi, Ibu Rita mendekati amplop di tangannya. Dengan deg-degan, ia menghitung isinya: “Subhanallah, tiga juta rupiah!” Uang itu lebih dari cukup untuk biaya perawatan Zakiya. Air matanya meleleh. “Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah memberi jawaban doa hamba. Semoga rezeki mereka semakin bertambah dan barokah.”
Sebulan kemudian, takdir berbalik. Kini Ahmadun yang mendapat musibah. Kedua orang tuanya di kampung, secara bersamaan, terserang Stroke. Keduanya dirawat di RS yang sama di kota kelahirannya.
Dalam kekalutan itu, Ahmadun langsung terbang ke Semarang. Setelah sampai, ia mendapati kenyataan pahit: RS meminta deposit tiga juta rupiah untuk jaminan perawatan. Di tabungannya hanya tersisa tak lebih dari satu juta.
Dengan hati berat, ia mencoba menghubungi teman-temannya di Batam. Siang itu juga, ia berhasil mendapatkan pinjaman lima juta rupiah yang segera ia serahkan kepada kakaknya.
Tiga hari kemudian, Ayahnya membaik dan diizinkan pulang. Ibunya menyusul besoknya, namun harus menjalani fisioterapi. Ahmadun harus memikirkan biaya pulang ke Batam dan uang yang harus ia tinggalkan untuk pengobatan dan biaya fisioterapi orang tuanya.
Ia tidak ingin mengecewakan keluarganya. Meskipun batinnya tidak nyaman berutang, ia terpaksa mencari pinjaman. Akhirnya, ia meminjam kas organisasi sosial yang ia kelola, dengan janji akan melunasi maksimal dalam tiga bulan.
Sesampainya di Batam, sebuah pemandangan mengharukan menantinya. Entah dari mana mereka tahu, Dr. Arifudin dan teman-temannya sudah berkumpul di rumah Ahmadun. Mereka datang mendoakan kesembuhan orang tua sang ‘Syaikh’.
Selesai berbincang-bincang, mereka berpamitan. Arifudin, yang terakhir keluar, menyelipkan selembar kertas kecil di tangan Ahmadun. Ahmadun hanya menerimanya tanpa mengerti.
Baru setelah mereka semua pergi, ia membaca tulisan singkat di kertas itu:
“Maaf Ustadz, ini hasil musyawarah saya dengan istri. Kami telah banyak mendapat bantuan dari Ustadz, dan saat inilah kami ingin membantu Ustadz. Insya Allah, kami telah mengikhlaskannya. Semoga bermanfaat.”
Tak lama setelah membaca surat itu, ponselnya berdering. Sebuah SMS Banking masuk:
“Kredit Rp. 8.000.000,- pada no rek xxxx…”
Delapan juta rupiah. Cukup untuk membayar semua utang yang baru ia buat dan meninggalkan uang yang memadai untuk kebutuhan orang tuanya di kampung.
“Subhanallah, Arifudin… Uang sebanyak itu cukup untuk membayar hutang-hutangku. Bagaimana aku harus berterima kasih kepadamu…” batin Ahmadun, sambil tak henti mengucapkan syukur.
Saking terharunya, ketika istrinya bertanya apa yang terjadi, Ahmadun tak sanggup bersuara. Ia hanya bisa memperlihatkan kertas kecil dari Arifudin dan SMS banking itu. Air matanya meleleh membasahi pipi, air mata seorang murobbi yang tersentuh oleh balasan ukhuwah tulus dari tangan para muridnya.
Inilah balasan nyata dari Konsep Persaudaraan yang selama ini ia ajarkan. Bahwa Keikhlasan untuk membantu sesama akan dibalas oleh Allah pada saat yang paling genting, melalui tangan-tangan yang dicintai. Inilah takaful sejati yang dibangun di Batam. []
