Memasuki usia emas, aku merasa seperti berdiri di sebuah puncak bukit: di belakang terbentang jalan panjang penuh jejak, di depan terpampang sisa perjalanan yang tak lagi sepanjang dulu, tapi justru terasa semakin berharga. Di titik ini, angka bukan lagi sekadar hitungan tahun, melainkan alarm halus bahwa setiap detik adalah modal terakhir yang tidak boleh dihambur-hamburkan. Ada banyak hal yang Allah izinkan kualami: rezeki yang melimpah, kehilangan yang menyakitkan, dan ujian kesehatan yang mengguncang. Semuanya seperti potongan-potongan mozaik yang baru sekarang terlihat utuh maknanya: Allah sedang mengajariku bagaimana menjaga “api” di usia emas, bukan hanya bara pengalaman, tapi juga nyala iman dan amal.
Aku masih ingat, beberapa tahun lalu, ketika masa pensiun datang dengan sebuah angka yang dulu hanya bisa kubayangkan: lebih dari satu miliar rupiah. Di atas kertas, itu tampak seperti jaminan tenang untuk hari tua—angin segar setelah puluhan tahun bekerja. Dalam hati, ada rasa bangga: ini buah jerih payah, bukti bahwa perjalanan karier tidak sia-sia. Namun, di balik rasa syukur itu, ternyata tersembunyi celah-celah perhitungan yang kurang matang, nafsu ingin berkembang cepat, dan keyakinan bahwa aku cukup pandai mengatur semuanya sendiri. Dalam dua tahun, qadarullah, angka besar itu luruh sedikit demi sedikit, hingga habis tanpa meninggalkan jejak berarti.
Bukan berarti tidak ada ikhtiar; aku mencoba berbisnis, berinvestasi, mengembangkan usaha. Tapi di sana-sini ada salah perhitungan, salah memilih mitra, salah membaca situasi, dan mungkin juga salah menaruh harap lebih pada hitungan rasional dibanding bertanya lebih lama di hadapan Allah. Saat menyadari bahwa saldo yang dulu membuatku merasa “aman” itu perlahan menghilang, perasaanku campur aduk: malu, kecewa pada diri sendiri, sekaligus didera pertanyaan, “Bagaimana mungkin sebesar itu bisa habis secepat ini?” Penyesalan terasa tajam, terlebih ketika memikirkan bahwa banyak hal mungkin bisa dilakukan lebih baik andai sejak awal lebih berhati-hati dan lebih lama bermusyawarah dengan-Nya.
Namun di balik semua itu, ada pelajaran yang pelan-pelan tumbuh: ternyata Allah ingin memisahkanku dari sandaran selain Dia. Uang yang dulu membuatku merasa punya ruang untuk bernapas lega, ternyata bisa lenyap begitu saja tanpa permisi, sementara napas yang selama ini kuanggap biasa justru terus diberi cuma-cuma. Aku belajar bahwa rezeki bukan soal angka yang sempat mampir di rekening, tapi bekas apa yang ia tinggalkan di hati dan amal. Uang satu miliar yang habis itu menyisakan sesuatu yang jauh lebih mahal: kesadaran bahwa dunia terlalu rapuh untuk dijadikan tempat bersandar, dan bahwa usia emas tidak boleh dihabiskan dalam ratapan atas angka yang sudah lewat.
Belum selesai dengan pelajaran tentang harta itu, aku diuji lagi lewat cara lain: usaha rental mobil yang kumiliki. Saat itu, punya empat mobil rental terasa seperti capaian baru—ada kebanggaan kecil ketika melihat deretan kendaraan yang siap disewakan, tanda bahwa aku masih bisa produktif setelah pensiun. Tapi qadarullah, ujian datang dari arah yang tak kusangka: satu per satu mobil itu menghilang, dibawa kabur orang yang dipercaya. Satu lagi akhirnya harus ditarik oleh leasing karena aku tidak mampu lagi melunasi cicilannya. Di titik itu, rasa lelah, kesal, dan malu bertumpuk jadi satu; seolah-olah aku sedang ditampar berulang kali oleh kenyataan bahwa perhitungan manusia tidak pernah menandingi ketetapan Allah.
Di tengah kekacauan itu, satu hal yang paling kuat menohok batinku adalah kesadaran bahwa aku sedang bermain-main terlalu dekat dengan api riba. Kredit, cicilan, dan berbagai skema yang awalnya tampak wajar di dunia usaha, tiba-tiba terasa seperti belenggu yang memeras bukan hanya rumah tangga, tapi juga ketenangan ibadah. Semakin kurenungkan, semakin jelas bahwa mungkin ini adalah peringatan lembut tapi tegas dari Allah: jangan gantungkan hidup pada skema yang mengandung riba, karena di sana tidak ada keberkahan. Sejak saat itu, aku menanamkan satu tekad dalam-dalam: harus “pisah total” dari riba, meski konsekuensinya jalan kehidupan menjadi lebih perlahan dan serba disederhanakan. Di usia emas, aku tidak ingin lagi membawa beban hutang yang menggerogoti hati dan doa.
Belum reda luka dari kehilangan mobil-mobil itu, ujian lain datang melalui usaha toko busana muslim yang kami jalankan. Toko yang kami bangun dengan harapan menjadi sumber nafkah halal, tempat mengalirnya rezeki yang barakah, suatu hari dirampok habis-habisan. Nilainya sekitar tiga ratus juta rupiah, tapi yang runtuh saat itu bukan hanya angka, melainkan juga rasa aman dan semangat yang sempat terkumpul. Melihat rak-rak kosong, stok yang lenyap, dan suasana toko yang mendadak seperti bangunan tak bernyawa, aku hanya bisa duduk dan bertanya dalam hati: “Apakah ini juga peringatan dari-Mu, ya Allah?” Kejadian itu terasa semakin berat karena di belakangnya ada niat yang sebelumnya sempat kupendam: sebuah rencana untuk umrah yang tertunda dan tak kunjung terealisasi.
Dalam keheningan setelah semua keramaian itu selesai—polisi datang, laporan dibuat, orang-orang bertanya—yang tersisa hanyalah aku, keluargaku, dan Allah. Di ruang yang sunyi itu, aku menimbang-nimbang: mungkin aku terlalu lambat memenuhi niat baik (berangkat umrah), terlalu sibuk menumpuk persiapan lahiriah hingga lupa menyegerakan ketika ada kesempatan. Tidak ada yang bisa memutuskan secara pasti apakah ini “hukuman” atau “peringatan”, tapi aku memilih memaknainya sebagai cara Allah mengingatkanku bahwa niat baik jangan terlalu lama digantung. Uang bisa hilang, usaha bisa runtuh, tapi jika niat mendekat kepada-Nya tidak segera diwujudkan, bisa jadi kesempatan itu ikut tersapu bersama hilangnya harta.
Seiring usia bertambah, ujian tidak hanya datang dari harta dan usaha, tetapi juga mulai menyentuh tubuh. Menjelang usia lima puluh, aku dua kali diuji dengan gejala stroke yang tak main-main: tubuh tiba-tiba melemah, separuh aktivitas terhenti, dan dunia yang biasanya ramai oleh jadwal training dan pertemuan mendadak menyempit menjadi ruang istirahat dan bantal. Di masa itu, kata “istirahat total” bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban. Rasa takut sempat menyelinap: bagaimana jika ini awal dari kelumpuhan permanen? Bagaimana dengan keluarga, pekerjaan, dan amanah-amanah yang belum sempat kuselesaikan? Di antara selang-seling rasa sakit dan pusing, satu hal yang paling terasa adalah betapa lemahnya aku tanpa kesehatan yang selama ini sering kuanggap otomatis.
Namun justru di ranjang pemulihan itu, aku menemukan ruang dialog yang paling jujur dengan Allah. Jadwal-jadwal pelatihan yang biasanya memenuhi kalender mendadak digantikan oleh jadwal shalat yang lebih khusyuk, dzikir yang lebih lama, dan renungan panjang di sela rasa nyeri. Aku seperti dipaksa berhenti dari laju lari yang sering terlalu cepat, untuk duduk sejenak, mengatur napas, dan bertanya: “Sebenarnya untuk apa engkau berlari selama ini?” Ujian sakit itu menjadi cermin besar yang memantulkan kembali wajah diriku: ada ambisi, ada keinginan bermanfaat, ada juga sisa-sisa ego yang ingin diakui. Allah seakan berkata lembut lewat rasa sakit: “Rapikan lagi niatmu, luruskan kembali arahmu.”
Menggabungkan semua kejadian itu—hilangnya uang pensiun, mobil-mobil rental yang lenyap, toko busana yang dirampok, dan sakit yang mengguncang—aku melihat pola yang tak mungkin lagi kuabaikan. Di usia emas, Allah tidak sedang “menghukum”, tetapi sedang “mendidik” dengan cara yang lebih dalam. Harta yang hilang menegur rasa percaya diri yang berlebihan pada perhitungan duniawi. Usaha yang jatuh menegur cara pandangku pada keberkahan. Sakit yang datang menegur caraku memaknai waktu dan tenaga. Semua itu seperti rangkaian ketukan di pintu hati: “Sudahkah engkau siap menghabiskan sisa umur ini dengan fokus yang benar?”
Dari semua itu, aku mulai menyusun ulang definisi “sukses” di usia emas. Jika dulu sukses lebih banyak kuukur dari seberapa besar proyek, seberapa ramai kelas training, atau seberapa banyak aset, kini ukurannya pelan-pelan bergeser: seberapa jujur aku dalam taubat, seberapa ikhlas aku saat kehilangan, seberapa lembut aku pada keluarga, dan seberapa besar manfaat yang kutinggalkan dalam bentuk ilmu dan teladan. Dunia kerja, panggung pelatihan, buku-buku dan materi yang kutulis, semua itu kini kulihat sebagai peluang amal jariyah—bukan sekadar portofolio profesional. Aku tak ingin lagi berlari mengejar angka semata, tetapi menyusun langkah agar setiap aktivitas punya nilai di hadapan Allah.
Menjaga api di usia emas bukan berarti memaksa diri untuk tetap sekuat dulu, melainkan menjaga agar nyala iman dan semangat memberi tidak padam. Aku mungkin tidak lagi sanggup bekerja sedahsyat usia tiga puluhan atau empat puluhan, tapi aku masih bisa mengajar, membimbing, menulis, dan mendoakan. Pengalaman pahit tentang uang dan usaha bisa menjadi bahan cerita yang menyelamatkan orang lain dari lubang yang sama. Ujian kesehatan bisa menjadi alasan untuk lebih lembut pada diri dan orang sekitar, lebih serius menjaga pola hidup yang Allah ridai. Dalam setiap kesempatan mengisi kelas atau menulis, aku ingin menyisipkan kisah-kisah ini, bukan untuk mengundang simpati, tapi agar orang lain belajar tanpa harus merasakan luka serupa.
Di rumah, menjaga api di usia emas berarti lebih banyak hadir secara utuh: mendengar curhat anak tanpa terburu-buru menghakimi, menemani istri bukan hanya secara fisik tetapi juga dengan hati yang penuh perhatian, dan menjalin silaturahmi dengan saudara serta sahabat lama. Aku menyadari bahwa mungkin dulu aku terlalu sibuk mengejar peran di luar, hingga terkadang lupa bahwa keluarga adalah madrasah pertama dan ladang pahala yang paling dekat. Kini, setiap tawa di meja makan, setiap doa bersama selepas shalat, dan setiap obrolan kecil menjelang tidur terasa seperti hadiah yang dulu sering tak kusyukuri. Di usia emas, kebahagiaan sederhana inilah yang ingin lebih sering kupeluk.
Secara spiritual, aku ingin sisa umur ini dipadatkan dengan amal yang paling berdampak panjang. Sedekah yang lebih terarah, mendukung pendidikan anak-anak dan generasi muda, membina lembaga pendidikan dan organisasi agar punya sistem SDM yang sehat, semua itu terasa semakin mendesak. Bukan karena aku hebat, tapi karena aku tahu, suatu hari nanti jasad ini akan kembali, dan hanya amal yang ikhlas yang akan tinggal. Setiap kelas, modul, dan buku yang kutulis kuharapkan menjadi benih amal jariyah yang terus hidup meski langkahku terhenti. Hilangnya uang satu miliar dan ratusan juta di masa lalu membuatku sadar: yang benar-benar “tinggal” bukan yang pernah kumiliki, tapi yang pernah kuinfakkan dan kubagikan.
Dalam doaku sekarang, aku jarang lagi meminta kekayaan besar atau proyek yang megah. Yang lebih sering kupinta adalah hati yang lapang, niat yang lurus, badan yang cukup sehat untuk beribadah dan berkarya, serta keluarga yang saling menguatkan di jalan Allah. Jika Allah mengizinkan ada rezeki lebih, aku ingin ia mengalir ringan: sebagian untuk kebutuhan, sebagian untuk bekal akhirat. Aku tidak ingin lagi memeluk harta terlalu erat, karena aku pernah merasakan betapa cepatnya ia bisa hilang. Yang ingin kupeluk lebih erat adalah kesempatan berbuat baik yang datang silih berganti, entah dalam bentuk mengajar, menolong, atau sekadar menjadi telinga yang mau mendengar.
Dan ketika aku menatap ke depan, aku tahu bahwa waktu tidak bisa diprediksi. Mungkin sepuluh tahun, mungkin lima, mungkin hanya beberapa kali pergantian Ramadhan. Tapi ketidakpastian itu justru mengajarkanku untuk berhenti menunda. Menunda taubat, menunda kebaikan, menunda rencana ibadah, menunda meminta maaf, semua itu kini terasa terlalu mahal risikonya. Usia emas bukan akhir cerita, tapi bab khusus yang ditulis dengan tinta yang lebih pekat: setiap pilihan terasa lebih bermakna, setiap kelalaian terasa lebih disayangkan. Aku ingin bab ini ditutup nanti dengan catatan: “Ia pernah jatuh berkali-kali, tapi ia juga berusaha bangkit berkali-kali, demi pulang kepada Rabb-nya dengan hati yang lebih bersih.”
Pada akhirnya, menjaga api di usia emas berarti terus menyalakan harapan dan kesungguhan, meski tubuh tak lagi sekuat dulu dan dompet pernah kosong berkali-kali. Aku ingin menghabiskan sisa hidup sebagai hamba yang sibuk memperbaiki, bukan sibuk menyesali. Sebagai suami dan ayah yang lebih tenang, lebih hangat, dan lebih peka. Sebagai anak yang terus mengirimkan doa untuk orang tua yang sudah tiada. Sebagai sahabat dan guru yang jujur menyampaikan bahwa jalan hidup tidak selalu lurus, tapi selalu bisa diarahkan kembali kepada Allah. Jika suatu hari nanti orang mengenangku, aku berharap bukan pada cerita tentang berapa banyak yang pernah kumiliki, tetapi tentang bagaimana aku belajar bangkit, menjaga api, dan tetap melangkah menuju ridha-Nya di usia yang disebut orang sebagai “emas”. []
