Sat. Apr 18th, 2026

Di sebuah desa kecil bernama Jepang, Mejobo, Kudus, hidup seorang anak laki-laki yang harinya dibagi menjadi dua dunia: seragam sekolah di pagi hari, dan bau rumput basah di sore hari. Sepulang sekolah, tas disandarkan begitu saja, lalu kaki bergegas ke sawah, memotong rumput untuk kambing dan sapi keluarga, memandikan ternak di pematang yang mulai gelap. Di malam hari, ketika anak-anak lain mungkin sudah terlelap, ia berjalan ke surau dengan penerangan obor sumbu, dan jika hujan turun, daun pisang menjadi payung sederhana di atas kepala kecilnya. Namun di balik semua kesederhanaan itu, di kelas ia hampir selalu berdiri di barisan juara, sering memenangkan lomba pidato anak-anak, seolah-olah Allah mengajarkan bahwa cahaya ilmu bisa tumbuh dari tempat yang paling sunyi sekalipun.

Malam-malam di desa itu diisi suara serangga dan lantunan ngaji, bukan suara mesin atau klakson. Setiap kali pulang dari surau, sandal basah oleh sisa lumpur, tangan menggenggam mushaf kecil yang mulai usang di tepinya. Sesekali, anak itu menengadah ke langit, melihat bintang berkerlip di antara reranting; ia belum tahu ke mana hidup akan membawanya, tapi ada rasa yang sulit dijelaskan: sebuah harapan samar bahwa dunia di luar desanya pasti lebih luas, dan ilmu adalah satu-satunya jembatan yang ia miliki. Di antara kambing, sapi, dan buku-buku sekolah yang tipis, diam-diam tumbuh tekad: tidak ingin selamanya hanya menjadi penonton, tetapi ingin suatu hari berdiri di depan banyak orang, berbicara, mengajar, dan berbagi.

Masa remaja membuka babak baru. Jarak desa ke sekolah menengah favorit di kota Kudus cukup jauh untuk ukuran seorang anak kampung, tapi itu tidak menghentikannya. Setiap pagi ia mengayuh sepeda menuju SMP terbaik di kota, melintasi jalan yang pelan-pelan berubah dari persawahan menjadi deretan toko dan rumah besar. Ketika ada kegiatan sore hari, ia memilih tidak pulang; waktu istirahat diisi dengan menyelinap ke perpustakaan sekolah, menyusuri rak-rak buku yang seolah tak ada habisnya. Di situ ia menemukan dunia lain: cerita tokoh-tokoh besar, ilmu pengetahuan, dan gagasan-gagasan baru yang menyalakan api di dalam dada. Di antara tumpukan buku itu, rasa minder sebagai “anak desa” perlahan runtuh, diganti keyakinan bahwa yang membedakan hanyalah seberapa jauh seseorang mau belajar.

Perjalanan berikutnya membawanya ke kota yang belum pernah ia jejak: Semarang. STM menjadi pilihannya, bukan karena tampak bergengsi, melainkan karena harapan sederhana: setelah lulus, bisa langsung bekerja dan meringankan beban orang tua. Saat pertama kali menginjakkan kaki di sana, ia merasa persis seperti orang kampung yang masuk kota besar—kagok, canggung, dan sering salah arah. Tapi hari demi hari, ia belajar menaklukkan rasa asing itu dengan cara yang sama seperti dulu menaklukkan sawah dan jalan berlumpur: dengan tekun. Tugas-tugas diselesaikan, praktik dijalani, dan di balik semua kelelahan, Allah menghadiahkannya predikat lulusan terbaik. Dari sana, sebuah pintu besar terbuka: kesempatan mengikuti seleksi kerja dari sekolah yang akhirnya mengantarkannya ke PT Indosat Ooredoo.

Masuk ke Indosat berarti masuk ke jantung ibu kota: Jakarta, dengan gedung-gedung tinggi dan Monas yang berdiri megah tak jauh dari kantor pusat tempat ia ditempatkan. Untuk seorang anak desa Jepang, berdiri di lobi kantor besar dengan logo perusahaan nasional terasa seperti mimpi yang terlalu berani. Di sana ia menjalani pendidikan intensif, kembali terpilih sebagai salah satu lulusan terbaik, dan kemudian mendapat penugasan khusus: pindah ke Batam, sebuah kota yang bersebelahan langsung dengan Singapura. Dari sawah berlumpur ke kota industri, dari obor sumbu ke pendar lampu-lampu pelabuhan internasional—semua terjadi karena serangkaian langkah kecil yang dulu dimulai dari perpustakaan sekolah dan surau di kampung.

Karier terus bergulir. Di Batam dan kemudian di berbagai posisi, ia belajar banyak: mengikuti training, mengelola tim, menyelami dunia SDM, pelayanan, dan manajemen. Setiap program pelatihan yang diikutinya diam-diam mencetak satu impian baru: suatu hari, ia ingin berada di sisi lain ruangan—bukan sebagai peserta, tetapi sebagai trainer yang merancang materi dan menyentuh hati orang lain. Ketika program pensiun muda dibuka, ia mengambil keputusan berani: berhenti sebelum usia 40 tahun, meninggalkan zona nyaman gaji tetap dan fasilitas mentereng, lalu beralih mendirikan lembaga pelatihan sendiri. Keputusan itu tidak ringan, tetapi ada keyakinan lembut di dalam hati: Allah tidak membawa seseorang sejauh ini hanya untuk dibiarkan berhenti di tengah jalan.

Langkah baru itu membawanya ke ruang-ruang pelatihan di berbagai kota. Ia mulai mengembangkan program seperti HR for School, Leadership dan Managerial, hingga Hearty Service in Education, khusus untuk lembaga pendidikan. Dari satu kelas ke kelas lain, ia berkeliling Indonesia, memasuki kampus-kampus, sekolah, pesantren, dan organisasi yang beragam. Setiap kali berdiri di depan peserta, ia seolah melihat bayangan dirinya yang dulu: anak kampung yang lapar ilmu, yang butuh seseorang untuk menyalakan kembali harapan. Kadang, setelah sesi selesai dan peserta bertepuk tangan, ia tertegun sebentar—mengingat masa kecil ketika ia memandikan sapi di sungai, sambil tak pernah membayangkan suatu hari akan mengajar para pemimpin sekolah dan profesional di ruang ber-AC.

Perjalanan itu tidak berhenti di batas negara. Melalui jaringan lembaga pendidikan dan berbagai kerja sama, ia memiliki kesempatan berbicara di forum-forum internasional, mengunjungi beberapa negara untuk mengajar dan belajar. Setiap kali menjejak bandara asing, memegang paspor dengan namanya sendiri, ia selalu teringat obor sumbu dan payung daun pisang di masa kecil. Dalam hati, ia sering berbisik: “Jika bukan karena doa bapak dan ibu, mustahil anak gembala ini bisa sampai ke sini.” Sulit rasanya memisahkan kisah sukses dari nama-nama orang yang diam-diam menjadi tiang penopang; terutama istri dan anak-anak yang mengikhlaskan ia sering pergi, serta keluarga yang sejak awal percaya pada langkah-langkahnya.

Namun, jalan menuju ruang-ruang pelatihan itu tidak selalu mulus. Ada masa-masa ketika mencari klien terasa seperti mengetuk pintu tanpa henti, dan banyak yang tidak langsung terbuka. Presentasi yang disusun rapi kadang tidak berujung kontrak, penawaran pelatihan seringkali hanya berbalas, “Nanti kami pertimbangkan.” Ada pula sesi pelatihan yang menurutnya gagal: materi kurang mengena, peserta tampak datar, dan ia pulang dengan perasaan kalah. Di titik-titik itu, ia belajar kembali menjadi murid—mengikuti Trainer Mentoring Program, memperkuat cara menyusun materi, dan mengasah teknik powerful delivery agar setiap kata lebih bernyawa.

Bergabung dengan komunitas seperti Akademi Trainer memberinya rumah baru: tempat bertemu orang-orang yang punya panggilan serupa, saling mengkritik dengan cara yang sehat, dan saling menguatkan saat jadwal training sedang sepi. Di komunitas itu, ia tidak lagi merasa sendirian berjuang; ada banyak cerita jatuh bangun yang senada, banyak tawa yang menyamarkan lelah, banyak ide yang melahirkan kolaborasi. Bagi dia, menjadi trainer bukan lagi sekadar profesi, tetapi jalan hidup: perpaduan antara ibadah, dakwah, dan usaha menebar manfaat seluas-luasnya. Di setiap forum, ia membawa serta jejak desa Jepang—sebuah pengingat bahwa ketinggian panggung tidak boleh membuatnya lupa pada kerendahan tanah tempat ia memulai.

Di antara jadwal mengajar, menulis buku menjadi cara lain baginya untuk mengabadikan ilmu dan pengalaman. Buku-buku tentang SDM, kepemimpinan, dan pengembangan diri ia tulis sebagai warisan pemikiran, agar tetap hidup meski ia tidak selalu hadir di kelas. Setiap halaman yang rampung seolah menjadi sambungan dari cerita hidupnya: dari halaman sawah ke halaman buku, dari suara kambing di kandang ke suara peserta yang sedang berdiskusi. Ia belajar bahwa kata-kata yang ditulis dengan niat baik bisa menempuh perjalanan yang jauh melampaui langkah fisik penulisnya.

Di usia emas ini, ketika sebagian teman sebaya mulai melambat, ia justru merasa api di dadanya belum padam. Ada satu mimpi yang terus dijaga: memiliki sebuah learning centre sendiri, sebuah pusat pembelajaran bagi para manajer SDM dari berbagai industri, tempat para praktisi HR dari seluruh dunia bisa datang belajar dan berbagi. Ia membayangkan gedung yang mungkin tidak perlu terlalu megah, tapi hangat; ruang-ruang kelas yang penuh diskusi, perpustakaan kecil, dan sudut-sudut doa yang tenang. Di sana, ia ingin menjadikan seluruh perjalanan hidup—dari desa Jepang hingga berbagai negara—sebagai bahan bakar untuk menyalakan semangat generasi baru.

Baginya, mimpi itu bukan soal nama lembaga atau besar kecilnya bisnis, tetapi tentang meninggalkan jejak yang lebih panjang dari umur. Ia ingin kelak, setelah ia tidak lagi sanggup berdiri lama di depan kelas, ada murid-murid yang meneruskan semangat yang sama: mengelola SDM dengan hati, memimpin dengan akhlak, dan memandang manusia bukan sekadar “resource”, tetapi amanah Allah. Dalam doa-doa malamnya, ia sering memohon agar Allah mengizinkan impian learning centre itu menjadi kenyataan, atau minimal mencatat kesungguhannya sebagai amal yang bernilai di sisi-Nya.

Ketika sesekali pulang ke desa Jepang, melewati sawah dan surau masa kecilnya, ia sering berhenti sejenak. Di sana, ia melihat diri kecilnya sedang mengangkat rumput, memandikan sapi, dan berjalan ke surau di bawah rintik hujan. Lalu ia melihat dirinya yang sekarang: membawa laptop, slide presentasi, dan buku-buku yang ia tulis sendiri. Dua gambar itu berdiri berdampingan dalam benaknya, membuat matanya hangat. Ia tahu, garis lurus di antara keduanya bukan hasil kecerdasan atau keberaniannya semata, melainkan rangkaian doa orang tua, dukungan istri dan anak-anak, sahabat, dan tentu saja rahmat Allah yang tak pernah putus.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika ia berdiri di depan peserta training terakhir dalam hidupnya, ia akan membuka cerita bukan dari gelar dan portofolio, tetapi dari kisah seorang anak desa yang menggembala kambing dan sapi, mengaji dengan obor, lalu pelan-pelan berjalan menuju ruang-ruang pelatihan di berbagai penjuru. Karena di balik semua pencapaian, ia ingin orang mengerti satu hal: bahwa tidak ada jarak yang terlalu jauh bagi Allah untuk mengangkat derajat hamba-Nya, selama hamba itu terus berjalan, belajar, dan bersujud di setiap tikungan jalan hidupnya. []

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *