Sat. Apr 18th, 2026

Tahun 2025 terasa seperti tahun yang menulis dirinya sendiri di atas hati, dengan tinta yang kadang hangat, kadang perih. Di satu sisi, tahun ini datang membawa amanah baru: sebuah jabatan direktur di sekolah Islam, yang sejak awal tampak seperti ladang luas untuk menanam amal dan dakwah. Di sisi lain, tahun ini juga datang dengan ujian yang berlapis-lapis: fitnah, sakit, ketakutan, juga kecelakaan yang nyaris merenggut nyawa. Seakan-akan Allah ingin berkata pelan, “Engkau sungguh-sungguh ingin naik derajat? Maka bersiaplah melewati tangga yang tidak selalu empuk.”

Ketika amanah itu datang—memimpin sebuah lembaga pendidikan Islam—hati dipenuhi harapan. “Di sini aku bisa berbuat lebih banyak untuk umat, untuk generasi,” begitu kira-kira bisikan optimisme di awal. Program-program kebaikan disusun, sistem diperbaiki, langkah-langkah perbaikan dicoba dijalankan. Namun realitas di lapangan tidak selalu hangat menyambut. Penolakan datang, bukan dari mereka yang jauh, tetapi justru dari yang paling dekat: program dakwah dicurigai, kebijakan yang konstitusional dianggap kedzaliman, bahkan tuduhan-tuduhan menyakitkan pun ikut beredar—korupsi, anggota organisasi terlarang, pemimpin yang zalim kepada bawahan. Padahal di dalam hati, yang dibawa hanya niat memperbaiki, bukan memperkaya diri.

Ada malam-malam ketika semua itu terasa menyesakkan. Di satu sisi, keyakinan bahwa yang dilakukan sudah sesuai aturan dan bukti. Di sisi lain, suara-suara miring yang terus bergema, seakan menolak memberi kesempatan untuk menjelaskan. Dalam sepi, doa menjadi satu-satunya ruang bicara yang jujur. “Ya Allah, jika aku salah, tunjukkan; jika aku benar, kuatkan.” Di titik inilah seseorang belajar bahwa fitnah kadang datang bukan sebagai tanda ia buruk, tapi sebagai ujian apakah ia akan tetap berbuat baik meski disalahpahami.

Belum selesai dengan itu, awal tahun juga dibuka dengan ujian lain: sakit yang memaksa langkah berhenti. Ada sesuatu di leher yang harus diangkat melalui operasi; prosedur medis yang bukan hanya menguji fisik, tetapi juga mental. Ruang perawatan yang dingin, suara monitor yang berulang, dan perih yang menjalar setelah operasi menjadi pengingat keras bahwa tubuh ini rapuh. Di saat seperti itu, ayat “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan” terasa sangat dekat, bukan lagi sekadar teks di mushaf.

Namun Allah tidak pernah mengirim satu jenis ujian saja. Di sela-sela rasa sakit dan fitnah, 2025 juga menghamparkan karpet-karpet pengalaman indah di ruang-ruang pelatihan. Bukittinggi, Padang, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jabodetabek—satu per satu kota menjadi saksi bagaimana ilmu dibagikan, senyum ditukar, dan jaringan persaudaraan diperluas. Setiap kelas menghadirkan wajah-wajah baru, cerita-cerita baru, dan rasa syukur yang baru. Di akhir tahun, sebuah kelas internasional bahkan menjadi panggung yang menguatkan posisi sebagai expert di bidang HR; seolah Allah ingin berbisik, “Lihat, di balik fitnah, Aku masih bukakan pintu-pintu penghormatan.”

Lalu, di titik yang lain, Allah mengirimkan jenis kebaikan yang berbeda: kebaikan berupa orang-orang baik. Saat tubuh lemah dan biaya pengobatan menggunung, sahabat-sahabat lama tiba-tiba muncul seperti bintang di malam gelap. Teman organisasi, teman alumni, rekan kerja, satu per satu dan juga berkelompok datang membawa simpati, dukungan, dan amplop yang bukan hanya berisi materi, tetapi juga rasa sayang. “Cepat sembuh, Mas, kami ingin terus mendapat inspirasi darimu. Kamu ditunggu banyak orang di sekeliling kita,” kata seorang sahabat yang datang khusus dari kesibukannya sebagai direktur perusahaan besar, sambil menyelipkan amplop yang isinya di luar dugaan. Di situ, air mata bukan lagi tanda lemah, tetapi tanda bahwa hati menyadari: ternyata Allah mengirim cintanya lewat tangan-tangan manusia.

Tidak berhenti di situ, ada pula seorang sahabat lama yang rela melakukan sesuatu yang mungkin tidak akan terlupa seumur hidup: menyerahkan rumahnya untuk ditempati bersama keluarga, tanpa diminta sepeser pun bayaran. “Tinggali saja dulu, tidak usah pikirkan uang. Yang penting panjenengan dan keluarga tenang,” kira-kira begitu sikapnya. Kalimat sederhana, tetapi bobotnya seperti memindahkan gunung dari pundak. Di zaman yang sering disebut penuh kepentingan, ternyata masih ada orang yang memberi bukan karena berlebih, tetapi karena berhati lapang.

Dan di ujung tahun, ketika seharusnya hari-hari diisi dengan syukur atas semua yang berlalu, sebuah musibah lain mengetuk: mobil yang ditumpangi keluarga terperosok ke jurang di lereng pegunungan Muria. Dentuman, panik, dan detik-detik yang terasa panjang menyisakan syok sekaligus syukur: masih diberi kesempatan hidup. Di tengah kekacauan itu, sekali lagi dunia memperlihatkan wajah terbaiknya: orang-orang yang tidak dikenal bergegas menolong, mengevakuasi kendaraan, memastikan semua selamat.

Yang lebih menggetarkan, ketika tawaran imbalan diajukan, mereka menolak dengan senyum. “Sudah, Pak, kami hanya ingin membantu,” kata mereka, seolah-olah kebaikan memang hal paling wajar dilakukan. Bahkan pemilik kebun yang pagar dan tanamannya rusak diterjang mobil pun ikut membantu tanpa menyebut sedikit pun soal ganti rugi. Di situ, hati tidak hanya terharu, tetapi juga tersentak: selama ini mungkin terlalu sering mendengar berita tentang keburukan manusia, sampai lupa bahwa di lapangan, masih banyak orang yang hatinya sangat baik.

Dari seluruh rangkaian 2025—fitnah, sakit, pelatihan, bantuan teman, hingga kecelakaan—muncul satu benang merah yang sulit diabaikan: Allah sedang mengajarkan bahwa hidup tidak pernah hitam-putih. Di satu sisi, ada orang-orang yang menyakiti tanpa alasan yang kita pahami. Di sisi lain, ada orang-orang yang membantu tanpa pamrih yang bisa kita balas. Di satu titik, kita merasa sangat lemah dan sendirian. Di titik yang lain, kita disadarkan bahwa ternyata kita dikelilingi oleh begitu banyak kasih sayang.

Refleksi tahun ini akhirnya membawa pada satu kalimat sederhana: dunia ini masih dipenuhi orang baik, dan di atas semua itu ada Tuhan yang Maha Baik. Fitnah mengajarkan bagaimana bersandar hanya kepada-Nya, sakit mengajarkan bagaimana menghargai sehat, pelatihan mengajarkan bagaimana terus bermanfaat, dan kebaikan orang-orang mengajarkan bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan sendirian. Ujian dan nikmat datang bergantian, tapi keduanya sama-sama mengandung pesan: “Jangan jauh dari-Ku, jangan berhenti berbuat baik.”

Menyongsong 2026, mungkin tidak ada jaminan bahwa semua akan menjadi lebih mudah. Fitnah bisa saja datang lagi, sakit bisa saja berkunjung lagi, dan kecelakaan bisa saja terjadi di jalan yang lain. Tapi 2025 sudah membekali satu keyakinan: selama masih ada niat untuk lurus di hadapan Allah, menjaga amanah, dan terus menebar manfaat, maka selalu akan ada orang-orang baik yang Allah kirim di titik-titik paling genting. Tugas kita hanya satu: menjaga hati agar tetap bersyukur saat diangkat, tetap sabar saat diuji, dan tetap percaya bahwa setiap detik yang kita jalani—pahit maupun manis—tidak pernah sia-sia di sisi-Nya. []

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *