Fri. Apr 17th, 2026
Ekspedisi Sei Ladi

Bulan Februari adalah Bulan Konsolidasi bagi Batam Adventure Club, dan di tengah gemuruh mesin industri Batamindo, kami memilih untuk kembali ke tempat di mana jiwa kami merasa paling tenang: rimba. Ekspedisi kali ini, kami beri tajuk “Dari Kegelapan Menuju Terang” (minadzdzulumati ilannuur), sebuah perjalanan fisik dan spiritual dari Sei Ladi menuju Simpang Dam Muka Kuning. Intinya sederhana: kami ingin meninggalkan sejenak kebisingan dunia, menafakuri ayat-ayat Allah yang terbentang luas, dan merasakan Keagungan Pencipta di dalam sunyi.

Ekspedisi ini dimulai dari tempat yang kontras dengan tujuan kami: halaman masjid yang megah dan baru selesai dibangun di kawasan elit Bukit Indah Sukajadi. Siang itu, delapan pemuda berseragam biru adventure, lengkap dengan slayer dan carrier besar, saling mengecek perlengkapan. Komandan, Akh Anto, terlihat teliti menginventarisasi peta kontur, kompas, parang, obat-obatan, hingga tali temali. Persiapan ini bukan hanya tentang survival, tetapi tentang pertanggungjawaban terhadap diri sendiri dan tim.

Setelah salat Asar berjamaah—yang sempat membuat terkejut Ustadz Rifai karena melihat jemaah mendadak berganti seragam pecinta alam—kami berkumpul melingkar. Komandan memberikan taujih singkat, sebuah suntikan spiritual sebelum kami benar-benar terputus dari dunia luar. Setelah berpose di depan masjid yang sepi, kami memulai short march sejauh lima kilometer menuju Jembatan Sei Ladi.

Perjalanan kaki di tengah panas sore hari, diapit asap kendaraan yang menusuk hidung, terasa seperti ujian kesabaran pertama. Kami tidak asing dengan long march, tetapi ada catatan haru dari perjalanan ini: pandangan aneh dan terheran-heran dari pengendara mobil mewah di jalanan, seolah kami adalah makhluk asing yang salah tempat. Kami hanya tersenyum, menyadari bahwa perjalanan menuju kebenaran dan keikhlasan seringkali tampak aneh di mata dunia.

Sesampainya di Jembatan Sei Ladi, sebuah pemandangan menghangatkan hati menyambut kami. Di pinggir jembatan, duduk seorang diri seorang anggota tim kami, ia mengenakan pakaian cokelat khas petualang. Ia adalah teman yang tidak bisa bergabung dari awal karena pekerjaannya. Ia duduk di sana, menyantap nasi bungkus dengan lahap, baru sempat makan beberapa suap setelah mengejar kami setengah mati. Senyum tulus dan sapaan hangatnya menjadi sambutan terbaik. Ia mengajarkan kami bahwa persaudaraan sejati akan selalu menemukan cara untuk berkumpul, bahkan jika harus berjuang melawan waktu dan rasa lapar.

Perjalanan sesungguhnya dimulai setelah tim instruktur bergabung dan kami memasuki hutan. Kami diberi kode angka sebagai nama panggilan dan meneriakkan takbir bersama sebelum melangkah ke dalam belantara Sei Ladi. Melewati bukit, menuruni lembah, melintasi sungai—setiap langkah mengingatkan kami pada perjalanan BAC sebelumnya. Jutaan pikiran dan harapan menggelayuti, seiring dengan tangan yang saling menggandeng membantu melompati parit. Di sinilah ukhuwah kami diuji dan dikuatkan.

Tepat saat maghrib tiba, kami mencapai camping ground di pinggir sungai yang airnya jernih. Sungai itu terlihat tenang, namun menjanjikan ketenangan. Komandan menginstruksikan berhenti. Tidak butuh waktu lama; dalam kesunyian hutan, kami berwudu di balik bebatuan cadas, lalu terbenam dalam kekhusyukan salat Maghrib berjamaah. Setelah bersujud di atas hamparan pasir panas Setoko, kini kami bersujud di tepi sungai yang damai, larut dalam ketundukan kepada kekuasaan Ilahi Rabbi.

Aktivitas selanjutnya berlangsung cepat. Bivak terbuat dari terpal didirikan, api dinyalakan, dan makan malam seadanya disiapkan. Hujan mulai turun rintik-rintik, seolah alam ikut memberi restu. Setelah salat Isya, kami bersiap untuk istirahat singkat, karena perjalanan esok menuntut stamina penuh. Kami semua diperintahkan berganti pakaian kering untuk menjaga suhu tubuh.

Namun, malam itu alam berkehendak lain. Hujan deras turun tanpa ampun. Tenda yang dibuat untuk sembilan orang terasa sangat sempit. Kami harus tidur berhimpit-himpitan, sebuah ujian persaudaraan yang lucu dan mengharukan. Ada yang rela tubuhnya jadi bantal, ada yang kakinya pasrah terkena rembesan air hujan di ujung tenda. Dalam kedinginan yang menusuk, kami mengeratkan jaket dan berbagi selimut, merasakan kehangatan yang hanya bisa didapat dari ikatan ukhuwah.

Rencana Qiyamul Lail terpaksa dibatalkan karena hujan yang terlampau lebat. Namun, kami tersentak dari tidur singkat oleh sebuah momen yang membuat kami tegang sekaligus sedikit geli. Salah seorang teman tiba-tiba terbangun dan mengibaskan bahunya sambil berteriak, “Ada makhluk! Ada makhluk!” Ia bersumpah ada makhluk hitam, lebih besar dari tikus dan lebih kecil dari anjing, hinggap di pundaknya, mengendus telinganya, dan menggerogoti jaketnya. Kami semua terbangun, dan keesokan paginya, beberapa makanan di pinggir tenda raib—bukti bahwa petualangan kami tidak sendirian.

Pagi harinya, setelah salat Subuh dan membaca Al-Ma’tsurat bersama, energi baru menyelimuti. Semua bersiap, mengemas bekal dalam plastik kedap air, karena tantangan utama menanti: mengarungi arus sungai. Perjalanan dilanjutkan melawan arus. Ketinggian air 1-2 meter dan arusnya cukup deras. Satu per satu, kami melemparkan tas ke tengah sungai sebagai pelampung dan terjun menyusul.

Selama 45 menit menyusuri sungai, energi terkuras habis. Bebatuan licin di dasar sungai dan arus yang kuat membuat satu dua orang sempat terseret. Kami harus berpegangan pada tanaman di tepi, berjuang melewati pohon tumbang dengan menyelam. Ini adalah pelajaran nyata: untuk maju, kita harus melawan arus dan bersatu dalam satu komando. Kami mengakhiri tantangan air ini dengan menyeberangi sungai sedalam 2–3 meter menggunakan tali, yang berhasil dilalui dengan selamat.

Perjalanan dilanjutkan dengan tantangan mountaineering, di mana kami harus mengandalkan kompas dan peta kontur, menaiki bukit dan menuruni lembah yang licin. Setelah dua jam energi terkuras, akhirnya, dari puncak bukit yang terbuka, pemandangan Simpang Dam, gedung-gedung Batamindo, dan Dam Muka Kuning terhampar di hadapan kami. Senang rasanya melihat terang setelah berjam-jam berada dalam kegelapan rimba.

Setelah menunaikan salat Zuhur berjamaah di tepi danau kecil—tempat air segar membasuh wajah dan jiwa kami—perjalanan fisik berakhir. Kami mengakhiri ekspedisi “Dari Kegelapan Menuju Terang” dengan rasa syukur yang meluap. Dan sebagai penutup yang paling nikmat, setelah menyusuri pinggiran dam, kami singgah di warung Padang. Menikmati pedasnya sambal di tengah kehangatan persaudaraan, setelah dua hari kedinginan di hutan, adalah nikmat yang tak terkira. Hikmah dan pelajaran berharga menemani setiap suapan: betapa luasnya Kerajaan Allah, dan betapa besar nikmat persaudaraan yang Dia anugerahkan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *