Ini cerita cinta dari Simpang Lima, saat itu masih proses tes seleksi masuk Indosat, menyelesaikan Tugas akhir (TA) serta ujian kelulusan.
Pertengahan tahun 1995, di jantung Kota Semarang, ada sebuah rumah sederhana yang menjadi persinggahan bagi puluhan mimpi anak muda: Rumah Kos Bu Suryo. Kami adalah para pencari ilmu dari STM Pembangunan dan STM lainnya, datang dari berbagai penjuru, membawa harapan besar keluarga yang sebagian besar dari latar belakang sederhana. Di kamar-kamar sempit itulah, kami menemukan lebih dari sekadar tempat tidur; kami menemukan sebuah keluarga dan kelas kehidupan yang sesungguhnya.
Di kos itu, terjalin kisah cinta remaja Santoso kepada anak tetangga, kelakar Sutris yang selalu menjadi penghangat suasana, hingga pesona Bambang yang membuat banyak gadis seumuran terpesona. Kami belajar tentang kesetiakawanan—saling meminjam uang saku di akhir bulan, saling menjaga motor butut, dan yang terpenting, saling mengingatkan untuk menyelesaikan pendidikan sebagai satu-satunya jalan mengubah nasib keluarga di kampung.
Namun, yang paling unik di kos kami adalah keberagaman dalam harmoni. Kami, anak-anak kos, semuanya Muslim, sementara pemilik rumah, Bu Suryo, adalah seorang Katolik yang taat. Perbedaan iman yang mendasar itu ternyata tidak menciptakan sekat, melainkan jembatan kebaikan yang kokoh. Bu Suryo tak pernah absen mengingatkan kewajiban kami. Jika waktu Subuh tiba, suara ketukan pintu dari beliau selalu terdengar, “Ayo, Le, Subuh! Jangan sampai kesiangan!”
Kebaikan Bu Suryo mencapai puncaknya saat bulan Ramadhan tiba. Setiap menjelang imsak, aroma masakan dari dapur Bu Suryo sudah tercium. Beliau memasak untuk sahur kami, memastikan perut kami terisi sebelum berpuasa seharian. Saat azan maghrib berkumandang, beliau pula yang menyiapkan air teh hangat dan takjil sederhana. Di tengah kesibukan mengurus rumah, pengorbanan beliau yang berbeda keyakinan ini terasa begitu mengharukan. Ia mengajarkan kami, tanpa perlu kata-kata, bahwa iman sejati adalah tentang memuliakan manusia tanpa memandang latar belakang.
Di tengah-tengah kesibukan dan kebaikan itu, ada juga sosok seperti Edi, teman kos dari rumah tetangga, yang selalu membawa setumpuk buku tebal dan mengajak kami belajar kelompok. Namun, niat itu hampir tidak pernah berhasil. Buku-buku tebalnya hanya menjadi alas kartu remi, atau kami habiskan malam dengan menonton berita olahraga dan drama televisi. Walau begitu, semangat kebersamaan itulah yang membuat kami tetap bertahan.
Menjelang akhir tahun sekolah, ketegangan mulai terasa. Semua sibuk dengan Tugas Akhir (TA) sebagai syarat kelulusan. Santoso, Bambang, dan yang lain begadang, berjuang di depan mesin ketik. Namun, ada satu nama yang terlupa dalam hiruk pikuk itu: Edi. Tiba-tiba, guru wali kelas saya menelepon, suaranya cemas. “Tolong kejar Edi! Dia belum mengerjakan sama sekali! Kamu harus bantu dia, kalau tidak, dia tidak bisa lulus!”
Mendengar kabar itu, semangat persahabatan kami bangkit. Kami tahu Edi sebenarnya pintar, hanya saja ia terlalu santai. Kami menghentikan sejenak semua kegiatan kami, termasuk ajakan main kartu Edi. Dibawah tekanan waktu, kami membajak Edi: kami buatkan kerangka, kami paksa dia menulis, dan kami bergantian begadang, memastikan setiap babnya selesai. Ini bukan lagi urusan Tugas Akhir, ini adalah proyek solidaritas demi memastikan satu saudara sepersusuan kami di kosan tidak tertinggal.
Momen kelulusan menjadi puncak kebahagiaan. Kami semua berhasil, termasuk Edi yang diselamatkan pada menit terakhir. Pelukan haru, tawa, dan janji untuk bertemu lagi mengiringi perpisahan kami. Momen itu mengajarkan bahwa di tengah kerasnya dunia pendidikan dan persaingan, kesetiakawanan adalah kunci untuk melewati badai.
Tiga puluh tahun berlalu, dan kini kami sudah menyebar. Santoso mungkin sudah menjadi ayah yang bijak, Sutris masih dengan selera humornya, dan Edi, kami harap ia tidak lagi menunda-nunda pekerjaan penting. Kami telah menjalani hidup yang berbeda, tetapi kenangan di Kos Bu Suryo tak pernah pudar. Rumah kontrakan sederhana itu telah mengajarkan kami tentang nilai-nilai abadi: toleransi yang tulus, persahabatan yang tak terhingga, dan makna cinta tanpa syarat dari seorang ibu kos yang berbeda keyakinan, yang mengajarkan kami arti sebenarnya dari sebuah keluarga.[]
