Batam, 1999.
Malam itu, telepon dari Om Slank mengubah segala rencana. Suaranya terdengar cemas. Mas Siswo sakit, muntah-muntah hebat, dan badannya lunglai. Biasanya aku pulang menjelang malam, tapi panggilan darurat itu membuatku segera memacu sepeda motor ke rumah di kawasan Batam Centre. Aku hanya sempat menitip pesan di meja Budi yang masih di lapangan.
Sesampainya di rumah, aku mendapati Mas Siswo sedang dipijat oleh Om Slank, namun kondisinya sangat lemah. Kekhawatiran segera mengambil alih. Kami harus membawanya ke rumah sakit. Dengan meminjam mobil Pak Suryo, kami bergegas menuju Rumah Sakit Harapan Bunda.
Di ruang registrasi, senyum hangat perawat menyambut kami. Tak lama kemudian, dokter memanggil kami. Diagnosisnya jelas: Malaria. Mas Siswo harus segera dirawat inap. Setelah mendapatkan kamar, aku meminta Om Slank pulang mengambil pakaian dan segera kembali naik motor. Malam itu, kami berdua, yang hanya sahabat serumah, menjadi keluarga yang berjaga.
Hampir dua minggu Mas Siswo dirawat di Ruang Mawar II. Ruangan kelas dua itu berisi empat pasien. Rata-rata pasien hanya bertahan dua atau tiga hari, lalu pulang. Hanya Mas Siswo dan satu pasien lagi, seorang gadis muda bernama Hartini, yang bertahan cukup lama.
Hartini, karyawan PT Astra, terbaring sakit tipus di sebelah Mas Siswo. Usianya sekitar 20 tahun, dan belum genap setahun merantau di Batam. Kesamaan nasib sebagai perantau yang sakit membuat kami dan para penunggunya menjadi akrab.
Hartini ditunggui secara bergantian oleh dua belas teman se-dormitorinya di Blok R Lantai 3, kawasan Batamindo. Mereka semua adalah rekrutan satu angkatan dari Jogja. Mereka menjaganya sesuai jadwal shift kerja mereka. Sementara kami, aku dan Om Slank, bergantian menginap setiap malam. Budi sesekali datang, tapi jarang bermalam.
Kamar Mawar II yang dingin itu perlahan berubah menjadi ruang kehangatan persaudaraan. Kami menjadi kenal semua anggota rumahnya: Rani, Susi, Ratih, Fitri, Wulan, Siti, dan Dewi. Kami memanggil mereka ‘adik-adik’ dengan panggilan Jawa yang khas seperti Nok atau Nduk, karena usia mereka memang jauh lebih muda dari kami.
Mereka tak hanya akrab, tapi juga menunjukkan Cinta Persaudaraan yang tulus. Rani, terutama, paling sering membawakan makanan. Bukan hanya untuk Hartini, tetapi juga untuk kami. Kadang bubur untuk Mas Siswo, kadang nasi goreng atau nasi gudeg untuk Om Slank dan aku.
Pernah suatu hari Mas Siswo menolak makanan rumah sakit, mual dan muntah lagi. Melihat hal itu, Rani segera berjanji, “Besok akan saya bawakan bubur buatan rumah saja, Mas.” Dan benar, esoknya Rani datang membawa bubur istimewa untuk Mas Siswo, lengkap dengan nasi gudeg untuk kami. Kebersamaan ini terasa seperti keluarga yang sebenarnya di tengah kota yang serba asing.
Di hari keenam, Mas Siswo dipindahkan ke Ruang Mawar I, kamar kelas satu yang lebih lega. Di kamar sebelah, ada Fitri yang sedang bertugas menjaga Hartini. Malam itu adalah malam terakhir Hartini dirawat karena besok ia sudah diizinkan pulang.
Sebelum kepulangan mereka, kami sempat mengobrol panjang di koridor. Mereka berjanji akan sering menjenguk Mas Siswo sampai sembuh, dan dengan tulus mengundang kami mampir ke dormitori mereka di Blok R.
Janji itu ditepati. Hingga Hartini sembuh dan pulang, adik-adik Blok R ini hampir setiap hari datang menjenguk kami. Setelah Mas Siswo diperbolehkan pulang, keakraban kami pun berlanjut ke Blok R.
Kami sering datang ke sana, biasanya bertiga. Kedatangan kami selalu disambut hangat. Biasanya, kami datang di awal bulan—setelah gajian—membawa sedikit oleh-oleh. Mereka akan membalasnya dengan masakan sederhana yang istimewa, seperti sayur asam, soto, atau gudeg yang lezat.
Di sana, di antara obrolan tentang pekerjaan dan saling menitip oleh-oleh ke kampung, tercipta ikatan yang tak ternilai. Mereka adalah adik-adik kami yang berjuang di Batam. Kami adalah abang mereka, yang menawarkan telinga dan semangat.
Sayang, Badai Perpisahan kembali datang. Kontrak mereka tidak diperpanjang. Hanya 1,5 tahun mengabdi sebagai operator mesin di PT AIT, mereka memutuskan untuk kembali ke kampung halaman, dekat dengan orang tua dan keluarga di Jogja.
Sejak saat itu, kami kehilangan kontak. Ruang Mawar II telah menjadi saksi bisu, bukan hanya atas kesembuhan Mas Siswo dan Hartini, tetapi juga atas lahirnya persaudaraan yang indah. Kenangan akan Rani, Fitri, Susi, dan yang lainnya, dengan bubur buatan rumah dan tawa di koridor rumah sakit, selalu menjadi nostalgia yang menghangatkan hati.
Meskipun jarak kini memisahkan kami, Cinta dan Kesetiakawanan yang terjalin di ruang karantina itu tetap abadi. Mereka adalah anugerah terindah yang kami temukan di tanah rantau Batam. []
