Tahun 2014. Saya mendapat kehormatan mendampingi ibu mertua menjalankan ibadah Umroh. Rombongan kami kecil, hanya sekitar 20 orang. Namun, ini adalah rombongan yang istimewa, sebuah miniatur keberagaman yang sengaja Allah hadirkan di Tanah Suci.
Di antara kami, ada dua orang yang berkebutuhan khusus, beberapa orang tua yang sudah sepuh, dan hanya segelintir yang tergolong usia “fit.” Sejak awal, kami tahu perjalanan ini akan penuh tantangan, namun sekaligus sarat makna.
Jalinan kekeluargaan terjalin begitu kuat. Kami tidak hanya berbagi kamar, kami berbagi beban. Saling bantu, saling dukung, dan saling menanggung adalah mantra harian kami.
Di Madinah dan Mekah, kami menyewa satu lantai hotel. Lantai itu menjadi rumah bersama kami di perantauan.
Pernah terjadi insiden yang tak terduga: salah seorang yang berkebutuhan khusus mengalami kejadian yang menimbulkan aroma kurang sedap di lantai hotel. Tanpa perlu diinstruksikan, kami segera bahu-membahu.
Bahu kami membersihkan, tangan kami merapikan, dan hati kami menguatkan. Di tengah kelelahan ibadah, kami menunjukkan arti Persaudaraan Sejati, bahwa kami menanggung beban satu sama lain tanpa rasa jijik atau sungkan. Itu adalah ujian ukhuwah yang kami lewati dengan cinta.
Namun, di tengah kisah kolektif ini, ada satu sosok yang paling berkesan dan menyimpan rahasia spiritual: Bu Kartika, seorang karyawan bank konvensional di Solo, Jawa Tengah.
Sejak kami tiba di Madinah, keajaiban demi keajaiban mulai terjadi, dan semuanya berkaitan dengan ucapan Bu Kartika.
Setibanya di Mekah setelah perjalanan panjang dari Madinah, di tengah suasana gurun yang gersang, Bu Kartika berucap santai, namun didengar oleh semua: “Sepertinya enak banget ya makan nasi pecel di tengah Mekah seperti ini…”
Semua orang hanya bisa mengaminkan dalam hati. Mana mungkin menu khas Jawa Timur tersaji di Tanah Suci?
Namun, tak berselang lama, keajaiban itu terjadi! Catering makan pagi tiba. Di antara menu yang lain, tersaji Nasi Pecel lengkap dengan tempe dan tahu gorengnya. Kami tertegun, menatap Bu Kartika dengan takjub.
Kejadian itu terulang. Di tengah cuaca Mekah yang panas membakar, Bu Kartika lagi-lagi berujar, “Dalam suasana panas seperti ini, makan buah-buahan sepertinya menyegarkan ya…”
Tiba-tiba, petugas catering mengantarkan buah-buahan dalam jumlah besar dan beraneka ragam. Bukan sekadar pelengkap, melainkan suguhan yang melimpah, menyegarkan tubuh kami yang kelelahan beribadah.
Puncaknya, Bu Kartika suatu hari menyatakan ingin sekali makan sate khas Indonesia. Ajaibnya, menu makan malam kami malam itu adalah Sate Khas Madura. Hati kami dipenuhi kekaguman yang tak bisa disembunyikan.
Saya memberanikan diri mendekati Bu Kartika, hati saya dipenuhi rasa penasaran yang mendalam. “Ibu, tolong ceritakan kepada saya. Apa rahasia yang Ibu punya? Ibadah unggulan apa yang Ibu rutinkan di Tanah Air, sehingga apapun yang Ibu minta dikabulkan Allah?”
Bu Kartika tersenyum tulus, suaranya merendah. “Ah, kamu ini ada-ada saja. Aku ini orang biasa. Kerja saja di bank konvensional. Hijab juga belum sempurna, apalagi ilmu dan ibadah masih begitu-begitu saja.”
Saya mendesak lembut, “Coba deh, ceritain. Pasti ada. Mungkin hal-hal kecil, hal sederhana, yang rutin Ibu lakukan.”
Bu Kartika terdiam sejenak, wajahnya menyiratkan kerendahan hati. Kemudian, ia berbisik.
“Oh, kalau itu, ada hal kecil yang saya lakukan. Setiap hari Jumat pagi, saya usahakan untuk masak. Sebagian untuk makan keluarga, sebagian lagi untuk saya bungkus, yang saya bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan di sepanjang perjalanan dari rumah ke tempat kerja.”
“Hal ini aku lakukan secara rutin dalam dua tahun terakhir,” tutupnya sederhana.
Inilah jawaban yang paling penting bagi saya. Bukanlah ibadah yang besar, bukan ilmu yang tinggi, melainkan Keikhlasan seorang Bu Kartika dalam melakukan Sedekah Jumat secara rutin.
Sedekah yang dilakukan secara tersembunyi dan konsisten itu ternyata mendapatkan balasan secara kontan, tunai, dari Allah di Tanah Suci. Ucapan Bu Kartika menjadi mustajab, doanya langsung dikabulkan, sebuah keajaiban yang membuat kami semua berurai air mata dan tersungkur dalam syukur.
Kisah Bu Kartika mengajarkan kami semua: Keikhlasan dalam memberi, betapapun kecilnya, adalah kunci pembuka pintu rezeki, karunia, dan doa yang paling ajaib. Ia adalah Corporate Mystic sesungguhnya, yang membawa prinsip spiritualitas di tengah kerasnya kehidupan dunia. []
