Ada duka yang tak bisa diukur oleh air mata biasa, yaitu duka perpisahan dengan Sahabat Seperjuangan. Kini, ketika kumerenung, yang tersisa hanyalah parade memori yang mengharukan, sebuah barisan panjang para pejuang yang telah lebih dulu menuntaskan takdirnya: Parade Para Pencari Surga.
Mereka adalah bagian dari jiwaku, simpul-simpul ukhuwah yang terikat kuat di berbagai kota tempatku mengabdi. Kepergian mereka meninggalkan lubang yang tak terisi, namun juga warisan semangat yang abadi.
Di Batam, kami kehilangan dua pilar utama: Mas Bowo Susanto dan Setiyo. Mereka adalah perintis dan trainer Batam Adventure Club (BAC), sosok-sosok yang mengajarkan kami tentang ketangguhan fisik dan spiritual.
Mas Bowo, berjuang melawan sakit yang menggerogoti tubuhnya, menunjukkan kesabaran seorang mukmin sejati hingga Allah memanggilnya. Perjuangannya adalah pelajaran tentang Keikhlasan di Tengah Ujian Sakit.
Mas Setiyo menyusul beberapa bulan kemudian, pergi dalam perjalanan suci, saat melaksanakan amanah dakwah. Kematiannya adalah cerminan cita-citanya: mati di jalan yang dicintai Allah.
Di pulau Karimun, kabar duka datang membawa nama Pak Satya, sang perintis dakwah dan senior pegiat sosial. Beliau adalah guru bagi banyak orang, sosok yang meletakkan fondasi kebaikan di tanah rantau. Kehilangan beliau adalah kehilangan kompas bagi perjuangan di Karimun.
Di Tegal, di mana keringat perjuangan kami tumpah bersama, saya kehilangan dua sahabat terbaik: Mas Fauzi dan Mas Yono Gondrong. Mereka adalah teman sejati di jalan dakwah, yang tak pernah lelah berbagi ilmu dan semangat. Kepergian mereka menegaskan betapa singkatnya waktu yang diberikan Allah untuk berjuang di dunia.
Jakarta, tempat kami merajut persaudaraan pekanan, kini terasa senyap tanpa suara dua saudara seperjuangan: Pak Syarif dan Ustaz Abdullah Bari. Mereka adalah teman melingkar, tempat kami saling menguatkan keimanan, tempat kami berbagi beban dan harapan.
Setiap kehilangan adalah tamparan keras bagi kami yang masih hidup: bahwa giliran kami akan datang, dan kami harus menyiapkan bekal.
Bahkan di Kudus, di tengah puncak badai pandemi, kami harus mengikhlaskan Mas Didik. Beliau meninggalkan kami setelah perjuangan melawan Covid-19, menjadi salah satu syahid yang gugur dalam cobaan zaman.
Kepergian mereka bukanlah akhir, melainkan puncak dari sebuah Jihad yang Tulus. Mereka telah menyelesaikan balapan, dan kini mereka menanti kami di garis finish terbaik.
Maka, teringatlah aku akan nasyid yang dulu sering kami lantunkan, nasyid yang kini terasa begitu personal dan menusuk jiwa:
“Tujuh awan bersuka ria Sambut ruh suci menuju Rabbnya“
Aku membayangkan ruh-ruh suci para sahabatku itu disambut dalam kebahagiaan, memandang wajah Allah, dan beristirahat dari lelahnya dunia.
“Sahabat nantikan hadir kami Kan menyusulmu sekejap lagi“
Inilah janji kami. Bahwa kami akan terus berjalan, melengkapi bagian cerita yang belum mereka tuntaskan, hingga tiba waktunya kami menyusul.
“Sahabat kami rela kau pergi Jihad kita kan terus bersemi“
Kami memang merelakan kepergian mereka karena kami tahu mereka pergi ke tempat terbaik. Namun, kami tidak akan pernah merelakan api perjuangan ini padam. Kami adalah pewaris amanah mereka.
“Jalan ini takkan pernah henti”
Ya Allah, kuatkanlah hati kami. Jadikanlah setiap langkah kami, setiap tarikan napas kami, sebagai kelanjutan dari perjuangan Mas Bowo, Setiyo, Pak Satya, Mas Fauzi, Mas Yono, Pak Syarif, Ustaz Abdullah Bari, dan Mas Didik.
Parade Para Pencari Surga itu kini hanya menyisakan kerinduan yang mendalam, namun juga janji spiritual yang menghidupkan. Sampai jumpa, Saudaraku. Kami akan menyusul dengan membawa panji yang sama. []
