Tanjung Balai Karimun, 2005. Meskipun tugas utama saya adalah memimpin kantor cabang di pulau ini, panggilan jiwa untuk berdakwah tidak pernah surut. Bersama istri, kami memikul tugas mulia dari lembaga dakwah sebagai pembina masyarakat di Pulau Kundur dan Tanjung Batu. Ini bukanlah pekerjaan berbayar, ini adalah Cinta yang menuntut pengorbanan.
Jumat sore adalah waktu keramat. Begitu jam kantor usai, petualangan spiritual kami dimulai. Rutinitasnya selalu sama: istri saya sudah menunggu di pelabuhan. Di gendongannya, Fatimah, anak keempat kami yang masih bayi, terlelap tenang. Kami harus menyeberang pulau, meninggalkan kenyamanan kota demi tugas yang jauh dari sorotan.
Kapal pun berlayar. Istri saya bertugas membina pengajian ibu-ibu dan remaja putri, sementara saya berbagi ilmu dan semangat dengan bapak-bapak dan remaja putra. Kami adalah satu tim yang bergerak di garis depan dakwah kepulauan, menukarkan waktu istirahat akhir pekan kami dengan janji keikhlasan.
Dua tahun lamanya, rutinitas ini kami jalani. Setiap penyeberangan adalah sebuah ujian. Kami mengenal betul ombak yang tiba-tiba meninggi, terik matahari yang menyengat, hingga derasnya hujan yang membuat kami basah kuyup di dalam kapal kayu. Namun, semua itu adalah bagian dari kenikmatan perjuangan.
Di daratan Kundur, tantangan lain menanti. Kalau kapal berlabuh di Selat Beliah, kami harus melintasi jalan yang cukup jauh. Motor yang menjemput kami harus melintasi jalan setapak dan hutan dari pelabuhan menuju Kota Tanjung Batu. Ada kalanya, motor mogok di tengah hutan yang sunyi, memaksa kami berjuang berdua, mencari pertolongan.
Kami juga pernah dikejar-kejar waktu, berlarian di pelabuhan karena hampir ketinggalan kapal terakhir. Perjalanan ini tak hanya menguji fisik, tetapi juga mental. Kami harus ikhlas merelakan kenyamanan demi memenuhi panggilan tugas di tengah keterbatasan.
Badai terkadang datang dari arah yang tak terduga. Anak kami sakit di tengah pulau, atau ada acara lain yang mengharuskan kami harus overstay hingga Minggu, baru bisa kembali ke Karimun. Kami juga turut merasakan kepedihan jamaah yang (kadang) tertimpa musibah, mendoakan mereka dalam diam dan memberikan dukungan seadanya.
Namun, Jendela Kecil di Tengah Badai itu selalu terbuka lebar. Kami menemukan keindahan dalam setiap interaksi. Jamaah di sana menyambut kami dengan hati yang hangat dan tulus. Kami sering diundang makan bersama, menghadiri kondangan mereka, bahkan kadang disambut dengan tabuhan rebana yang meriah.
Di mata mereka, kami adalah ‘ulama besar’, padahal kami hanyalah pekerja sosial yang mencoba membina masyarakat untuk lebih mengenal ajaran Islam. Penghormatan tulus itu adalah ganjaran yang tak ternilai, jauh lebih berharga dari segala kelelahan fisik.
Rasa kebersamaan dan persaudaraan yang terjalin dengan masyarakat kepulauan itu adalah Suka yang paling agung. Mereka mengajarkan kami tentang ketulusan dan pentingnya berbagi, sebuah pelajaran yang tidak kami dapatkan di tengah gemerlap kota.
Seluruh dinamika suka dan duka ini membentuk kami. Kami belajar bahwa Cinta Sejati adalah melayani, dan Keikhlasan adalah ketika kita memberikan waktu dan tenaga terbaik, bahkan ketika kita membawa serta bayi yang kita cintai, di tengah terpaan cuaca.
Namun, semua kisah pasti memiliki akhir. Pada tahun 2007, surat tugas baru tiba. Saya harus meninggalkan Karimun dan pindah tugas ke Jawa. Keputusan itu datang dengan rasa haru yang mendalam, karena kami harus meninggalkan pulau yang telah menjadi saksi bisu dua tahun perjuangan kami.
Perpisahan dengan jamaah di Kundur terasa sangat berat. Kami tidak hanya meninggalkan tugas, tetapi meninggalkan keluarga spiritual yang telah membersamai kami dalam ketaatan. Pelukan perpisahan itu dipenuhi air mata keikhlasan.
Kisah dua tahun di Karimun dan Kundur mengajarkan satu hal: Perjuangan dakwah yang dilakukan dengan cinta dan keikhlasan akan selalu melahirkan kenangan termanis. Badai fisik seperti kehujanan atau motor mogok tidak ada artinya dibandingkan kehangatan hati masyarakat yang menyambut.
Pada akhirnya, karir kantor mungkin membawa saya ke Jawa, tetapi jiwa saya tetap tertinggal di sana, di tengah-tengah lautan Kepulauan Riau, bersama senyum tulus jamaah yang kami cintai.
Cinta, Bayi, dan Kompas Dakwah—inilah warisan spiritual kami dari Karimun.
