Perjalanan tugas di Grobogan tidak hanya diisi oleh urusan kantor dan pembinaan anak muda. Di sela-sela kesibukan itu, saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2 di Universitas Slamet Riyadi Surakarta (Unisri). Di sinilah, babak baru persahabatan matang saya dimulai.
Kami adalah sekumpulan mahasiswa yang secara usia sudah tidak lagi muda, rata-rata adalah senior di pekerjaan masing-masing. Ada yang menjabat kepala di kedinasan, di rumah sakit, manajer, kepala sekolah, lurah hingga pengusaha. Namun, di kelas S2, semua gelar dan jabatan luruh. Kami kembali menjadi pelajar yang haus ilmu, disatukan oleh satu visi: meraih gelar Magister.
Setiap akhir pekan, ritual kami dimulai di Purwodadi. Kami berkumpul di sebuah titik dekat Simpang Lima, lalu bersama-sama berangkat menggunakan dua mobil menuju kampus di Solo. Perjalanan itu adalah mini-training tersendiri, di mana kami bertukar cerita, berkeluh kesah, hingga merancang strategi kuliah.
Jadwal kuliah kami padat, kadang sehari penuh di Hari Sabtu, atau bahkan harus menginap untuk kuliah Sabtu dan Minggu. Kelelahan fisik itu tak terhindarkan, tetapi semangat kami jauh lebih besar dari rasa kantuk. Kami adalah bukti nyata bahwa usia hanyalah angka jika tekad sudah membaja.
Di antara semua kisah haru dan lucu, yang paling berkesan adalah perjuangan perut. Kami adalah mahasiswa yang mencari yang murah meriah. Kami sering berhenti di warung soto kwali di Gemolong, sebuah tempat sederhana yang menjadi ikon persahabatan kami. Kami makan berdesakan, tertawa lepas, menikmati soto hangat yang terasa seperti hidangan termewah.
Kadang, kami membawa bekal dari rumah. Kami akan berhenti di sembarang tempat: pinggir hutan yang rindang, tepi jalan yang sepi, atau tempat nyaman lainnya. Di sana, kami berbagi nasi dan lauk, sebuah tradisi berbagi yang menumbuhkan Cinta persaudaraan yang tulus. Momen berbagi itu mengajarkan kami tentang kesederhanaan dan kebersamaan.
Perjuangan yang sesungguhnya adalah di balik tugas dan tesis. Kami saling bahu membahu, berdiskusi hingga larut, bergadang mengerjakan penelitian, dan menyiapkan presentasi. Kami adalah tim riset yang tidak pernah menyerah.
Di antara kami, ada Bu Ngas, yang paling senior usianya. Kami harus sering membantunya. Ada Pak Sakir dan Bu Woro, dua rekan sekantor yang selalu menyajikan drama lucu dengan perdebatan kecil yang membuat suasana cair. Dan saya, yang sering kali menjadi ‘tokoh intelektual’ yang bertugas menyusun dan merapikan kerangka tugas.
Meskipun sering cek-cok lucu karena perbedaan pendapat dalam tugas, ikatan kami sangat kuat. Persahabatan di usia matang ini terasa lebih jujur dan mendalam, karena kami sudah tidak lagi mengejar pengakuan, melainkan mengejar ilmu dan persaudaraan.
Dukungan emosional dan intelektual inilah yang membuat kami bertahan. Setiap malam di Solo, di antara buku-buku tebal dan laptop, kami menyemangati satu sama lain, mengingatkan tentang cita-cita luhur yang menanti gelar Magister.
Momen puncak dari perjuangan itu pun tiba. Satu per satu, kami berhasil menyelesaikan tesis dan meraih gelar Magister. Suasana wisuda dipenuhi air mata haru dan bangga. Kami membuktikan bahwa dengan semangat kolektif, segala tantangan bisa dilalui.
Saya menjadi yang paling terakhir diwisuda. Menjelang akhir kuliah, saya mendapatkan tugas baru yang membawa saya pindah ke Jakarta, ke kantor pusat. Perpindahan itu membuat saya harus menunda wisuda, namun kebahagiaan teman-teman saya adalah kebahagiaan saya juga.
Meskipun kini kami terpisah oleh jarak dan kesibukan, kenangan akan Soto Kwali Gemolong, perjalanan jauh dari Purwodadi ke Solo, dan tawa di tengah tumpukan buku, akan tetap menjadi warisan abadi.
Kisah persahabatan di bangku S2 adalah bukti bahwa Jendela Kecil di Tengah Badai (kesibukan kerja dan usia) dibuka oleh Keikhlasan untuk saling mendukung. Gelar Magister yang kami raih bukanlah akhir, melainkan simbol persaudaraan yang dimatangkan oleh ilmu dan perjuangan bersama.[]
