Sejak kecil, aroma tanah dan kotoran ternak adalah parfum sehari-hari. Saya adalah seorang penggembala, tanggung jawab saya sederhana namun berat: memastikan kambing-kambing dan sapi-sapi kenyang, aman, dan sehat. Mandi di sungai, tidur di dekat kandang—itulah rutinitas yang membentuk karakter.
Namun, di tengah kesederhanaan dan kepolosan masa kecil itu, terukir sebuah cita-cita yang terasa sangat mustahil: ingin bekerja di perusahaan internasional, dengan gaji yang tinggi, dan bisa berkeliling dunia. Sebuah impian yang kontras dengan lumpur di sepatu bot saya.
Bertahun-tahun berlalu, mimpi itu tidak pernah padam. Ia menjadi energi, mesin penggerak, yang membawa saya melangkah dari kampung halaman menuju Batam—kota peluang dan tantangan.
Di Batam, pintu pertama menuju dunia internasional terbuka. Berkat ketekunan dan kerja keras, saya mulai terbiasa bolak-balik ke Singapura untuk urusan pekerjaan. Mulai dari membeli perangkat, koordinasi dengan relasi, hingga bertemu langsung dengan customer.
Setiap perjalanan ke Singapura terasa seperti pembalasan atas masa lalu. Saya, yang dulunya akrab dengan bau jerami, kini harus beradaptasi dengan aroma kesibukan bandara dan gedung-gedung pencakar langit.
Perusahaan menghargai dedikasi saya. Hadiah pertama datang: perjalanan wisata ke Malaysia. Negeri Jiran menjadi saksi betapa bahagianya hati ini.
Dari Genting Highland yang dingin, kemegahan Menara Kembar Petronas, hingga Istana Putra Jaya, setiap sudut Kuala Lumpur adalah penanda bahwa impian masa kecil itu perlahan menjadi kenyataan. Ini bukan sekadar wisata, ini adalah pembuktian diri.
Tak berhenti di situ, kepercayaan perusahaan meningkat. Saya mendapat tugas mendampingi rombongan besar: mendampingi para wartawan dari berbagai media ke Thailand, dan mendampingi dealer serta agen terbaik ke Australia.
Melihat lanskap asing, berinteraksi dengan orang-orang berkelas dunia—semua itu seperti sebuah film yang dulu hanya bisa saya bayangkan sambil memandikan sapi di sungai.
Namun, di antara semua reward pekerjaan itu, ada satu puncak spiritual yang tak tertandingi: hadiah Ibadah Haji ke Tanah Suci atas biaya perusahaan. Itu adalah anugerah terbesar, sebuah rezeki tak terduga yang menyentuh inti jiwa.
Saat mengenakan kain ihram, air mata saya tumpah di hadapan Ka’bah. Saya teringat masa lalu, seorang bocah kumuh yang hanya bisa bermimpi. Kini, saya berdiri di tempat yang dimuliakan, sebuah closing spiritual atas semua perjuangan.
Dan akhirnya, impian tertinggi saya terwujud: kesempatan untuk belajar di kantor pusat Siemens di Munchen, Jerman. Momen itu adalah klimaks dari perjalanan panjang seorang penggembala.
Berjalan di koridor kantor pusat Siemens, berdiskusi dengan para ahli dari berbagai negara, saya sering tertegun. Saya, yang dulu pernah tidur di kandang ternak, kini tidur di hotel berbintang di kota Bavaria yang megah.
Kisah ini bukan tentang kekayaan, tetapi tentang kekuatan impian dan ketekunan yang tak pernah menyerah. Bahwa batas-batas diri kita seringkali hanya ada di dalam pikiran.
Setiap kali saya memegang paspor dan melewati imigrasi, saya teringat tangan kecil saya yang kotor memegang tali kekang sapi. Saya teringat lumpur yang selalu menempel di kaki.
Semua pengalaman di Singapura, Malaysia, Thailand, Australia, Makkah, hingga Jerman, adalah karunia dari Allah. Semua itu adalah bukti bahwa Hadza Min Fadli Rabbi—ini adalah karunia dari Tuhanku—yang diberikan kepada hamba-Nya yang berani bermimpi dan gigih berusaha.
Perpisahan dengan kesederhanaan masa lalu tidak pernah membuat saya melupakan akar saya. Justru, setiap kesuksesan hari ini adalah penghormatan kepada bocah penggembala yang dulu kumuh, yang mengajarkan saya tentang kerja keras, tanggung jawab, dan kerendahan hati.
Saya telah melewati batas-batas negara, batas-batas sosial, dan batas-batas mimpi saya sendiri.
Saya adalah Penggembala Sapi yang telah diberi kesemptan berkeliling di sebagian dunia. Dan saya berharap, kisah ini menjadi inspirasi bagi setiap anak di kampung, setiap anak yang merasa kecil, bahwa cita-cita setinggi langit pun bisa diraih dengan kaki yang menginjak bumi. []
