Fri. Jun 5th, 2026

Setiap sepuluh malam terakhir Ramadhan, Masjid Raya Batam (MRB) menjadi lautan jamaah yang khusyuk. Di tengah kerumunan orang dewasa, mata seorang laki-laki paruh baya tertuju pada satu sosok kecil: seorang bocah berusia sekitar sepuluh tahun yang serius mengikuti setiap rangkaian I’tikaf.

Laki-laki itu, yang juga menjadi peserta I’tikaf, merasa ada magnet kuat pada bocah tersebut. Setiap hari, dari subuh hingga tengah malam, ia mengamati perilaku anak itu dengan seksama.

Ada rasa kasihan yang mengalir dalam hatinya. Pakaian anak itu sangat sederhana, kontras dengan beberapa peserta I’tikaf lain yang tampak necis. Ia membayangkan anak ini berasal dari keluarga yang kurang mampu, mungkin seorang yatim dari panti asuhan.

Namun, yang paling mengesankan adalah ketekunan dan kedewasaannya. Ia tidak pernah tertinggal dalam sholat jamaah, selalu duduk tenang di barisan orang dewasa saat kajian-kajian ilmu, dan menggunakan setiap detik waktu luangnya dengan bermanfaat.

Tidak ada waktu yang disia-siakan untuk bermain-main, sebagaimana lazimnya anak seusianya. Pagi dan sore hari adalah jadwal wajibnya di perpustakaan masjid. Ia akan tekun membaca, mencatat hal-hal baru yang ia temukan, lalu beralih ke komputer di sana.

Laki-laki itu terkesima. Bocah itu tidak hanya cerdas dalam menyerap ilmu, tetapi juga lancar mengoperasikan keyboard, mouse, dan menjelajah internet. Ia adalah pebelajar sejati yang haus akan pengetahuan.

Dalam benak laki-laki paruh baya itu, bocah ini adalah permata tersembunyi. Ia bahkan sempat berbicara kepada petugas perpustakaan, mengungkapkan kekagumannya. Ia bertanya apakah bocah itu anak yatim, memuji kesabaran, kecerdasan, dan kedewasaannya. “Orang akan bangga jika mengasuh anak seperti itu,” ujarnya penuh harap.

Di kesempatan lain, laki-laki itu memberanikan diri berbicara langsung. Ia menanyakan tempat tinggal bocah itu. Ketika mendengar jawaban Sukajadi, laki-laki itu langsung membayangkan kawasan rumah liar di seberang jalan dari kawasan elit Bukit Indah Sukajadi. Dugaan awal tentang kesederhanaan hidupnya terasa semakin kuat.

Ia semakin mengagumi betapa kuat mental anak ini, yang mampu menahan lelah dan fokus beribadah selama sepuluh hari penuh, terpisah dari hingar-bingar dunia anak-anak.

Namun, kisah ini memiliki kejutan tak terduga.

Di akhir masa I’tikaf, sebuah media lokal memuat tulisan tentang kegiatan di Masjid Raya Batam. Mata laki-laki itu terpaku pada sebuah judul utama yang menggetarkan: “Hadza Min Fadli Rabbi, peserta termuda I’tikaf MRB.”

Ya, bocah yang mencuri perhatiannya selama sepuluh hari itu memiliki nama yang sangat mulia: Hadza Min Fadli Rabbi, atau sering dipanggil Fadli. Ia memang berusia 10 tahun, seorang siswa SD Negeri yang cerdas.

Kejutan sesungguhnya baru terungkap: Fadli bukanlah anak yatim dari kawasan miskin. Ia adalah putra dari Ir. Arief Musta’in, yang menjabat sebagai Kepala Kantor Telekomunikasi (Kakandatel) Batam dan Riau Kepulauan saat itu.

Kesederhanaan pakaiannya, ketaatannya, dan fokusnya yang luar biasa di masjid bukanlah cerminan dari kemiskinan harta, melainkan cerminan dari kekayaan jiwa dan pola asuh yang hebat.

Fadli telah menunjukkan kepada semua orang bahwa ketekunan dan kerendahan hati tidak mengenal strata sosial. Ia memilih meninggalkan segala kemudahan fasilitas di rumahnya demi menghabiskan sepuluh malam bersama Rabb-nya.

Kisah Fadli mengajarkan kepada laki-laki paruh baya itu, dan kepada kita semua, makna sejati dari nama yang ia sandang:

“Hadza Min Fadli Rabbi”—Ini adalah Karunia dari Tuhanku. Karunia ini bukan terletak pada status sosial ayahnya, melainkan pada kebesaran jiwa dan kesalehan dini yang dimiliki Fadli. Sebuah pelajaran berharga tentang keikhlasan beribadah yang tak terduga datang dari seorang bocah 10 tahun. []

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *