Fri. Jun 5th, 2026

Cita-cita itu tertanam begitu dalam, jauh sebelum saya mengenal definisi kesuksesan yang sesungguhnya. Sejak kecil, impian terbesar saya adalah memberangkatkan kedua orang tua ke Tanah Suci. Itu adalah janji hati, lahir dari sebuah percakapan yang sangat sederhana.

Saya ingat betul momen itu: Sore hari, saya pulang dari mencari rumput dalam keadaan kuyup. Sambil membuat perapian untuk mengeringkan rumput agar sapi mau makan, saya iseng bertanya kepada Bapak, “Seandainya nanti aku sudah jadi orang sukses, Bapak mau aku belikan apa?” Jawaban beliau datang lugas, tanpa keraguan: “Bapak ingin naik Haji.”

Sejak saat itu, tekad saya menguat. Memberangkatkan Bapak dan Ibu ke Baitullah menjadi tujuan hidup yang paling utama. Meskipun takdir membawa Ibu kembali ke haribaan Allah pada tahun 2006, janji untuk Bapak tetap saya genggam erat.

Perjuangan Bapak melawan sakit stroke dan keluar masuk rumah sakit tak pernah memadamkan harapan. Menjelang akhir tahun 2007, saat saya merawat Bapak di RS, beliau dengan tegas mengatakan bahwa cita-cita untuk naik Haji tak pernah pupus.

Begitu diizinkan pulang dari RS, saya tidak menyia-nyiakan waktu. Bapak yang masih lemah langsung saya ajak ke bank untuk mendaftar haji. Sebuah langkah nyata untuk menjawab janji masa kecil. Perkiraan jadwal keberangkatan saat itu adalah tahun 2010 atau 2011.

Sejak pendaftaran itu, mukjizat sejati pun terjadi. Bapak menjadikan Haji sebagai motivasi hidup. Beliau menjadi sangat rajin melakukan terapi dan olahraga. Ketekunan itu luar biasa; Bapak yang tadinya sakit stroke kini sudah bisa bersepeda dan berlatih gerak hampir setiap hari. Tekadnya mengalahkan keterbatasan fisik.

Namun, drama terbesar muncul di awal tahun 2009.

Saya mendapat telepon mendadak dari pihak bank yang mengabarkan bahwa antrean haji Bapak maju lebih cepat dari perkiraan! Beliau bisa berangkat tahun itu juga, asal segera melunasi kekurangan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (ONH).

Kami kekurangan sekitar Rp 15 juta. Waktu yang diberikan sangat mendesak. Saya berusaha mencari pinjaman sana-sini, berharap bonus perusahaan bulan depan dapat menutup utang ini. Namun, menjelang batas waktu, dana yang terkumpul tetap tidak mencukupi. Saya nyaris putus asa.

Di tengah kebingungan itu, datanglah tangan tak terduga yang menjadi perpanjangan tangan Tuhan. Seorang sahabat, Cok Mahendra—pengganti saya sebagai Kepala Cabang Indosat Pekalongan. Cok, yang saya panggil Bli, adalah seorang penganut Hindu, asli Bali.

Bli Cok tanpa ragu menghubungi saya dan menawarkan uangnya untuk dipakai melunasi biaya haji Bapak. Bantuan dari sahabat non-Muslim ini adalah mukjizat kemanusiaan, sebuah bukti nyata bahwa persaudaraan sejati melampaui sekat keyakinan. Berkat ketulusan Bli Cok, kekurangan dana itu berhasil dilunasi, dan Bapak dipastikan berangkat Haji tahun 2009.

Ketika Bapak berangkat, saya bekali beliau sebuah ponsel agar bisa berkabar. Namun, selama di Tanah Suci, ponsel itu nyaris tidak pernah berfungsi.

Hingga suatu hari, ketika saya mencoba meneleponnya, sambungan itu berhasil. Dari seberang sana, hanya terdengar satu kalimat yang diulang-ulang, penuh haru dan kebahagiaan murni: “Nang, aku neng Mekah, nang, aku neng Mekah…” (Nak, aku di Mekah, Nak, aku di Mekah). Itu adalah satu-satunya panggilan yang berhasil tersambung, dan itu sudah lebih dari cukup. Itu adalah suara kebahagiaan yang teramat sangat.

Tibalah saat kepulangan. Kami menjemput Bapak di Asrama Haji Solo. Saat bertemu, saya tak kuasa menahan tangis haru. Saya memeluk Bapak erat-erat. Beliau balas memeluk saya, air mata mengalir di pipinya sambil berulang kali menyampaikan terima kasih karena janji masa kecil itu telah tertepati.

Pelukan itu terasa sangat mendalam, penuh syukur dan cinta. Ternyata, pelukan di Asrama Haji itu adalah pelukan yang terakhir.

Beberapa bulan kemudian, setelah sempat menikmati sisa kehidupannya dengan predikat Haji, Allah berkenan memanggil Bapak kembali ke haribaan-Nya. Saat Bapak tiada, saya sedang dalam perjalanan menuju ke rumah.

Bapak saya pergi dalam keadaan suci, setelah impian terbesarnya terwujud. Ia mengajarkan saya bahwa janji seorang anak adalah utang suci, dan ketulusan dalam berbuat baik akan dijawab oleh Allah melalui jalan yang tak terduga, bahkan melalui sahabat terbaik dari keyakinan yang berbeda.

pada tahun 2018 saya mengantarkan istri berangkat haji, sekaligus membadalkan haji untuk Ibu. Semoga dengan demikian cita-cita dan janji hati saya telah tertunaikan. Smeoga nilai ibadah haji menjadi pemberat amal bapak dan ibu di akhirat nanti. []

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *