Tahun 2010 di Grobogan, di tengah keheningan malam, saya menorehkan sebuah harapan sederhana namun mendalam: “Ya Allah, ijinkan saya berangkat Umroh bersama istri.” Bagi kami, itu adalah impian suci, sebuah janji batin yang kami panjatkan. Kami berharap tahun berikutnya, impian itu akan menjadi kenyataan, membuka lembaran baru dalam hidup kami.
Namun, takdir berkata lain. Tahun-tahun yang mengikuti justru menjadi masa-masa terberat dalam hidup saya. Setelah kehilangan Bapak, satu-satunya orang tua yang tersisa, saya harus menghadapi badai ujian yang lebih besar, ujian yang menuntut bukan hanya air mata, tetapi juga pengorbanan material.
Adik saya menghadapi cobaan bisnis yang amat berat, terjerat dalam lingkaran utang yang jumlahnya fantastis—mencapai setengah miliar rupiah. Sebagai seorang kakak, panggilan hati dan tanggung jawab memaksa saya untuk turun tangan. Di sana, di tengah tumpukan masalah, saya harus mengambil keputusan pahit.
Aset pribadi, tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun, dan berbagai hal berharga lainnya harus direlakan. Semua itu demi menutupi dan menyelesaikan kewajiban utang-utang yang menumpuk. Tahun 2011 benar-benar menjadi tahun yang mencekik, memaksa impian suci untuk pergi ke Tanah Suci harus ditunda tanpa batas waktu yang jelas.
Dalam kepasrahan itu, saya kembali menuliskan harapan di akhir tahun: “Ya Allah, semoga tahun 2012, saya bisa berangkat Umroh bersama istri.” Itu bukan lagi sekadar impian, tetapi sebuah deklarasi iman di tengah badai, sebuah keyakinan bahwa janji-Nya lebih besar dari kesulitan kami.
Awal tahun 2012, saya pindah tugas ke Jakarta, membawa serta semangat perjuangan yang baru. Di tengah adaptasi dan kesulitan finansial yang masih terasa, saya terus memancangkan cita-cita. Selain Umroh, ada harapan lain yang saya canangkan: menyelesaikan studi S2, membangun bisnis, dan yang paling mungkin saya lakukan, adalah terus menulis buku.
Saya kembali fokus pada dunia literasi. Saya mulai aktif menulis artikel dan melengkapi naskah buku-buku yang sebelumnya sempat tertunda. Ternyata, perjuangan kecil ini mulai menuai hasil.
Pada bulan Maret, titik terang pertama muncul. Dari kerja keras menulis artikel dan royalti buku, saya berhasil mengumpulkan tambahan dana sebesar Rp 15 juta. Jumlah itu terasa seperti hadiah dari langit, dan tanpa ragu, langsung saya gunakan untuk mendaftar Umroh.
Setelah melakukan pengecekan menyeluruh, kami menemukan paket Umroh yang terjangkau, sekitar Rp 27 juta untuk berdua, dan memastikan bahwa travel tersebut amanah. Dengan sisa dana yang ada, kami mendaftarkan diri. Rencananya, kami akan berangkat pada bulan Oktober 2012, memberikan waktu yang cukup panjang untuk mengumpulkan kekurangan dana.
Namun, sekali lagi, skenario Allah berbeda dengan rencana manusia. Pada bulan April, tiba-tiba kami mendapat informasi bahwa jadwal keberangkatan dimajukan drastis: menjadi bulan Mei. Artinya, kami hanya punya waktu beberapa hari—tepatnya hingga akhir bulan April—untuk melunasi sisa kekurangan biaya.
Saya merasa pasrah. Dengan tenggat waktu yang begitu mendesak dan kondisi keuangan yang belum pulih total, saya nyaris tidak memiliki ide dari mana kami akan mendapatkan kekurangan dana itu dalam hitungan hari. Ini terasa seperti ujian terakhir sebelum mencapai garis finish.
Tapi memang benar adanya, janji Allah itu nyata dan tepat waktu. Tepat pada hari terakhir tenggat waktu pelunasan, telepon berdering. Penelepon itu adalah perwakilan dari sebuah penerbit yang pernah menerbitkan tiga buku saya bertahun-tahun sebelumnya, sekitar tahun 2007.
Mereka memberikan kabar yang tak terduga: penjualan buku lama saya melebihi target! Pihak penerbit mengabarkan bahwa saya mendapatkan tambahan royalti yang jumlahnya mencapai lebih dari Rp 12 juta—nyaris persis sama dengan kekurangan dana yang harus kami lunasi.
Ini bukan kebetulan; ini adalah keajaiban yang terasa seperti dijawab langsung dari langit. Hari itu juga, saya bisa menarik dana royalti tersebut dan langsung melunasi sisa pembayaran ke pihak travel Umroh.
Pada tanggal 21 Mei 2012, kurang dari dua tahun sejak impian itu ditulis, kami akhirnya berangkat bersama rombongan. Menginjakkan kaki di Tanah Suci, setelah melewati badai cobaan, terasa seperti memeluk janji Allah yang telah terbukti.
Di depan Ka’bah, bangunan suci yang telah lama kami impikan, saya membacakan ayat kepada istri: “Wa man yattaqillaha yaj’al lahū makhrajā…” (Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar… – QS. At-Talaq: 2).
Di tempat paling mulia itu, saya berbisik kepadanya: “Sekarang kita sampai di Ka’bah. Insya Allah, suatu saat kita akan kembali lagi ke sini.” Kalimat itu kini menjadi cita-cita baru, sebuah keyakinan yang tertanam kuat.
Dan enam tahun kemudian, keyakinan itu kembali terjawab. Tahun 2018, kami berdua kembali menunaikan ibadah di Tanah Suci, kali ini dalam ibadah Haji. Kisah ini mengajarkan bahwa ketika kita bersedia berkorban dan berjuang untuk kebaikan, janji Allah akan datang dengan cara yang tak terduga, dan selalu tepat pada waktunya. []
