Fri. Jun 5th, 2026

Di kota Batam, sebuah pelabuhan bagi beragam karakter manusia, Suwarto hidup dengan prinsipnya: percaya kepada kebaikan orang lain. Prinsip inilah yang membuatnya tidak sedikit pun menaruh curiga kepada Irfan, seorang remaja yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.

Irfan adalah anak didiknya, seorang siswa PKL yang ia terima di bengkel mobil tempatnya bekerja. Bengkel Suwarto dikenal profesional, sering menjadi tempat praktik siswa STM bahkan mahasiswa. Suwarto, seorang teknisi senior yang berwawasan luas, tak segan berbagi ilmu.

Selama masa PKL tiga bulan, Irfan menunjukkan sikap yang baik. Ia sigap membantu: mengambilkan toolset, mengganti oli, dan membersihkan onderdil. Suwarto, yang juga seorang taat beragama, tak hanya mengajarinya tentang mesin, tetapi juga tentang agama, politik, dan membaca.

Irfan sering bermain ke rumah Suwarto, terkesan dengan koleksi buku Suwarto, mulai dari Islam, politik, hingga sastra. Ikatan itu semakin kuat, terjalin tak hanya di bengkel, tetapi juga di meja makan dan ruang tamu.

Setelah PKL usai, Irfan kembali ke Sumatera. Suwarto berpesan agar ia sering menghubungi dan segera kembali ke Batam setelah lulus. Sebuah perpisahan yang terasa seperti melepas anak sendiri.

Hampir setahun kemudian, kabar Irfan hilang. Hingga suatu hari, Suwarto dikejutkan oleh kedatangan Irfan. Penampilannya sudah berubah drastis: mengenakan celana di atas lutut, baju koko, dan kopiah haji. Penampilan seorang aktivis.

“Datang ke Batam kok enggak bilang-bilang?” tanya Suwarto, terkejut namun bahagia.

Irfan, tanpa basa-basi, langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Ia bercerita sudah sebulan di Batam, memulai usaha kecil-kecilan berdagang kue, dan kini membutuhkan tambahan modal. “Cuma lima ratus ribu saja, Pak To, untuk tambahan beli tepung dan gula.”

Suwarto, tanpa curiga, segera memberikan uang itu. Irfan berjanji akan mengembalikannya bulan depan.

Sebulan kemudian, Irfan datang lagi. Ia tidak membayar utangnya. Justru, ia bercerita tentang omset kuenya yang meroket, hingga ia harus menyewa mobil untuk mengantar 1.500 paket kue setiap bulan ke berbagai kawasan di Batam.

Irfan merayu Suwarto: daripada ia menyewa mobil ke orang lain, lebih baik ia menyewa mobil Suwarto. Uang sewa Rp 1,5 juta per bulan akan masuk ke kantong Suwarto.

Dengan tujuan tulus untuk membantu mantan anak didiknya yang terlihat sukses, Suwarto pun merelakan mobilnya dibawa pergi. Ia hanya berpesan agar uang pinjaman Rp 500 ribu itu segera dikembalikan.

Bulan berikutnya, Irfan datang lagi. Dengan semakin cerah dan penuh percaya diri, ia mengajukan negosiasi yang lebih jauh: ia ingin membeli mobil Suwarto saja, dengan cara mengangsur Rp 1,5 juta per bulan.

Suwarto, yang sudah menganggap Irfan sebagai adik, kembali tak kuasa menolak. Ia menyetujui menjual mobilnya seharga Rp 20 juta. Kesepakatan tercapai, surat perjanjian jual beli ditandatangani di atas materai, disaksikan oleh dua orang kenalan.

Irfan berjanji akan membayar uang muka Rp 2 juta, melunasi utang Rp 500 ribu, dan membayar cicilan pertama besok pagi. Total Rp 4 juta akan dibawa Irfan keesokan harinya. Jual beli telah sah.

Namun, hari yang dijanjikan itu tiba, dan Irfan tidak kunjung datang.

Suwarto mencoba berbaik sangka. Mungkin Irfan sibuk mengurus usahanya. Ia menunggu hari demi hari, minggu demi minggu. Ia mencoba menghubungi nomor telepon Irfan. Nomornya selalu tidak aktif.

Kecurigaan mulai merayap dalam hati Suwarto. Ia mencari informasi ke teman-temannya, mendatangi alamat yang pernah ditinggali Irfan. Namun, nihil. Irfan telah lenyap ditelan hiruk pikuk Batam.

Beberapa waktu kemudian, Suwarto dihubungi temannya di Muka Kuning yang menceritakan hal yang sama: Irfan telah meminjam sejumlah uang, namun sekarang tidak bisa dihubungi. Tipu daya ini ternyata bukan hanya menimpa dirinya.

Suwarto, seorang pria yang mendidik dan berbagi ilmu dengan penuh ketulusan, kini harus menghadapi kenyataan pahit: kepercayaannya telah dikhianati oleh orang yang ia anggap adik sendiri.

Hati Suwarto terluka, bukan karena kerugian materiil, tetapi karena kerapuhan sebuah janji dan pengkhianatan atas persaudaraan yang ia tanamkan. Mobilnya telah hilang, diganti dengan luka batin.

Di tengah kesedihan itu, Suwarto menarik napas panjang. Ia hanya mampu beristighfar dalam hati. Melaporkan ke polisi hanya akan menambah masalah baru. Ia memilih jalur yang paling sulit: Menerima dan Mengikhlaskan.

“Ah, sudahlah, bukan rezekiku,” batin Suwarto. “Semoga Irfan diberikan petunjuk oleh Allah dan diberi kesadaran atas khilafnya. Allah pasti akan mengganti yang lebih baik lagi.”

Di balik kehilangan yang menyakitkan, Suwarto memilih untuk tetap menjaga kemuliaan jiwanya. Ia kehilangan mobil, tetapi ia mempertahankan keikhlasan hati dan keyakinan pada janji Allah, bahwa kebaikan tulus akan selalu berbalas, meskipun pengkhianatan pernah datang dari tangan seorang murid yang pernah ia cintai.[]

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *