Fri. Jun 5th, 2026
Jendela Jumadi Subur

Farid dan Rita, sebuah pasangan yang baru merajut rumah tangga selama hampir satu tahun, sedang menantikan anugerah terindah: anak pertama mereka. Farid, seorang pekerja di perusahaan IT yang cerdas. Rita, yang sebelum menikah adalah karyawan komponen elektronika, kini mengandung buah cinta mereka.

Kisah cinta mereka terbilang unik dan sangat cepat. Teman-teman Rita terkejut, karena Rita yang dikenal pendiam dan tak pernah terlihat dekat dengan laki-laki, tiba-tiba menyebarkan undangan dan mengajukan cuti menikah.

Tak butuh waktu lama sejak diperkenalkan oleh senior Farid, Farid langsung merasakan keyakinan yang kuat. Ia menyatakan niat sucinya untuk menikahi Rita, tanpa basa-basi. Rita hanya meminta waktu dua minggu untuk menyampaikan niat ini kepada orang tuanya di Batang.

Jawaban yang datang adalah ya. Persyaratan yang diajukan Rita sangat sederhana dan tidak memberatkan: mahar yang mudah, tidak perlu pesta mewah, dan hanya meminta akad nikah dilakukan di rumahnya di kampung. Sebuah pernikahan yang lahir dari niat suci, bukan tuntutan dunia.

Pernikahan mereka berlangsung khidmat dan penuh berkah. Hanya akad nikah, dilanjutkan dengan syukuran kecil bersama kerabat. Rita mengenakan baju muslimah putih, hiasan melati yang sederhana di kerudungnya. Farid, dengan baju takwa dan jas hitam, menyambut takdir terindahnya.

Farid memberikan mahar yang jauh dari kemewahan: satu setelan gamis, cincin sederhana, dan beberapa buku Islam berukuran tebal. Mereka tampak bahagia dalam kesederhanaan tersebut, sebuah ikatan yang didirikan atas dasar Cinta dalam Ketaatan.

Namun, di bulan kesembilan pernikahan mereka, takdir menguji cinta mereka. Kabar duka tiba-tiba datang: ayah Rita meninggal dunia. Farid, yang cutinya sudah habis untuk pernikahan, terpaksa harus melepas Rita pulang kampung sendirian.

Demi menemani kesedihan istrinya dan menghormati keluarga, Farid segera membeli tiket pesawat yang sangat mahal, hanya untuk mengantar Rita ke Bandara Hang Nadim, mengurus surat keterangan dokter bagi ibu hamil, dan memastikan istrinya aman dalam perjalanan duka.

Satu bulan Rita di kampung. Farid dilanda kerinduan yang amat sangat. Ia menelepon hampir setiap hari, menanyakan kabar janin dan menjadwalkan kepulangan Rita. Sebulan perpisahan terasa seperti satu tahun.

Ketika tiba saatnya kembali ke Batam, Rita memilih untuk naik kapal Pelni. Tiket pesawat terlalu mahal, dan risiko naik pesawat dengan usia kandungan yang sudah mendekati sembilan bulan terlalu besar. Perjalanan panjang dari Jakarta ke Batam pun harus ditempuh.

Hari itu, Pelabuhan Domestik Sekupang penuh sesak. Hiruk pikuk taksi, porter, dan penjemput menjadi pemandangan biasa. Farid telah meminta izin khusus dari Supervisor-nya. Hari ini, ia ingin menyambut belahan jiwanya dengan cara yang istimewa.

Farid berdandan rapi. Ia memangkas rambutnya, mengenakan kemeja putih dan dasi techno-look yang bergambar komputer. Ia bahkan meminjam mobil temannya. Ia berkaca, menyemprotkan parfum favoritnya, dan mengenakan jas gelap.

Lalu, di meja resepsionis, ia melakukan tindakan yang paling romantis. Ia meminta izin mengambil setangkai bunga mawar merah yang baru diganti pagi itu. Mawar yang masih segar dan wangi.

“Aku memang mau ketemu pacarku, kok!” jawab Farid singkat, menyebarkan senyum sambil bergegas menuju mobil.

Di Pelabuhan Sekupang, Farid menunggu dengan gelisah. Tepat setelah petugas mengumumkan Kapal Pelni telah berlabuh, mata Farid menyapu kerumunan.

Dari kejauhan, di antara desakan penumpang dan porter, ia melihat sosok yang ditunggu: Sosok mungil berkerudung biru muda, berjalan perlahan, digandeng oleh Ibunya. “Ini dia bidadariku!” pekik Farid, tanpa sadar suaranya terdengar jelas.

Seketika, ratusan pasang mata tertuju padanya. Sikapnya yang begitu rapi dengan mawar di tangan telah menarik perhatian banyak orang. Mereka terdiam, penasaran, seolah menyaksikan adegan sinetron.

Begitu Rita sampai di pintu keluar, Farid segera menyambutnya. Rita mencium tangan suaminya, dan Farid mengecup kening istrinya dengan lembut. Seraya menyerahkan setangkai mawar merah itu.

Rita mencium bunga itu, tersenyum haru, dan memeluk suaminya yang terlihat lebih tampan. Farid juga menyambut Ibunya, mengucapkan selamat datang di Batam, menyambut beliau yang akan menemani proses kelahiran.

Tanpa dikomando, para pengunjung pelabuhan yang tadinya berdesakan, tiba-tiba membentuk jalan bagi pasangan itu. Mereka terpana, terharu melihat pemandangan romantis yang tulus itu. Betapa indahnya cara Farid memperlakukan istrinya.

Rita berjalan digandeng suaminya, sesekali ia kembali mencium bunga mawar di tangannya. Di tangkai mawar itu, ia menemukan sebuah kata yang ditulis Farid dengan lirih namun menusuk jiwa: “Untukmu!” Sebuah kata sederhana, namun mengandung sejuta makna Cinta, Kerinduan, dan Penghargaan yang abadi.

Setangkai mawar itu bukan hanya bunga. Ia adalah pengakuan Farid di hadapan ratusan pasang mata: bahwa Rita adalah ratunya, istri tercintanya, yang layak mendapat sambutan paling indah di dunia. Dan itulah kenangan terindah yang takkan pernah pudar dalam hati Rita. []

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *