Di balik setiap langkah besar seorang manusia, selalu ada jejak-jejak tangan para guru yang tak terlihat. Perjalanan karier saya di dunia profesional bukanlah sebuah pendakian tunggal. Ia adalah sebuah mahakarya yang dipahat oleh para mentor, sosok-sosok luar biasa yang mendidik saya bukan hanya untuk menjadi ahli, tetapi untuk menjadi manusia yang bermakna.
Salah satu ingatan yang paling melekat adalah tentang Bapak Sutopo, atau yang akrab saya panggil Mas Topo. Beliau adalah maestro dalam dunia pemasaran dan kepenulisan. Di zaman itu, kecanggihan teknologi belum seperti sekarang, namun Mas Topo menunjukkan bahwa kekuatan sebuah gagasan melampaui alat yang digunakan.
Saya masih ingat betapa terpesonanya saya saat melihat beliau presentasi. Hanya dengan media selembar plastik transparan yang ditulisi spidol permanen, lalu ditampilkan melalui Over Head Projector (OHP), beliau mampu menyulut antusiasme audiens dengan cara yang menakjubkan. Dari beliaulah, saya belajar berani tampil, belajar seni berbicara di depan pelanggan, hingga mengasah kemampuan menulis artikel di media.
Lalu hadir pula Pak Gunung Hari Widodo, sang Mas Gunung. Beliau adalah kompas saya dalam memahami arti kepemimpinan yang sesungguhnya. Dari beliau, saya menyerap ilmu tentang komunikasi yang efektif, kreativitas tanpa batas, dan yang paling krusial: keberanian seorang pemimpin untuk mengambil keputusan di saat sulit.
Namun, dunia teknis saya tidak akan pernah kokoh tanpa didikan para senior di bidang IT dan jaringan. Hati saya selalu bergetar jika mengingat Almarhum Kang Asep dan Almarhum Kang Ujang. Bersama Pak Aris, Pak Dedi Widiatmoko, dan Pak Irsan, mereka adalah para penjaga gawang teknologi yang mengajarkan saya bahwa di balik setiap kabel dan bit data, ada kedisiplinan dan tanggung jawab besar.
Teriring doa terbaik untuk mereka yang telah mendahului kita. Semoga setiap tetes keringat ilmu yang mereka bagikan kepada saya menjadi amal jariyah yang menerangi kubur mereka. Kehilangan mereka adalah kehilangan fisik, namun ilmu teknis mereka tetap mengalir dalam setiap pekerjaan yang saya selesaikan.
Di atas semua itu, saya beruntung dipertemukan dengan Pak Bambang Priantono. Beliau adalah sosok yang saya sebut sebagai “Mentor Paket Komplit”. Pak Bambang tidak hanya bicara soal target perusahaan atau efisiensi kerja. Beliau menyeimbangkan dunia dan akhirat dengan cara yang sangat anggun.
Beliau mengajarkan bahwa profesionalisme adalah bentuk ketaatan dalam beribadah. Kontribusi sosial dan dakwah bukanlah kegiatan sampingan, melainkan inti dari keberadaan kita di dunia kerja. Dari Pak Bambang, saya belajar bahwa seorang profesional sejati adalah mereka yang paling besar manfaatnya bagi masyarakat.
Tak kalah berkesan adalah Pak Sony Teguh Trilaksono. Beliau adalah prototipe pemimpin yang sangat humble (rendah hati) dan humanis. Meski berada di puncak kepemimpinan, beliau tetap memiliki rasa haus yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan. Sikapnya yang merakyat mengajarkan saya bahwa semakin tinggi posisi seseorang, seharusnya ia semakin membumi.
Satu hal yang membuat saya sangat terkesan adalah latar belakang pendidikan para mentor saya ini. Sebagian besar dari mereka telah menyelesaikan pendidikan Doktoral (S3). Melihat gelar-gelar akademik tertinggi itu bersanding dengan perilaku yang santun, hati saya tergerak.
Mereka menjadi alasan mengapa saya tidak pernah berhenti belajar. Mereka adalah bukti nyata bahwa intelektualitas harus selalu beriringan dengan spiritualitas. Gelar doktor mereka bukan sekadar prestise, melainkan tanggung jawab moral untuk terus memberi pencerahan bagi orang lain, termasuk bagi saya.
Kini, setiap kali saya berdiri di depan podium, menulis sebuah catatan, atau mengambil keputusan penting dalam pekerjaan, saya merasa ada bayang-bayang mereka di belakang saya. Saya merasakan semangat Mas Topo dalam tulisan saya, ketegasan Mas Gunung dalam keputusan saya, dan ketelitian Kang Asep dalam teknis saya.
Saya juga merasakan kedalaman spiritual Pak Bambang dan kerendahan hati Pak Sony dalam setiap interaksi saya dengan sesama manusia. Mereka tidak hanya mengajari saya cara bekerja; mereka mengajari saya cara menjalani hidup.
Terima kasih adalah kata yang terlalu sederhana untuk menggambarkan utang budi saya kepada mereka. Mereka telah membantu saya merobek keterbatasan diri dari seorang anak penggembala hingga menjadi seorang profesional yang memiliki cita-cita tinggi.
Tanpa tangan dingin mereka, mungkin saya akan tersesat di tengah hiruk-pikuk dunia korporat yang keras. Mereka adalah lentera yang memastikan saya tetap berjalan di jalur yang benar, jalur yang diridhoi oleh Sang Pencipta.
Setiap keberhasilan yang saya raih hari ini, sesungguhnya adalah keberhasilan mereka juga. Setiap penghargaan yang saya terima, ada bagian dari doa dan didikan mereka di dalamnya.
Kepada para mentor yang telah tiada, saya hanya bisa mengirimkan Al-Fatihah dan janji untuk meneruskan ilmu kalian. Semoga Allah memberikan tempat paling mulia di sisi-Nya, di tempat yang tidak ada lagi lelah dan derita.
Dan kepada para mentor yang masih ada, semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan, keberkahan, dan kesuksesan yang berlipat ganda. Semoga sisa umur kalian menjadi manfaat yang tak putus-putusnya bagi umat.
Ya Allah, ridhoilah mereka sebagaimana mereka telah meridhoi saya untuk menjadi muridnya. Terimalah amal jariyah mereka melalui setiap kebaikan yang saya lakukan dari ilmu yang mereka ajarkan.
Kisah tentang para mentor ini adalah pengingat bagi saya, bahwa kelak saya pun harus menjadi mentor yang baik bagi generasi setelah saya. Saya ingin meneruskan api semangat ini, agar cahaya ilmu dan ukhuwah ini tak pernah padam.
Inilah jendela syukur saya untuk mereka. Para Arsitek Jiwa yang telah membangun bangunan diri saya hingga seperti sekarang ini. Sebuah kehormatan besar pernah menjadi murid kalian. []
