Ibu, setiap kali aku mencoba menuliskan tentangmu, rasanya seperti menulis tentang mata air di tengah kemarau: sederhana dipandang, tapi tanpanya hidup tak mungkin bertahan. Engkau dulu hanya dikenal sebagai gadis desa berparas ayu, tanpa gelar, tanpa ijazah tinggi, namun di rumah engkau adalah universitas yang mengajari kami tentang banyak hal. Dari tanganmu kami belajar menjahit, memasak, menanam, merapikan rumah, mengurus adik, hingga cara menyambut tamu dengan senyum. Engkau tidak pernah memakai istilah “life skill”, tapi setiap hari engkau menanamkan kemandirian, membuat kami yakin bahwa miskin uang bukan alasan untuk miskin keterampilan dan harga diri.
Mendidik lima orang anak di rumah sederhana bukanlah tugas ringan, tapi engkau menjalaninya seolah itu sesuatu yang alami saja. Pagi hari engkau membangunkan kami untuk sekolah dan mengaji, siang mengajarkan kami membantu pekerjaan rumah, sore mengingatkan kami agar rukun dengan saudara, malam menuntun kami ke mushaf dan doa. Engkau mungkin tidak pernah membaca buku parenting, tapi engkau mengajarkan disiplin tanpa membuat kami patah, kasih sayang tanpa memanjakan, dan kerja keras tanpa banyak keluhan. Jika hari ini kami terbiasa berdiri di kaki sendiri, itu karena sejak kecil engkau jarang berkata, “Kasihan,” tetapi lebih sering berkata, “Kamu bisa.”
Engkau, ibu, adalah sekolah pertama kami dalam hal kemandirian. Dari caramu mengajari kami menanak nasi, menyapu halaman, menjemur pakaian, hingga berjualan kecil-kecilan, kami belajar bahwa tangan yang terampil adalah sebagian dari harga diri seorang manusia. Engkau membiasakan kami mengerjakan sesuatu sampai tuntas, tidak berhenti hanya karena lelah atau bosan. Ketika teman-teman sebaya kami masih sering dimanja, kami sudah akrab dengan kewajiban dan tanggung jawab. Saat itu mungkin kami mengeluh pelan, tapi hari ini kami paham: engkau sedang mempersiapkan kami menghadapi dunia yang keras dengan hati yang kuat.
Engkau juga yang pertama kali mengajarkan kami tentang pentingnya ilmu dan ibadah, meski engkau sendiri tidak banyak menikmati bangku sekolah. Engkau mendorong kami untuk belajar sungguh-sungguh, mengaji dengan tekun, dan menghormati guru serta orang yang lebih tua. Setiap rapor dibawa pulang, engkau menyambutnya dengan mata berbinar—bukan karena nilai semata, tapi karena itu tanda bahwa kami menghargai kesempatan yang mungkin tidak sempat engkau rasa. Engkau selalu berkata, “Ibu tidak bisa sekolah tinggi, biarlah kalian yang menyelesaikan mimpi itu.” Kalimat itu pelan-pelan menjadi bahan bakar kami untuk terus melaju.
Ketika kami mulai menginjak dewasa, satu per satu melangkah keluar rumah untuk sekolah, kuliah, dan bekerja, engkau adalah orang yang paling pandai menyembunyikan rindu. Di depan kami, engkau berkata, “Pergilah, Nak, kejar cita-citamu,” tapi setelah kami berlalu, mungkin engkau sering menatap pintu yang tidak segera terbuka lagi. Engkau dengan sabar mengumpulkan kabar dari telepon singkat, pesan yang kadang terlambat, dan kunjungan yang semakin jarang. Namun setiap kali kami pulang, meskipun hanya sebentar, engkau selalu menyambut seolah-olah seluruh dunia sedang datang ke rumah kecilmu.
Setelah kami mulai meraih satu demi satu pencapaian, engkaulah yang paling bangga menceritakannya pada orang lain. Tidak ada panggung besar, tapi namaku, nama saudara-saudaraku, menjadi cerita yang engkau bawa ke warung, arisan, dan acara keluarga. Engkau memuji keberhasilan kami seakan-akan itu juga keberhasilanmu—padahal sesungguhnya benar begitu. Engkau tidak pernah mengambil bagian dari pujian itu untuk dirimu, tetapi di hadapan Allah, kami tahu, jika ada yang paling layak disebut “pendiri” kesuksesan kami, itu adalah engkau, ibu.
Sesuai fitrahnya, setelah anak-anak dewasa, seharusnya engkau memasuki masa yang lebih tenang: masa menikmati hasil kerja kerasmu, masa di mana kami membalas bakti, menuntunmu jalan-jalan, membawamu berobat tanpa engkau perlu memikirkan biaya, dan membuatmu tersenyum melihat cucu-cucu berlarian di sekitarmu. Tetapi qadarullah, bukan itu yang terjadi. Di saat engkau mulai memasuki usia emas, ketika tubuh seharusnya dimanjakan, sakit justru datang mengetuk dengan cara yang sangat berat: stroke yang perlahan menggerogoti fisikmu. Tangan yang dulu cekatan mulai sulit digerakkan, langkah yang dulu sigap menjadi goyah, dan kami menyaksikannya dengan hati yang robek.
Melihatmu terbaring, bergantung pada bantuan orang lain untuk hal-hal yang dulu engkau lakukan sendiri, adalah pelajaran pahit bagi kami. Engkau yang selama hidup mengajarkan kemandirian, kini justru harus menerima pelayanan dari anak-anak dan orang sekitar. Di sana, engkau mengajarkan satu pelajaran terakhir: bahwa sekuat apa pun manusia, suatu hari ia harus rela bersandar penuh pada Allah dan ridha pada ketetapan-Nya. Engkau jarang mengeluh, meski rasa sakit dan keterbatasan itu jelas terasa di wajahmu. Kami tahu engkau sedang berjuang antara menahan sakit dan menjaga agar kami tidak semakin sedih.
Kemudian, datanglah hari yang paling kami khawatirkan namun tidak bisa kami hindari: hari ketika Allah memanggilmu pulang, justru di saat usia emas sedang menyambutmu. Di tengah rasa kehilangan yang membuncah, ada juga sesal yang diam-diam menyelinap: rasanya kami belum cukup lama membahagiakanmu, belum cukup sering mengajakmu berjalan melihat dunia yang dulu ingin kau jelajahi lewat cerita kami. Engkau pergi membawa sisa-sisa mimpi yang mungkin belum sempat terwujud, sementara kami ditinggalkan dengan tumpukan kenangan dan doa yang mengalir tanpa henti.
Salah satu mimpi yang sangat kuat dalam ingatanku adalah ibadah haji. Engkau dulu sangat ingin ke Baitullah, dan Allah memberi jalan itu—meski pada akhirnya akulah yang menggantikanmu menunaikan rukun Islam kelima. Saat thawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i di antara Shafa dan Marwah, dan berdiri di Arafah, namamulah yang paling sering kusebut. Di setiap doa, aku memohon agar ganjaran perjalanan itu tidak hanya ditulis untukku, tapi juga untukmu yang sepanjang hidup mengajarkan arti ikhlas dan sabar. Aku melangkah di tanah suci sambil membayangkan engkau berjalan di sampingku, dengan mata berkaca-kaca melihat rumah Allah yang dulu hanya kita tatap dari layar televisi.
Setelah engkau tiada, keinginanku untuk berbakti tidak serta-merta padam; justru semakin menyala dalam bentuk yang berbeda. Aku tahu, aku tidak lagi bisa menghapus lelahmu dengan memijat kakimu, tidak bisa lagi membelikan makanan kesukaanmu, atau mengantarmu ke dokter sambil menggenggam tanganmu. Tapi aku belajar dari para ulama, bahwa bakti kepada orang tua tidak berhenti ketika jasad mereka dikembalikan ke tanah. Doa anak yang shalih, sedekah atas nama orang tua, dan amal jariyah yang pahalanya dihadiahkan kepada mereka adalah jalan panjang yang masih bisa kutempuh.
Maka, setiap kali aku berdiri mengajar, menulis buku, atau membantu orang lain belajar menjadi lebih baik, diam-diam aku berniat: “Ya Allah, jadikan ilmu ini sebagai pahala yang mengalir juga untuk ibuku.” Setiap kali aku bersedekah, aku sisipkan namamu dalam hati, berharap setiap butir pahala yang jatuh ke dalam catatan amal juga menambah terang kuburmu. Setiap kali aku memaafkan orang lain atau menahan marah, aku teringat wajahmu yang lembut, dan berharap Allah membalas kelembutanmu dengan kedudukan mulia di sisi-Nya. Dengan cara-cara kecil itu, aku mencoba menebus apa yang dulu tidak sempat aku lakukan ketika engkau masih ada.
Ibu, aku tidak tahu bagaimana keadaanmu di sana sekarang. Yang kutahu, Rabb yang dulu engkau sebut dalam doa-doa malam adalah Rabb yang sama yang kini menjagamu di alam barzakh. Dari kejauhan, lewat sujud yang seringkali masih berair mata, aku memohon satu hal: semoga Allah meridhai setiap lelahmu, mengampuni dosa-dosamu, melapangkan kuburmu, dan mempertemukan kita kembali dalam keadaan saling tersenyum di surga-Nya. Jika aku hari ini tampak “berhasil” di mata manusia, sesungguhnya aku hanyalah bayangan dari kebaikanmu. Dan semoga, ketika catatan hidup ini ditutup, namaku tercatat sebagai anak yang tidak hanya bangga pada ibunya, tetapi juga sungguh-sungguh berusaha menjadi amal shalih untuknya. []
