Sat. Apr 18th, 2026

Dari kepulauan yang sunyi di Karimun, takdir membawa saya ke sebuah kota Bahari yang ramai dan penuh warna: Tegal, 2007. Kota yang terkenal dengan logat Ngapak yang lugas dan berterus terang ini segera menyambut saya dengan tugas baru, sekaligus panggilan jiwa yang lama: menjadi relawan di sebuah lembaga zakat dan filantropi lokal.

Misi kami di Tegal cukup sederhana namun fundamental: membina anak-anak remaja. Tugas ini membawa saya bertemu dengan banyak karakter, tetapi tidak ada yang lebih membekas dari sosok yang biasa kami panggil Mas Yono.

Pertemuan pertama dengannya sungguh menguji keberanian. Mas Yono adalah seorang lelaki dengan rambut gondrong terurai, wajahnya memiliki aura yang cukup garang, bahkan sedikit menyeramkan. Secara naluriah, ada rasa takut yang muncul, sebuah prasangka yang terbentuk dari citra visual.

Namun, semua prasangka itu runtuh hanya dalam hitungan detik. Senyumnya yang lebar dan tulus, diikuti dengan keramahan serta kehangatan yang ia tunjukkan, segera menghapus ketakutan saya. Saya segera menyadari bahwa hati yang baik tidak selalu bersembunyi di balik penampilan yang rapi.

Mas Yono adalah jantung dari kegiatan kami. Dialah koordinator acara yang paling giat, orang yang bertanggung jawab mengumpulkan dan mengkoordinir anak-anak remaja. Dengan wajahnya yang garang itu, siapa sangka ia memiliki kelembutan hati seorang pembina.

Anak-anak yang kami bina sebagian besar adalah potret dari perjuangan sunyi. Mereka adalah remaja yang orang tuanya merantau jauh ke Jakarta atau bahkan ke luar negeri, bekerja keras sebagai pengusaha Warteg atau pekerja pabrik. Mereka tumbuh di Tegal tanpa kehadiran orang tua setiap hari, menghadapi hidup dengan kemandirian yang dipaksakan.

Kami menyediakan tempat bagi mereka untuk berbagi dan tumbuh. Rutinitas kami meliputi kegiatan belajar bersama, les bahasa, mengaji Al-Qur’an, dan bimbingan keislaman. Itu adalah upaya untuk mengisi kekosongan bimbingan dan kasih sayang yang seharusnya mereka dapatkan dari orang tua.

Namun, semangat anak-anak ini sungguh luar biasa. Mereka rajin mengaji dan berbakat, menunjukkan sifat pantang menyerah yang sama persis dengan etos kerja orang tua mereka sebagai pengusaha di ibukota. Mereka adalah benih-benih harapan yang siap tumbuh, asal disiram dengan cinta yang benar.

Beberapa bulan sekali, kami mengadakan acara besar untuk mempererat persaudaraan. Salah satu yang paling berkesan adalah wisata ke Guci, daerah pegunungan yang terkenal dengan sumber air panasnya. Acara ini kami selenggarakan melalui kerjasama yang indah dengan Kepolisian setempat, yang dengan tulus menyediakan armada kendaraan untuk mengangkut anak-anak.

Perjalanan ke Guci adalah sebuah perayaan kebersamaan. Di sana, kami mengadakan outbound, permainan yang seru dan menantang, serta pembelajaran tentang nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Momen puncaknya, yang selalu menjadi benchmark dari setiap kegiatan kami, adalah Qiyamul Lail di tengah dinginnya pegunungan. Di bawah langit Tegal yang gelap, para remaja yang sehari-hari dikenal ceria itu mendirikan shalat tahajud berjamaah, memanjatkan doa-doa di keheningan malam.

Menyaksikan mereka bersujud, memohon ampunan, dan mencurahkan isi hati mereka kepada Tuhan, adalah pemandangan yang mengharukan. Itu adalah Jendela Kecil yang membuka pemandangan ke dalam jiwa-jiwa mereka yang tulus, jauh dari ingar-bingar kota.

Kami melakukan tracking di pegunungan, berenang di sumber air panas untuk membersihkan badan, namun yang terpenting, kami membersihkan hati. Kegiatan ini menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, kerjasama, dan keimanan yang tangguh.

Mas Yono, si koordinator berwajah garang, selalu menjadi yang terdepan dalam setiap games dan pengarahan. Dialah yang paling keras berteriak memberi semangat, namun paling lembut dalam menenangkan anak-anak yang sedang berjuang. Ia adalah pelajaran hidup nyata: Jangan pernah menilai buku dari sampulnya.

Waktu bertugas di Tegal berlalu dengan cepat, tak sampai satu tahun. Tugas kantor kembali memanggil, dan saya harus pindah ke kota lain, Pekalongan. Perpisahan itu terasa berat, meninggalkan Mas Yono dan anak-anak yang penuh semangat itu.

Perpisahan dengan anak-anak Tegal adalah perpisahan yang haru. Mereka bukan lagi sekadar binaan, tetapi telah menjadi keluarga spiritual yang mengajarkan saya banyak hal tentang ketulusan dan ketahanan jiwa.

Kenangan di Tegal menegaskan bahwa Cinta dan Keikhlasan bisa ditemukan di mana saja, bahkan di balik sosok yang awalnya kita takuti. Dan semangat juang anak-anak Tegal yang pantang menyerah, seperti para pengusaha Warteg di ibukota, adalah inspirasi abadi bagi siapa pun yang berani bermimpi. Mas Yono, dengan rambut gondrong dan hati emasnya, adalah pahlawan sunyi yang mewujudkan cita-cita itu

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *