Di kota Batam yang ramai ini, kami mengenalnya bukan dari nama aslinya, melainkan dari julukan yang melekat erat pada penampilannya: Om Slank. Usianya beberapa tahun lebih muda, namun aura yang ia pancarkan adalah aura seorang musafir jalanan yang telah melihat banyak hal. Dengan rambut berurai panjang, kaus oblong bergambar rocker, dan celana jins belel, ia adalah prototipe tukang ojek yang mungkin dihindari banyak orang.
Namun, di balik citra luarnya yang terkesan urakan, Om Slank adalah penjala rezeki yang tekun. Pekerjaannya tak hanya sebatas menarik ojek. Ia menerima tugas apa pun yang halal: kurir surat, pengantar dokumen, sampai melayani pembayaran tagihan. Ia adalah “tukang serba bisa” di jalanan, selalu bersedia mengambil peran apa pun demi lembar rupiah yang bersih.
Ia berinteraksi dengan spektrum masyarakat yang luas—mulai dari karyawan pabrik, ibu rumah tangga yang hendak ke pasar, hingga mereka yang bekerja di gemerlap malam. Om Slank adalah saksi bisu kota, pendengar setia berbagai cerita, dan penjelajah setiap sudut jalanan.
Sayangnya, latar belakang keluarga Om Slank adalah badai yang sunyi. Kakaknya dikenal sebagai preman yang sering beroperasi di terminal kampung, dan adiknya pun tak jauh berbeda, lebih suka berkeliaran di jalanan ketimbang menekuni keahliannya sebagai tukang kayu. Kedua orang tuanya pun hidup dalam ketidakharmonisan. Lingkungan yang ia tinggalkan adalah lingkungan yang berantakan, jauh dari ketenangan.
Namun, di tengah puing-puing latar belakang itu, muncullah Cinta yang paling murni: baktinya kepada sang Ibu. Inilah Jendela Kecil pertama dalam hidupnya. Dari cerita-cerita yang ia bagi, kami menyimpulkan bahwa Om Slank adalah seorang anak yang berbakti, memikul tanggung jawab yang seharusnya dipikul oleh seluruh keluarga.
Hampir setiap bulan, dari hasil menarik ojek yang terkadang tak seberapa, ia selalu menyisihkan sebagian uangnya secara khusus. Uang itu bukan untuk dirinya, bukan untuk memperbaiki penampilannya, melainkan dikirimkan ke kampung sebagai penopang kehidupan ibunya. Pengorbanan ini adalah perjuangan ikhlas yang tak pernah ia pamerkan.
Selain berbakti, Om Slank dikenal sangat ringan tangan. Jika tetangga atau kami sendiri meminta bantuan untuk pekerjaan apa pun, ia akan segera melakukannya. Ia berikan tenaganya tanpa menanyakan imbalan. Keikhlasannya untuk menolong adalah cerminan dari hati yang lebih bersih dari penampilannya.
Sampai suatu hari, kota yang kami tinggali mencekam. Konflik antarsuku meletus, mengubah jalanan menjadi arena pertikaian yang menakutkan. Kabar pembunuhan dan kekerasan terdengar di mana-mana. Semua orang memilih berlindung di rumah, cemas menunggu badai mereda.
Malam itu, jam sembilan, Om Slank belum juga kembali. Kekhawatiran mulai merayap di hati kami. Kami tahu, dengan penampilannya yang mencolok, ia sangat rentan menjadi target atau sasaran amarah di tengah kerusuhan tersebut.
Kami berusaha menghubungi. Namun, Om Slank tidak memiliki ponsel. Kami mencoba menelpon beberapa langganannya, tetapi tidak ada yang tahu keberadaannya saat itu. Kami hanya bisa pasrah, melihat jam terus berdetak, sementara kecemasan berubah menjadi kepanikan yang dingin.
Meskipun tidak ada hubungan darah, Om Slank sudah menjadi bagian dari keluarga tak terucap di rumah ini. Kami hanya bisa berpegangan pada harapan dan memanjatkan doa: semoga Tuhan melindungi hati emas yang tersembunyi di balik kaus butut itu.
Pukul sepuluh malam kurang, telepon rumah kami berdering. Jantung saya berdetak kencang, takut itu adalah kabar dari kepolisian atau rumah sakit. Setelah menahan napas, saya mengangkatnya, berusaha menenangkan diri.
“Assalamuálaikum,” suara itu terdengar. Suara Om Slank. Betapa lega rasanya mendengar suaranya yang riang, seolah tidak terjadi apa-apa di luar sana. Kami mendesaknya untuk segera pulang, mengatakan betapa cemasnya kami.
Namun, Om Slank malah asyik bercerita tentang kengerian yang baru ia saksikan: seorang sopir taksi dikeroyok, mobilnya dibakar di tengah jalan. Ia juga menceritakan bagaimana ia harus berhati-hati melewati kelompok yang melakukan “operasi KTP” di beberapa persimpangan. Suaranya datar, seolah ia baru saja menceritakan jadwal pasar pagi.
Kami berulang kali memintanya pulang, mengakhirinya sampai di sini. Tapi ia bersikukuh, “Aku masih mau narik sebentar lagi. Penumpang malam ongkosnya lebih banyak.” Kalimat itu menusuk. Kalimat itu menunjukkan perjuangan yang sesungguhnya: mempertaruhkan nyawa demi tambahan beberapa lembar rupiah yang mungkin akan dikirimkan ke Ibunya.
Setelah didesak, akhirnya ia setuju untuk pulang, berjanji akan mampir membeli gorengan untuk kami. Om Slank memang pemurah. Ia selalu pulang membawa sesuatu—minuman, buah, atau bahkan sate—untuk dibagi kepada kami yang tinggal berempat.
Suatu hari, Om Slank menyampaikan keinginannya untuk membeli motor sendiri. Ia lelah menyetor uang sewa bulanan. Uang cicilan motor sendiri hampir sama dengan uang sewa, tetapi kendalanya adalah uang muka tiga juta rupiah. Mendengar impian tulusnya, kami berempat berembuk.
Kami, teman-teman serumah, menyatukan tabungan. Om Slank sudah mengumpulkan Rp1.200.000. Kami bertiga menyumbang sisa kekurangan. Kekurangan terakhir lima ratus ribu rupiah ditutup oleh kebaikan hati tetangga kami, Pak Suryo, yang meminjamkannya tanpa batas waktu pengembalian. Itulah Keajaiban Cinta yang lahir dari perjuangan bersama.
Esoknya, Om Slank pergi ke dealer dan pulang membawa motor Astrea Grand barunya. Ia tidak lagi menyewa, ia adalah pemilik. Penampilannya tetap sama—kaus butut dan rambut gondrong—namun kini ia memiliki motor dengan stiker nyentrik yang melambangkan kemandiriannya.
Setahun kemudian, Om Slank pindah ke kontrakan sendiri. Namun, ia tak pernah lupa. Setiap bulan, ia akan datang menjenguk kami, jaket butut dan Astrea Grand-nya selalu beriringan. Kami yakin, bungkusan yang tergantung di stang motornya itu adalah oleh-oleh gorengan, simbol Keikhlasan dan Kebersamaan yang tak lekang oleh waktu.
Lebih dari lima tahun kami tak bertemu dengannya, seiring saya pindah tugas ke kota lain. Kabar terakhir ia sudah menikah. Tapi satu hal yang pasti: di balik penampilan yang dianggap remeh, ada seorang Om Slank yang mengajarkan kami semua bahwa Cinta dan Perjuangan yang paling heroik adalah yang dilakukan secara sunyi, dan hadiah terbesar dari keikhlasan adalah terciptanya persaudaraan sejati.
