Ekspedisi Lintas Alam Antar Pecinta Alam di Sei Ladi Batam, yang seharusnya menjadi ajang uji nyali yang seru, berubah menjadi drama penyelamatan yang menegangkan. Tim yang tersesat adalah bagian dari BAC—Batam Adventure Club, tim pecinta alam dan pemandu outbound yang kami dirikan sejak tahun 2003. Sebuah tim yang lahir dari semangat kerelawanan para pekerja Kawasan Industri Batamindo.
BAC bukanlah sekadar klub, melainkan keluarga yang terdiri dari hampir 25 trainer (pemandu) Ikhwan dan Akhwat. Mereka adalah relawan yang menukarkan waktu lembur mereka untuk membina dan melayani. Momen ini menjadi ujian nyata bagi kesetiakawanan tim yang kini banyak mengelola Wana Wisata Senimba.
Kecemasan mulai melanda saat waktu beranjak sore, dan setengah dari total peserta lomba—termasuk anggota tim akhwat BAC, yang di dalamnya ada Nova—belum juga mencapai garis akhir. Prediksi panitia meleset, dan hutan Sei Ladi telah menelan mereka.
Malam pun datang, membawa ketegangan yang mencekam. Saya sempat berhasil melakukan kontak terakhir dengan Nova, salah satu tm kami. Suaranya terdengar cemas, ia menduga ada pihak yang sengaja merusak penunjuk arah jalan. Setelah itu, kontak terputus. Ponsel mereka, di tengah belantara, tak lagi bersahabat dengan sinyal.
Setelah Maghrib, kepanikan menjadi nyata. Seorang panitia lomba yang saya kenal segera menghubungi, memohon saya untuk ikut dalam tim evakuasi. Tanpa membuang waktu, saya bergegas ke lokasi. Saya merasakan tanggung jawab besar sebagai salah satu pendiri tim yang kini tersesat.
Kami membentuk tim pencari darurat yang terdiri dari lima orang, termasuk saya. Tim ini diperkuat oleh personel SAR Otorita Batam dan pembina pramuka yang berpengalaman. Kami adalah representasi dari warga Batam yang menolak menyerah pada takdir.
Malam itu, hutan Sei Ladi adalah labirin yang menakutkan, gelap, dan sunyi. Kami menyusuri medan yang berat, hanya berbekal senter seadanya. Di setiap langkah, hati saya dipenuhi doa, berharap menemukan tanda-tanda kehidupan.
Medan pendakian yang kami lalui sungguh brutal. Lumpur sisa hujan, akar yang melilit, dan lereng yang curam. Perjuangan Ikhlas ini menuntut pengorbanan personal yang mendalam. Sepatu yang saya kenakan hancur sama sekali, koyak oleh tajamnya medan. Akhirnya, saya putuskan untuk mencopotnya dan terus berjalan tanpa alas kaki, tak peduli rasa sakit yang menusuk.
Rasa sakit di kaki itu seolah hilang, tertutupi oleh tekad dan kekhawatiran sebagai seorang trainer dan pendiri tim. Setelah hampir dua jam berjalan dalam kegelapan yang pekat, kami melihatnya: Titik Api yang redup, sebuah mercusuar harapan di tengah sunyi.
Kami segera bergerak mendekat. Syukur Alhamdulillah, itu adalah api unggun yang dinyalakan oleh kelompok yang tersesat. Salah seorang dari mereka mendapatkan sinyal sebentar dan langsung menghubungi tim kami. Kami meminta mereka tetap tenang, terus menjaga api, dan saling menghibur.
Namun, ketika kami hampir mencapai titik api itu, langkah kami terhenti. Di hadapan kami terbentang sungai yang cukup lebar. Kami di daratan, mereka di seberang sana. Jalan kaki kami terputus. Namun ada salah seorang anggota pramuka yang ada dalam rombongan tersbeut memberanikan diri berenang menuju arah kami. Tidak berhasil melalui jarak tersebut.
Momen itu adalah titik kritis. Kami segera menghubungi pos utama SAR Batam. Dalam keputusasaan yang tertahan, kami meminta bantuan speed boat untuk mengevakuasi mereka yang terisolir di seberang sungai.
Dalam waktu sekitar satu jam, suara mesin speed boat datang memecah kesunyian. Satu per satu, para peserta diselamatkan. Wajah-wajah mereka pucat, namun tatapan mereka memancarkan rasa syukur dan lega.
Setelah semua peserta berhasil dievakuasi, barulah kami, tim pencari yang letih, naik ke speed boat terakhir. Kami keluar dari hutan Sei Ladi, meninggalkan kegelapan dan lumpur.
Di luar hutan, suami salah satu anggota tim telah menunggu dengan mobil, wujud nyata dukungan yang tak terucap. Kami mengantar para akhwat BAC pulang, memastikan mereka kembali ke rumah dengan selamat, mengakhiri drama menegangkan malam itu.
Kisah di Sei Ladi ini adalah pengingat abadi bahwa Kesetiakawanan para relawan BAC—mereka yang menukar gaji lembur dengan pengabdian—adalah nyawa organisasi ini. Dan Perjuangan Ikhlas untuk menyelamatkan sesama adalah makna sejati dari adventure yang melebihi segala outbound yang pernah kami pandu. Kenangan akan malam di mana kami berjalan tanpa alas kaki demi ukhuwah akan selalu menjadi fondasi kuat BAC, yang kini terus eksis mengelola Wana Wisata Senimba, Batam. []
