Fri. Jun 5th, 2026

Senja di Pantai Nongsa, Batam, selalu menghadirkan ketenangan. Perahu nelayan yang bersandar mengingatkan akan sejarah panjang bangsa pelaut. Di pesisir timur pulau ini, menjelang malam, warga berjalan menuju masjid sederhana, mencari keteduhan jiwa.

Kami, kurang lebih 40 orang dari Batam dan Bintan, membelokkan mobil Charade tua menuju lokasi Mabit (Malam Bina Iman dan Takwa). Lokasinya unik: sebuah hotel tua yang sudah tidak terpakai, di tepi pantai. Murah, syahdu, dan sempurna untuk menyambut ukhuwah.

Begitu sampai, wajah-wajah ramah menyambut. Meskipun kami datang dari berbagai wilayah dan baru bertemu, kami saling bersalaman dan berangkulan erat. Saling sapa yang tulus itu membuatku merasakan indahnya Persaudaraan Hakiki yang terikat oleh ikatan iman, sesuatu yang mustahil terjadi tanpa koneksi hati.

Setelah sholat berjamaah, kami menikmati makan malam. Sederhana, tetapi penuh berkah. Nasi bungkus dibagikan, dua bungkus dimakan bertiga. Kami duduk melingkar, saling berhadapan. Menikmati nasi dengan lauk seadanya, tetapi dengan kebahagiaan yang luar biasa. Sungguh nikmat yang tiada tara.

Malam semakin larut, dan Ustadz menyampaikan taujihnya tentang kemuliaan orang beriman. Pesan itu disampaikan dengan kelembutan, menenangkan jiwa yang cemas dan bersedih.

Acara berikutnya yang paling mengharukan: pemutaran film tentang perjuangan umat Islam yang mempertahankan wilayahnya. Tua-muda saling bahu membahu dalam perjuangan. Bahkan ada wanita yang ikut serta dalam perjuangan itu.

Malam memuncak dalam syahdunya Qiyamul Lail. Ustadz melantunkan Surat Al Anfaal dengan bacaan yang menyayat hati. Ayat demi ayat, jiwaku semakin terbawa dalam lautan air mata.

Terutama ketika sampai pada ayat-ayat tentang perintah jihad: “Infiruu khifafan watsiqoolan ..wajahidu biamwalikum wa anfusakum…”. Ayat itu terasa ditujukan langsung kepada kami, yang tidak ikut dalam barisan para mujahid.

Kami larut dalam kekhusyukan, tak merasakan gigitan nyamuk yang mengerubuti tubuh kami. Kami hanya merasakan kehangatan ukhuwah dan kedekatan dengan Sang Pencipta.

Setelah sholat Witir, Ustadz memimpin doa bersama. Kalimatnya mengiris kalbu. Kami mendoakan para syuhada, saudara-saudara kami di Ambon, Palestina, Afghanistan, dan seluruh belahan bumi yang tengah berjuang mempertahankan agama.

Malam ditutup dengan dzikir hingga Subuh menjelang, kemudian doa ma’tsurat yang semakin mengokohkan ikatan persaudaraan kami.

Pagi harinya, suasana berubah total. Keceriaan dan semangat meledak dalam permainan perang-perangan. Panitia membagi kami menjadi tiga kelompok. Amunisi kami hanyalah air yang dibungkus plastik. Siapa yang terkena, dianggap gugur (syahid).

Permainan dimulai dengan teriakan takbir, masing-masing regu menyusun strategi, mencari pertahanan, dan saling mengejar.

“Allahu Akbar!” teriak Gafur, anggota regu pemenang, lantang. Mereka berhasil melumpuhkan lawan dan merebut wilayah. Mereka bersorak merayakan kemenangan.

Namun, di tengah sorak gembira itu, seorang peserta dari regu lawan berteriak kencang: “Curang! Gafur tadi sudah tertembak! Permainan batal!”

Gafur yang dituduh curang, membela diri dengan kepolosan yang tak terduga:

“Saya nggak apa-apa kok. Tadi kan cuma kena di kaki saja, masak bisa mati? Di fikm perjuangan saja sampai kakinya putus masih ikut perang!”

Seketika, tawa yang tertahan pun pecah. Kami semua menanggapi dengan senyuman yang dibasahi air mata haru. “Walah… Gafur…”

Rupanya, semangat dan gejolak film dokumenter Ambon tadi malam masih bersemayam kuat di dalam hatinya. Ia telah membawa jiwa mujahid ke dalam permainan.

Sudah puluhan tahun peristiwa itu berlalu. Sebagian dari mereka kini telah menjadi pejabat penting di negara ini. Tetapi, kenangan penuh keindahan di Pantai Nongsa, persaudaraan hakiki, dan kepolosan Gafur yang heroik itu, masih tersimpan rapi sebagai harta yang tak ternilai di lubuk hati kami. []

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *