Awal tahun 2012. Jakarta dicekam ketegangan. Sungai di wilayah Petamburan meluap hebat, diduga karena derasnya air kiriman dari Bogor. Dalam sekejap, air bah itu menjelma menjadi banjir bandang, menenggelamkan rumah, harapan, dan ketenangan warga.
Saat kabar itu menyebar, saya segera bergabung bersama tim Relawan Tanggap Bencana Tanah Abang. Kami memilih Puskesmas Petamburan sebagai posko utama. Selama hampir seminggu, tempat itu menjadi markas, ruang istirahat, sekaligus jantung logistik kami.
Sepekan itu, hidup kami berjalan di atas ketidakpastian. Hari-hari dihabiskan untuk evaluasi cepat, mendistribusikan logistik vital, dan membantu ribuan masyarakat yang terdampak. Malam hari adalah ujian sesungguhnya. Kami harus waspada total, karena setiap saat, luapan susulan bisa datang tanpa peringatan.
Di balik seragam relawan yang basah dan lelah, semangat kami tidak pernah padam. Kami adalah jembatan antara keputusasaan dan harapan.
Satu peristiwa khususnya masih terekam jelas, sebuah momen yang benar-benar menguji nyali dan batas kekuatan kami.
Kami mendapat laporan: seorang kakek terjebak di dalam rumahnya, yang terletak sangat dekat dengan Waduk Petamburan. Akses ke sana sulit, arusnya deras, dan air sudah mencapai dada orang dewasa.
Misi evakuasi itu sungguh menegangkan. Setiap langkah harus diperhitungkan. Perahu karet kami harus bermanuver di antara puing-puing dan tiang-tiang rumah yang miring. Teriakan instruksi bercampur dengan deru air.
Ketika kami berhasil menjangkau kakek itu, ia tampak lemas dan kedinginan, namun matanya memancarkan kelegaan yang tak terhingga. Mengangkat tubuhnya yang ringkih ke perahu terasa seperti memikul beban seluruh Petamburan. Misi itu adalah kemenangan kecil kemanusiaan.
Ironisnya, di tengah bencana kemanusiaan itu, situasi kota sedang dihangatkan oleh Pilkada pemilihan calon gubernur. Tentu saja, tim sukses dari berbagai kubu ikut nimbrung di lokasi bencana.
Mereka datang dengan spanduk, bantuan berlabel, dan janji-janji yang seringkali terasa hampa. Mereka mencoba mengambil simpati, berfoto bersama, namun masyarakat Petamburan sudah cerdas. Kepercayaan warga tetap terpatri pada kami, para relawan, yang bekerja tanpa label dan pamrih.
Kami fokus pada misi nyata, bukan pencitraan. Sebab, nyawa dan waktu tidak bisa dinegosiasikan.
Di posko, kami dihadapkan pada kasus-kasus kritis yang menuntut respons secepat kilat.
Saya ingat betul wajah seorang Ibu yang harus segera dibantu karena sudah waktunya melahirkan. Di tengah kondisi banjir yang memutus jalan, kami harus mencari jalur tercepat dan termudah agar Ibu tersebut bisa mencapai fasilitas medis dengan selamat. Ketegangan saat mengantar Ibu itu terasa seperti menanti kelahiran anak kami sendiri.
Ada juga orang sakit yang harus segera ditangani dan dibawa ke RS Pelni. Setiap menit adalah penentu. Logistik transportasi mendadak menjadi alat yang paling berharga di dunia.
Keadaan memaksa kami untuk bekerja dengan hati dan kecepatan. Kami belajar bahwa skill distribusi logistik, evaluasi kerentanan, dan bahkan sekadar mendengarkan keluh kesah warga, adalah bentuk pengabdian tulus yang paling bernilai.
Di malam hari, setelah distribusi dan evakuasi selesai, kami akan berkumpul di posko. Kelelahan fisik terasa menusuk, namun cerita keberhasilan kecil hari itu menjadi suntikan semangat. Aroma obat-obatan dan bubur hangat menjadi penghibur kami.
Kami melihat, di balik genangan air keruh Petamburan, tumbuhlah solidaritas murni. Warga saling bantu. Para relawan bekerja tanpa mengenal lelah.
Itu adalah sepekan yang mengubah pandangan hidup. Sepekan yang mengajarkan bahwa di tengah bencana, kita menemukan sisi kemanusiaan kita yang paling murni dan paling kuat.
Kami meninggalkan posko setelah situasi mulai terkendali. Kami pergi dengan badan yang lelah, namun dengan jiwa yang terisi penuh oleh makna persaudaraan dan keikhlasan sejati.
Kenangan evakuasi kakek, kekhawatiran ibu melahirkan, dan ironi politik di tengah bencana, semua itu menjadi jejak tak terhapuskan dari pengabdian kami di Garis Depan Petamburan 2012. []
