Fri. Jun 5th, 2026

Kota Batam di awal tahun 2000-an adalah kanvas yang dilukis oleh gedung-gedung industri yang menjulang tinggi. Kami, sepasang pengantin baru, hanyalah sepasang titik kecil yang ikut larut dalam hiruk-pikuknya. Namun, tak jauh dari gemerlap pelabuhan, terdapat sebuah kontras nyata. Di sana, tersembunyi sebuah kawasan padat yang disebut Kampung Pelita, tempat puluhan anak kecil bertahan hidup. Mereka adalah pemulung, pengemis, atau pengamen cilik—wajah-wajah yang seharusnya dihiasi buku dan pensil, tetapi sibuk melompati gerobak dan mengais rezeki.

Panggilan hati itu hadir melalui seorang pegiat sosial yang mengasuh mereka. Kami merasa terpanggil, bukan karena punya kekayaan materi, melainkan karena kami percaya pada kekuatan ilmu dan keikhlasan. Bersama istri, kami memutuskan untuk mengulurkan tangan. Kami tidak sendiri; sepasang pengantin muda lain yang kami temui ternyata punya cita-cita yang sama: membuka jendela harapan bagi mereka yang terpinggirkan. Di sanalah, di ruang komunal yang sederhana, kami mendirikan “ruang kelas” kami.

Jadwal kami padat, tiga kali seminggu, setelah jam kerja usai. Kami membagi fokus pada mata pelajaran dasar yang krusial. Ada kelas matematika, di mana kami berusaha mengajarkan bahwa angka bisa menjadi alat untuk menghitung masa depan, bukan hanya hasil jualan hari ini; ada bahasa Inggris sebagai bekal untuk berani menyapa dunia yang lebih luas; dan yang paling penting, pelajaran mengaji, sebagai penenang hati yang lelah oleh kerasnya jalanan.

Mengajar mereka adalah tantangan sekaligus keberkahan. Terkadang, di tengah penjelasan tentang rumus, mata seorang anak sudah terpejam pulas karena kelelahan seharian memulung. Kami harus ekstra sabar dan fleksibel. Kami belajar bahwa kedisiplinan tidak selalu berupa duduk tegak, melainkan kemampuan untuk kembali fokus setelah lelah sejenak. Namun, kegigihan dan kejujuran mereka membuat kami terharu. Mereka tidak pernah datang dengan tangan kosong; selalu ada kisah yang mereka bagi, tentang hari baik dan hari buruk, semua diceritakan tanpa filter kepalsuan.

Momen-momen unik dan lucu selalu menjadi bahan bakar semangat kami. Salah satu kegiatan yang paling berkesan adalah saat kami mengadakan khitanan massal. Kami berusaha keras menciptakan suasana yang menyenangkan, bukan menakutkan. Kami adakan nonton film bersama sambil menunggu giliran, dan hadiah serta bingkisan yang kami siapkan hanyalah penghargaan atas keberanian mereka.

Puncaknya adalah saat Budi, anak yang biasanya paling sok jagoan dan pemberani, tiba-tiba menangis sejadi-jadinya dan lari keluar ruangan. Semua relawan panik. Tapi tak lama, ia kembali dengan langkah pelan. Matanya masih berkaca-kaca, tetapi pandangannya tertuju pada bingkisan hadiah. “Demi sebuah tas, aku siap, Kak!” ujarnya dengan suara serak, membuat semua orang yang ada di sana tertawa haru. Komedi dan keberanian berpadu, mengajarkan kami bahwa semangat juang seringkali didorong oleh iming-iming masa depan, bahkan jika itu hanya berupa sepeda.

Lebih menghangatkan lagi adalah ketika sebuah lembaga sosial membantu kami menyelenggarakan field trip. Bagi sebagian besar anak-anak itu, perjalanan ke luar Kampung Pelita adalah petualangan fantastis. Mata mereka berbinar menyaksikan pantai atau taman kota, seperti melihat keajaiban. Kami tahu, rekreasi ini bukan sekadar bermain; ini adalah upaya membuka jendela di kepala mereka, menunjukkan bahwa dunia ini luas, indah, dan menunggu untuk dijelajahi. Momen itu menguatkan keyakinan kami: pendidikan sejati adalah tentang membuka cakrawala.

Namun, seperti halnya episode indah, masa pengabdian kami memiliki batas. Tak terasa, dua tahun lebih telah berlalu, dan tuntutan pekerjaan memaksa kami sepasang suami-istri harus pindah kota. Kabar perpisahan itu menjadi pukulan berat. Hari terakhir di Kampung Pelita terasa begitu sunyi, meski keramaian anak-anak tetap ada. Kami berusaha tersenyum, tetapi melihat wajah mereka yang sedih, pertahanan kami runtuh.

Pelukan perpisahan menjadi klimaks emosional yang tak terlupakan. Anak-anak memeluk kami erat, tidak mau melepaskan. Beberapa dari mereka menyerahkan gambar-gambar coretan yang mereka sebut “Ijazah Cinta Kasih.” Di dalamnya tergambar kami, mereka, dan ruang kelas kecil itu. Itu adalah upah terindah yang kami terima, melebihi nilai uang apa pun.

Kami juga berpamitan kepada orang tua mereka, para pekerja keras yang berjuang dari pagi hingga malam. Ucapan terima kasih tulus dari mereka, yang disampaikannya dengan pelukan hangat dan mata berkaca-kaca, adalah pengakuan bahwa kehadiran kami, meskipun singkat, telah membawa sedikit cahaya ke dalam rumah mereka.

Perpisahan mengajarkan kami tentang hakikat keikhlasan: kami tidak perlu melihat akhir dari apa yang kami tanam. Benih-benih kebaikan yang ditebar, meskipun kecil, akan menemukan jalannya untuk tumbuh. Cinta yang kami berikan di Kampung Pelita tidak pernah benar-benar pergi; ia berpindah menjadi kenangan yang menguatkan dan energi di hati para relawan lain yang melanjutkan perjuangan.

Pengalaman di Kampung Pelita itulah yang menjadi “Jendela Kecil di Tengah Badai” dalam pernikahan kami. Jendela yang menguatkan prinsip hidup kami, bahwa di tengah badai kehidupan, kebahagiaan sejati dan terbesar bukanlah tentang pencapaian pribadi yang tinggi, melainkan tentang kemampuan kita untuk mengulurkan tangan dan mencintai tanpa syarat. Itulah warisan abadi yang kami bawa dari Batam.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *