Fri. Jun 5th, 2026

Malam itu, suasana pertemuan pengajian pekanan terasa sepi dan berbeda. Beberapa kursi kosong; ada yang berhalangan karena sakit, satu di antaranya sedang tertimpa musibah. Di tengah suasana itu, Bang Hasan, sosok murobbi sekaligus panutan, meminta izin untuk datang terlambat karena pekerjaan yang padat. Acara pun dimulai, dibuka dengan lantunan tilawah Al-Qur’an yang menenangkan jiwa.

Pengajian berlanjut dengan cerita-cerita inspiratif. Umar, salah satu anggota, berbagi pengalaman menegangkan saat menjelajah hutan dan nyaris tenggelam terseret arus sungai. Ia merangkai setiap insiden menjadi ibroh (pelajaran) tentang kebesaran Allah, sebuah pemanasan spiritual sebelum taujih (nasihat) utama disampaikan.

Mas’ul (penanggung jawab) kemudian mengambil alih, menyampaikan taujih ruhiah yang mendalam tentang makna sejati keberadaan dalam dakwah. Ia menyentuh isu mihnah (ujian) dakwah yang tak terhindarkan dan godaan-godaan halus yang bisa meruntuhkan keimanan para pejuang.

Semua yang hadir menundukkan kepala, meresapi setiap kata. Mas’ul menyinggung isu klasik namun fundamental: pentingnya menjaga iffah (kesucian) dan membatasi interaksi dengan lawan jenis. Meskipun terasa pragmatis, penyampaiannya yang disertai perasaan tulus membuat isu itu terasa nyata, sangat relevan dengan godaan yang sedang dihadapi komunitas mereka.

Setelah taujih usai, Bang Hasan belum juga datang. Mas’ul memutuskan untuk menutup sesi resmi itu dengan Doa Rabithah—sebuah doa pengikat hati yang terasa sangat emosional malam itu—sebelum melanjutkan dengan obrolan santai sambil menunggu kedatangan Bang Hasan.

Beberapa saat kemudian, ketika mereka sedang menikmati hidangan sederhana dan berbagi tawa ringan, pintu terbuka. Bang Hasan muncul dengan senyumnya yang khas, memancarkan keramahan ukhuwah yang menyejukkan. Beliau menyalami yang hadir satu per satu, menanyakan kabar yang absen, seolah menenangkan hati semua orang setelah taujih yang haru.

Bagi kelompok pengajian ini, Bang Hasan bukan hanya mentor; beliau adalah abang sendiri, bahkan bapak asuh. Usia mereka tidak terpaut jauh, tetapi kekuatan ruh yang terpancar dari wajah dan perilakunya memberikan karisma yang meneduhkan.

Bang Hasan kemudian menyampaikan beberapa ta’limat (arahan) dari lembaga dakwah. Setelah itu, beliau mulai bercerita. Perlahan, ia mengulangi kabar yang pernah ia sampaikan pekan sebelumnya tentang perpindahan tugasnya. Ia menjelaskan pertimbangan jangka panjangnya, bahwa perpindahan ini adalah bagian dari strategi dakwah yang lebih besar dan tuntutan profesionalisme karirnya sebagai pegawai negeri.

Seketika, seluruh wajah di ruangan itu tertunduk sayu. Tidak ada kata-kata yang terucap, seolah udara pun menahan napas. Suasana keceriaan yang baru saja tercipta runtuh oleh bayang-bayang perpisahan.

Lalu, hantaman emosional itu datang. Bang Hasan melanjutkan, suaranya sedikit bergetar, bahwa perpindahan itu akan terjadi lebih cepat dari perkiraan semula, karena pekerjaan di tempat yang baru sudah menanti. Perpisahan itu akan terjadi sangat mendadak.

Beliau kemudian berbagi kisah tentang tantangan dan rintangan yang ia hadapi ketika pertama kali pindah ke kota pulau itu, serta kemudahan dan rahmat yang Allah berikan berkat keberkahan dakwah. Ia mengungkapkan keinginannya yang terdalam untuk sebenarnya berbuat lebih banyak lagi bagi dakwah di kota ini.

Semua yang hadir semakin tenggelam dalam kesedihan. Kebersamaan mereka dengan Bang Hasan telah menjadi fondasi, menumbuhkan semangat hidup dan arah yang baru. Bagi mereka, beliau adalah sahabat tempat berkeluh kesah, yang selalu menampakkan keceriaan di balik keadaannya yang sederhana, bahkan boleh dibilang tidak berkecukupan. Kesederhanaannya tidak melunturkan kemuliaan akhlaknya.

Bang Hasan adalah sosok murobbi yang membimbing dengan bashiroh (mata hati), bukan sekadar ucapan bibir. Nasihatnya selalu tepat sasaran, menjawab permasalahan yang sedang mereka hadapi di lapangan. Ia adalah sosok guru dengan bekal keilmuan yang kokoh, tidak pernah pelit ilmu, dan selalu terbuka pada kritik.

Beliau juga adalah sosok bapak yang memberikan keteduhan, mendukung kreativitas dakwah, dan sering membentuk kelompok-kelompok kajian baru yang siap diserahkan kepada mereka untuk dilanjutkan. Beliau adalah mubaligh siap siaga yang jarang mengeluh atas kekurangan.

Semua kenangan dan perasaan itu menggelayut dalam benak Umar, Zain, Husin, Arif, dan teman-teman lainnya. Semua mata basah, air mata seolah telah menggumpal, tinggal menunggu saat untuk tumpah.

Klimaks kesedihan itu tiba saat Bang Hasan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan yang ia atau keluarganya perbuat. Permintaan maaf itu bagaikan kunci yang membuka bendungan air mata.

Perpisahan yang terjadi memang terasa begitu cepat, di luar kuasa mereka. Namun, mereka sadar, pertemuan dan perpisahan adalah sunnatullah, sunah dakwah, terutama di kota yang dinamis ini. Makna dari perpisahan itu kini berada di tangan mereka: Akankah mereka melanjutkan ghirah (semangat) yang telah ditinggalkan?

Dan dengan menahan tangis yang sudah tak terbendung, mereka pun saling berpelukan dengan erat. Pelukan itu adalah simbol Keikhlasan Menerima Takdir Allah, sekaligus janji untuk terus berjuang.

Bang Hasan berbisik, “Mungkin ini adalah pertemuan mingguan terakhir kita, namun bukan perpisahan untuk selamanya, Insya Allah.” Kata-kata itu adalah harapan yang menusuk, menguras air mata, namun juga menanamkan semangat baru: bahwa ukhuwah ruhiah akan melampaui batas jarak dan waktu. []

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *