Fri. Jun 5th, 2026

Penugasan dari kota ke kota di Kepulauan Riau hingga ke Jawa dan Kota Jakarta terasa seperti menutup sebuah buku yang sangat berharga. Namun, tak ada babak yang lebih berkesan dari dua tahun mandat yang saya jalani sebagai Kepala Cabang Indosat di Tanjung Balai Karimun. Di tengah tanggung jawab memantapkan pasar seluler, memimpin tim teknis, administrasi, customer service, hingga pemasaran, ada satu panggilan lain yang berbisik lebih keras: pengabdian sosial.

Meskipun mengenakan topi Manajer Cabang di jam kerja, di luar tugas profesional, saya adalah seorang relawan, seorang penggiat sosial yang fokus pada pembinaan keislaman anak-anak muda di wilayah tersebut.

Misi ini sering membawa saya ke pulau-pulau di sekitarnya, khususnya ke Pulau Kundur, tepatnya Tanjung Batu. Perjalanan menuju ke sana bukan sekadar perjalanan kantor yang nyaman; ini adalah sebuah ziarah hati yang penuh tantangan.

Kami biasanya memulai perjalanan dengan kapal dari Karimun menuju Selat Beliah. Dari sana, petualangan yang sesungguhnya dimulai, dengan bantuan seorang sahabat setia yang selalu siap sedia menjemput. Ia adalah Zuren, sosok yang secara rutin melakukan antar jemput dari Selat Beliah ke Tanjung Batu.

Zuren bukan hanya rekan; ia adalah mitra perjuangan. Ada satu detail yang membuat kisah kami selalu dikenang: postur tubuh kami hampir mirip. Jika digabungkan, bobot kami berdua—ditambah tas dan perlengkapan mengajar—nyaris mencapai dua kuintal. Dan beban sebesar itu harus diangkut oleh satu-satunya sarana transportasi andalan kami: sebuah sepeda motor bebek tua yang tampak letih.

Bukan hal yang aneh jika kami sering mengalami ban bocor mendadak atau mogok di tengah jalan. Perjalanan sejauh 50 kilometer itu adalah sebuah trek ujian mental dan fisik. Kami harus menembus hutan dan ladang, melewati jalan berlubang yang seolah tak berujung, di bawah terik matahari yang menyengat, atau terkadang di guyur hujan lebat yang dingin.

Namun, momen kesulitan itulah yang memperkuat ikatan kami. Tawa kami saat mendorong motor yang mogok, atau kehangatan yang tercipta saat berteduh di bawah pohon saat hujan, jauh lebih bermakna daripada kenyamanan perjalanan yang mulus. Dalam setiap lubang di jalan, kami menemukan pelajaran tentang kegigihan dan persahabatan sejati.

Bersama Zuren, kami mengisi hari-hari anak-anak muda di Tanjung Batu. Kami mengisi pengajian di sekolah, memberikan pelatihan kepemimpinan, mengadakan outbound, atau memimpin aktivitas olahraga dan pembelajaran yang kreatif. Kami bukan hanya memberikan ilmu; kami berusaha mengisi ruang kosong, memberikan harapan, dan menanamkan nilai-nilai luhur.

Saya biasanya menginap di rumah Zuren, beristirahat sejenak sebelum kembali bertugas keesokan harinya. Kadang, jika ada acara yang padat, seperti kegiatan Sabtu malam atau Minggu pagi, saya harus menginap dua malam. Momen berbagi rumah dan cerita dengan keluarga Zuren melengkapi rasa kekeluargaan yang tak bisa dibeli.

Kini, waktu telah berlalu begitu cepat. Masa tugas di Indosat Karimun sudah berakhir. Saya dan Zuren sudah jarang berinteraksi langsung dengan anak-anak muda itu. Mereka telah tumbuh, melebarkan sayap, dan menyebar ke berbagai penjuru negeri. Kami mendengar kabar bahwa banyak dari mereka yang telah sukses dalam karir dan aktivitasnya masing-masing.

Mungkin mereka tak ingat detail materi kajian yang pernah kami berikan. Namun, saya yakin, mereka akan selalu mengingat kehadiran, perjuangan, dan dedikasi yang kami tunjukkan di atas motor bebek tua itu.

Bagi saya, kenangan di Tanjung Batu, momen tawa saat ban bocor, dan perjalanan sunyi yang hanya diisi suara mesin motor tua bersama Zuren, adalah harta yang tak ternilai. Ini adalah kisah tentang sebuah persahabatan sejati yang lahir bukan dari kesamaan jabatan, melainkan dari kesamaan visi untuk mengabdi.

Pertemuan dan persahabatan dengan Zuren mengajarkan kami ketulusan dan daya juang di jalanan terjal Pulau Kundur. Kisah ini akan selalu menjadi pengingat bahwa tujuan hidup yang paling mulia seringkali ditemukan di luar zona nyaman, di atas motor bebek tua, dengan beban dua kuintal, menuju anak-anak muda yang menantikan harapan.[]

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *