Batam, awal milenium. Sebuah kisah cinta yang terpendam, mirip Ayat-ayat Cinta, terjadi di tengah-tengah kelompok pembinaan kami. Kami, para pemuda yang usianya sudah matang untuk menikah (sekitar 24-25 tahun), menjadikan walimah sebagai pembicaraan terhangat. Dan di tengah hangatnya persiapan itu, Fahmi, sahabat terbaik kami, telah melakukan khitbah (peminangan).
Nama akhwat yang beruntung mendampinginya masih menjadi rahasia, atau amni, sebuah istilah kami untuk menjaga kemurnian niat dan menghindari fitnah. Kami tahu, tugas kami sudah menanti: menjadi event organizer di hari bahagia Fahmi nanti.
Namun, di balik persiapan yang penuh berkah itu, tersimpan sebuah cerita dramatis yang tak terduga.
Suatu hari, Fahmi menerima sebuah kartu pos sederhana. Kartu pos itu bergambar kampus megah di Jogja, dikirim oleh Nana, sahabat lamanya sejak SMP. Nana kini sedang menyelesaikan program profesi sebagai dokter di sana. Kartu pos itu hanya berisi ucapan Selamat Idul Fitri, salam, dan namanya.
Yang membuat Fahmi termenung adalah sang pengirim. Sudah sembilan tahun lamanya mereka tak pernah benar-benar kontak. Mereka hanya pernah bertemu sekilas di acara reuni SMP tahun 1996, saat Fahmi sudah bekerja di Batam sementara Nana masih kuliah.
Di reuni itu, Nana tampil anggun dalam balutan pakaian muslimah, bersahaja namun berkarisma. Ia tetap terlihat cerdas dan intelek, kini calon dokter. Setelah reuni itu, mereka hanya sempat bertukar e-mail dan telepon sekadar berbela sungkawa saat ayah Nana wafat.
Melihat kartu pos itu, pikiran Fahmi langsung melayang ke masa lalu.
Nana adalah siswi yang sempurna: sekretaris kelas dengan tulisan indah, cerdas, disiplin, dan disayangi guru. Ayahnya pensiunan guru agama, menjadikan kehidupan keluarganya sangat religius.
Fahmi, sebaliknya, adalah anak desa, dari keluarga miskin. Ia sering minder di kelas. Beruntung ia pintar, sehingga teman-temannya segan. Tetapi hanya sedikit yang mau bersahabat, dan salah satunya adalah Nana.
Nana, si ‘orang kota’, berjiwa sosial tinggi. Ia tidak pernah menjauhi Fahmi meskipun tahu kondisi ekonomi Fahmi. Nana bahkan sering membantu mengurus beasiswa dan keringanan biaya sekolah Fahmi. Di mata Fahmi, Nana adalah saingan terberat sekaligus pahlawan sunyinya.
Kenangan yang tak terlupakan adalah saat mereka berdua mewakili sekolah dalam Olimpiade Matematika dan Bahasa Inggris tingkat eks-Karesidenan Pati. Keduanya meraih juara yang sama. Momen penyerahan hadiah itu, saat mereka berdiri berdampingan, adalah kenangan termanis yang pernah Fahmi rasakan bersama Nana.
Kini, semuanya berbeda. Fahmi telah memilih jalan aktivisme, membatasi hubungan dengan lawan jenis, dan telah meng-khitbah seorang akhwat. “Mungkin ini ujian sebelum menikah…” batin Fahmi, mencoba menepis bayangan yang tiba-tiba menguasai pikirannya.
Namun, bayangan Nana tidak mau pergi. Siang, sore, malam, ia terus menghiasi benak Fahmi. Fahmi sempat tergoda, teringat bagaimana Nana tidak pernah memandangnya dari status sosial. Ia teringat bagaimana teman-teman kosnya dulu selalu menjodoh-jodohkan mereka.
Pagi harinya, Fahmi memutuskan untuk mengakhiri gejolak batin itu. Ia mengambil kartu pos Nana, memasukkannya ke tas, lalu pergi ke kantor. Di sana, ia meraih telepon di mejanya. Ia harus menyelesaikan urusan hati ini dengan lugas dan gentleman.
“Assalamu’alaikum…” Suara lembut yang sudah bertahun-tahun tak ia dengar itu menyapa dari seberang. “Ini Fahmi ya, bagaimana kabarnya?”
Setelah berbasa-basi sebentar, Fahmi langsung ke tujuan utama. Ia menyampaikan kabar serius itu kepada Nana, dengan suara datar dan tenang, berharap ini akan menghilangkan bayangan yang menghantuinya.
“Nana, Insya Allah sebentar lagi aku menikah. Aku sudah meminang seseorang. Mungkin dalam bulan ini atau bulan depan. Nanti kalau sempat datang ya…”
Keheningan seketika menyelimuti percakapan. Keheningan yang sangat panjang. Fahmi menangkap ada sesuatu yang berbeda.
“Na, … kamu masih disana?” tanya Fahmi.
“Fahmi, kamu serius kan?” tanya Nana dari seberang, suaranya dipaksakan tenang, namun Fahmi bisa merasakan ada getaran lain.
“Iya, aku serius. Ini juga keputusan yang cepat. Aku menerima tawaran dari seorang ustadz, setelah musyawarah dan melihat biodatanya, aku yakin dia yang terbaik,” jelas Fahmi.
“Fahmi, kamu kok seperti itu…” Tiba-tiba suara Nana meninggi, membuat Fahmi terkejut. “Kenapa kamu tiba-tiba memberi kabar seperti itu…”
Fahmi mulai menangkap maksud Nana. Ia pun menceritakan ulang perjalanannya, dari kartu pos Nana yang mengganggu pikirannya, hingga keputusannya untuk tetap memegang janji khitbah.
Suara Nana dari seberang mulai parau, bercampur isak tangis yang tertahan. “Fahmi, maafkan aku jika kartupos itu mengganggu pikiranmu. Aku sama sekali tidak tahu jika kamu sudah mendapatkan pilihanmu…”
“Jika boleh berterus terang, sesungguhnya aku juga memendam perasaan ini sejak kita satu kelas dulu. Aku juga mengagumi dirimu sebagai seorang yang tangguh. Aku bangga denganmu, meskipun dari desa dan tergolong kurang mampu, kamu bisa berprestasi, bahkan sampai saat ini.”
Air mata Fahmi tak mampu lagi ia tahan. Ia yakin, Nana di seberang sana sedang menangis hebat.
“Aku berusaha untuk bertahan. Sebagai seorang wanita, tidak mungkin aku yang memulai. Aku benar-benar ingin sesuatu itu engkau ungkapkan dalam pertemuan kita empat tahun lalu, atau dalam surat-suratmu…”
“Aku sampai hampir menutup pintu hatiku untuk lelaki yang mendekatiku. Aku berharap yang datang adalah kamu, Fahmi. Sejujurnya aku berharap suatu hari, akulah orang yang akan engkau pilih.“
Fahmi tidak sanggup berkata-kata. Lama keduanya terdiam dalam kesedihan yang sama. Itu adalah pengakuan tulus yang datang terlambat, sebuah janji yang tak pernah terucap.
Namun, Fahmi adalah seorang aktivis yang teguh pada prinsipnya. Ia tahu, ia tidak boleh terperangkap dalam romantika masa lalu. Ia kini telah memilih. Ini adalah ujian terakhir untuk melihat kekuatan tekadnya.
Fahmi telah memilih jawabannya. Dengan hati yang hancur namun tegar, ia memilih komitmen pada khitbah yang telah terucap, dan keikhlasan menerima takdir bahwa cinta yang diidamkan Nana bukanlah jodohnya. Sebuah perpisahan yang haru, sebuah kemenangan akal atas perasaan.[]
