Sat. Apr 18th, 2026

Dua puluh tahun setelah pertama kali berlabuh, saya menemukan kembali sebuah artefak emosi di sudut lemari: buku puisi berjudul “Hikayat Perjalanan Lumpur”. Di dalamnya, sebuah judul puisi berjudul “Surat Kepada Hang Nadim” segera mencengkeram ingatan saya, membawa saya kembali ke Batam, kota tempat sepuluh tahun pengabdian terukir.

Puisi karya Syaukani Al Karim itu melukiskan Batam di era 1999 dengan rintihan yang pahit.

Kucoba mencari rinduku di Batam, namun kakiku terus saja memijak genangan air mata.

Penyair itu melihat wajah asing bersendau gurau di hotel-hotel berbintang dan plaza, menukar mimpi dengan kesenangan, sementara anak negeri yang lusuh terpinggirkan. Sebuah ironi tajam tentang “negeri tak bertuan” yang hanya bisa dibayar dengan dolar.

Puisi itu melanjutkan, menggambarkan anak-anak yang menjajakan “air mata Hang Nadim” di pinggiran. Di Batam yang ia lukiskan, tawa tidak akan diam karena tangis. Kemanusiaan ringkih, keadilan hanya mendaki bukit, dan angin dari jauh menghabiskan semua sisa senyum. “Maaf, aku tak sempat jatuh cinta,” rintih sang kuli, karena semua energinya habis untuk bertahan hidup.

Kesimpulan puisi itu menusuk: “Di Batam, aku kehilangan negeri.”

Dulu, saat pertama kali membacanya, kami harus mengakui bahwa puisi ini mengandung banyak kebenaran yang getir. Batam di mata sebagian orang adalah kota tanpa jiwa, hanya berisi gedung, pabrik, dan hingar-bingar.

Namun, sekarang, ingatan itu dibasuh oleh harapan dan kebanggaan yang meluap. Saya tahu, Batam hari ini adalah kota yang sedang bangkit dari masa lalu kelamnya, kota yang berjuang dengan sekuat tenaga mengubah citra “kota tanpa tuan” menjadi kota harapan.

“Batam, Bandar Dunia yang Madani.” Itulah janji yang dulu pernah diusung kota kepulauan ini. Dan janji itu bukan sekadar slogan di papan reklame. Mungkin slogan pembangunan Kota batam telah berganti seiring waktu, namun julukan Bandar Dunia yang Madani saya rasa masih terus relevan hingga kini.

Terakhir berkunjung ke Kota ini lagi sekitar 2016 , kami menyaksikan sebuah transformasi spiritual yang masif. Pemerintah dan petugas kepolisian bahu-membahu memberantas kegiatan maksiat. Lokalisasi ditutup, judi diberantas, dan perumahan liar ditertibkan. Wajah kota perlahan berubah.

Seiring dengan itu, pembangunan fasilitas ibadah dan kegiatan keagamaan tumbuh secara spektakuler. Jumlah pesantren di Batam—untuk ukuran kota industri yang serba cepat—tergolong menakjubkan. Inilah investasi jiwa.

Saya teringat betul perkataan Aa Gym di Masjid Nurul Islam sekitar tahun 1999: “Jadikanlah Batam sebagai kota pesantren, pesantren kehidupan.” Saat itu, ucapan itu terasa seperti mimpi di siang bolong.

Kini, mimpi itu menjadi kenyataan yang mengharukan. Kawasan industri Muka Kuning yang dulu penuh godaan kini layaknya lautan jilbab. Para pekerja hilir mudik dengan busana yang menyejukkan hati.

Masjid-masjid di Batam hampir tidak pernah sepi. Jamaahnya selalu penuh. Dan yang paling membanggakan, masjid-masjid itu diaktifkan oleh anak-anak muda—para pekerja pabrik yang memilih menghabiskan sisa energi mereka di jalan Allah.

Masjid Raya Batam, dulu, setiap tahun menyelenggarakan Ramadhan Fair yang megah, dan I’tikaf sepuluh hari terakhir selalu dipenuhi ribuan jiwa yang mencari Lailatul Qadar.

Yang lebih mengharukan, saya mengenal banyak sekali teman dan sahabat yang menemukan kembali hidayahnya di Batam. Ada yang dulu di kampung halaman belum bisa mengaji, tiba di Batam menjadi ustadz dengan hafalan Al-Qur’an yang menakjubkan.

Ibu-ibu muda yang dulu tidak mengenal betul Islam, kini belajar, mondok di pesantren, dan kembali sebagai penggerak Majelis Taklim dan ustadzah. Mereka adalah pahlawan sunyi yang membangun peradaban dari dalam rumah tangga.

Bahkan, Batam yang beberapa tahun sebelumnya pernah mendapat julukan Kota Terkotor di Indonesia, lalu berubah menjadi peraih Piala Adipura sebagai Kota Terbersih. Transformasi ini membuktikan bahwa perubahan fisik sejalan dengan pembersihan spiritual.

Memang, Batam belum seideal yang dibayangkan. Perjuangan masih panjang. Namun, saya yakin, Batam akan menjadi kota harapan, pusat peradaban baru.

Saya membayangkan, suatu saat nanti, kota Batam akan menjadi Andalusia-nya Indonesia: pusat peradaban, pusat kebudayaan, pusat kemajuan teknologi, dan pusat berkembangnya ilmu pengetahuan yang Madani.

Dan di penghujung harapan ini, saya membayangkan, jika saja Hang Nadim bisa melihat semua ini, ia tidak akan lagi merintih. Ia akan menatap keagungan kota ini dengan bangga.

“Batam, telah melampaui apa yang pernah aku bayangkan,” katanya, sambil menyeka air mata haru yang kini bukan lagi air mata nestapa, melainkan air mata keberhasilan.

Ini adalah surat cinta saya untuk Batam, sebuah kota yang mewariskan perjuangan, persaudaraan, dan harapan yang abadi. []

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *