Sat. Apr 18th, 2026
Jendela Jumadi Subur

Pindah tugas dari Pekalongan ke Grobogan pada 2009 terasa seperti memulai dari nol, lagi dan lagi. Sebagai Kepala Cabang di perusahaan telekomunikasi besar, meja saya selalu penuh target, angka, dan laporan. Namun, jauh di sudut hati, ada satu ‘target’ yang tak pernah boleh terabaikan: panggilan untuk membersamai anak-anak muda. Itu adalah komitmen yang saya bawa berpindah-pindah, dari Batam, Karimun, Tegal, hingga kini Purwodadi.

Di tengah kesibukan yang menyita waktu, terbentuklah dua lingkaran kecil yang berarti. Satu kelompok dari SMA 1, satunya lagi dari SMK 1. Di kelompok SMA 1, ada wajah-wajah penuh semangat seperti Adit dan Fafa, bersama tujuh anak muda lain yang haus akan ilmu dan pengembangan diri. Mereka adalah pelepas lelah saya dari hiruk pikuk dunia korporat yang dingin.

Kami bertemu seminggu sekali, fleksibel, menyesuaikan jadwal seorang profesional yang jam kerjanya tak mengenal kompromi. Kadang di mushola sekolah yang sejuk, kadang di masjid kecil pinggir jalan. Namun, tempat favorit kami adalah Masjid Jabalul Khoir di kawasan Simpang Lima Purwodadi, masjid terbesar yang kubahnya seolah menjulang meraih mimpi. Di sinilah, kami pernah mengalami momen menegangkan yang tak terlupakan.

Sore itu, kami duduk melingkar di salah satu sudut, Al-Qur’an terbuka, suara kami bergantian mengisi keheningan masjid. Tiba-tiba, bayangan gelap pengurus masjid berdiri di depan kami. “Ini kelompok apa? Kenapa cuma sedikit orang duduk melingkar begini?” Suara interogasi itu keras, memecah fokus kami. Kami yang terbiasa dengan diskusi santai mendadak tegang.

Saya dan Adit maju menjelaskan. Kami bukan kelompok menyimpang, bukan aliran baru. Kami hanya anak-anak rohis yang mencoba program “Minal Masjid Ilal Masjid”—berpindah dari satu masjid ke masjid lain untuk lebih mengenal kampung halaman dan menguatkan ukhuwah. Suasana sempat tegang. Pengurus masjid menatap curiga, mungkin trauma dengan kelompok-kelompok yang menyimpang dari ajaran. Setelah perdebatan singkat, mereka mempersilakan kami melanjutkan, namun dengan peringatan keras: “Hati-hati. Jangan bawa ajaran yang aneh-aneh!” Momen itu menyadarkan kami betapa berharganya setiap detik yang kami miliki untuk belajar, bahkan di tempat yang seharusnya paling damai.

Aktivitas kami pun bervariasi: mengaji, diskusi hangat tentang kepemimpinan dan masa depan, kunjungan sosial ke panti asuhan, bahkan camping dan tracking untuk melatih fisik dan mental. Saat itu, saya sadar, dua dunia sedang berjalan berdampingan dalam hidup saya: dunia korporat yang menuntut efisiensi angka, dan dunia pengabdian yang menuntut efisiensi hati.

Bertahun-tahun berlalu, tak terasa tiba waktunya mutasi kembali memanggil. Perpisahan selalu menjadi bagian terberat dari pekerjaan ini. Meninggalkan Grobogan berarti meninggalkan Adit, Fafa, dan semua senyum tulus mereka. Kami berpelukan erat, janji untuk tetap terhubung terucap, tetapi kami sama-sama tahu, jarak dan waktu seringkali lebih kejam dari janji. Saya membawa sisa-sisa semangat mereka ke tugas baru di Semarang, dan akhirnya, ke Kantor Pusat Jakarta.

Lima tahun berselang. Saya sudah bertugas di Jakarta, karir mencapai puncaknya. Waktu itu, sebuah aksi solidaritas mendukung perjuangan rakyat Palestina digelar, membanjiri jalanan Ibu Kota. Saya datang, ingin menyumbangkan energi dan kepedulian di tengah ribuan massa yang bergemuruh.

Tiba-tiba, di tengah teriakan massa yang memekakkan telinga, saya mendengar satu suara yang terasa akrab, tajam, dan penuh semangat: “Boikot Israel Penjajah! Dukung Palestina Merdeka!” Suara itu tidak hanya lantang, tapi memiliki getaran yang entah mengapa, membuat hati saya berdesir.

Saya segera menoleh. Di tengah kerumunan, di atas bahu seseorang, berdiri seorang pemuda yang berteriak dengan megafon. Wajahnya lebih dewasa, namun matanya, semangatnya, dan caranya berteriak—itu adalah Adit! Adit, anak SMA 1 Purwodadi yang pernah saya bina di sudut Masjid Jabalul Khoir.

Rasanya seperti tersengat listrik. Saya segera menerobos kerumunan, memanggil namanya dengan suara bergetar. Adit terkejut, melompat turun, dan kami berpelukan. Pelukan itu bukan sekadar pelukan, itu adalah penghargaan. Penghargaan atas benih yang pernah ditanam di Grobogan, yang kini telah tumbuh menjadi pohon berjiwa besar di Ibu Kota.

Air mata saya jatuh tanpa bisa ditahan. Bukan karena sedih, melainkan karena haru. Haru melihat anak yang dulu takut ditanya pengurus masjid, kini lantang menyuarakan kebenaran di tengah lautan manusia. “Bapak bagaimana kabarnya? Tugas di mana sekarang?” tanyanya, sambil bercerita tentang Fafa dan teman-teman lain yang kini sukses di berbagai kota.

Pertemuan itu hanya berlangsung sebentar, secepat kilat di tengah hiruk pikuk aksi. Kami harus berpisah lagi. Pelukan perpisahan kali ini terasa berbeda; ia penuh makna, bukan lagi janji yang rapuh karena mutasi, melainkan keyakinan bahwa kami akan bertemu lagi, entah di mana, karena hati kami sudah terikat pada panggilan yang sama.

Saya akhirnya memilih pensiun dini pada 2014, melepaskan jabatan tinggi di Jakarta. Pengalaman bersama Adit dan kawan-kawan menyadarkan saya bahwa dampak sejati bukanlah tercetak pada laporan keuangan perusahaan, melainkan terukir pada karakter dan masa depan yang kita bentuk.

Kini, sebagai Konsultan SDM di Bogor, saya sering bertanya-tanya: Di mana Adit, Fafa, dan kawan-kawan sekarang? Saya berharap mereka telah sukses, tidak hanya dalam karir dan keluarga, tetapi juga dalam terus menyalakan api pengabdian yang pernah kami nyalakan bersama di Grobogan. Karena, pada akhirnya, panggilan hati selalu lebih keras dari dering telepon kantor. []

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *