Saat saya bertugas di Grobogan, menjalankan amanah sebagai Kepala Cabang, ada dua kelompok remaja yang selalu menjadi penyeimbang jiwa dari hiruk pikuk dunia korporat. Salah satunya adalah kelompok dari SMK 1 Purwodadi. Mereka tidak seperti anak-anak pada umumnya; sorot mata mereka penuh keingintahuan, namun di antara mereka, ada satu sosok yang paling menyala: Saeroji.
Saeroji adalah representasi anak desa yang hidupnya adalah perjuangan. Ia bukan berasal dari keluarga mampu, namun kemiskinan tak pernah merampas ambisinya. Jadwal hariannya begitu padat: dari sekolah, ke sawah membantu orang tua yang sudah renta, lalu aktif di berbagai kegiatan ekstra, organisasi, dan tentu saja, ikut pembinaan pekanan kami. Wajahnya selalu menyunggingkan senyum lelah, namun semangatnya tak pernah terkalahkan.
Tugas saya di Indosat menuntut loyalitas penuh, tetapi saya selalu mencari celah, “mencuri” waktu usai jam kerja atau di akhir pekan, hanya demi lingkaran kecil penuh semangat ini. Saya sadar, gaji tinggi dan jabatan hanya sementara, namun membentuk karakter satu jiwa muda adalah investasi abadi.
Suatu hari, saya memberikan materi tentang kekuatan cita-cita besar. Saya meminta mereka menuliskan semua impian mereka di selembar kertas, tanpa batas. Mereka harus jujur tentang apa yang paling mereka inginkan dalam hidup.
Saat saya membaca kertas Saeroji, hati saya terenyuh sekaligus bangga. Tulisannya penuh, tidak ada satu baris pun yang kosong. Ada impian untuk bekerja di perusahaan bonafide, harapan untuk membelikan rumah yang layak bagi orang tua yang selama ini berjuang di sawah, dan yang paling besar—cita-cita tentang peran besar untuk umat dan masyarakat sekitar. Itu bukan hanya ambisi pribadi; itu adalah manifesto pengabdian.
“Pak, apa benar saya bisa mencapai ini semua? Saya kan hanya anak desa, lulusan SMK,” tanyanya suatu sore, raut wajahnya menunjukkan keraguan yang wajar. Ada beban hidup yang terasa amat berat terpancar dari tatapannya.
Saya menatap matanya dalam-dalam. “Saeroji, apa yang kamu tulis di kertas itu bukan hanya impian, tapi janji. Janji pada dirimu sendiri dan pada Tuhan. Selama kakimu kuat di sawah, kamu punya bekal ketekunan yang tidak dimiliki anak-anak kota.” Kata-kata itu, yang mungkin sederhana, terasa seperti sumur pelepas dahaga baginya.
Ia mulai sering curhat lebih dalam. Menjelang kelulusan, ia bingung harus melangkah ke mana. Pilihan pahit menghadang: langsung bekerja di desa dengan penghasilan seadanya untuk membantu keluarga yang terdesak, atau merantau jauh ke Jakarta atau luar Jawa demi mengejar karir yang ‘bonafide’ seperti yang ia tulis. “Saya takut meninggalkan Ibu sendiri di desa, Pak,” bisiknya lirih, menunjukkan konflik batin yang menyakitkan antara cita-cita dan bakti.
Tepat di tengah kebimbangan Saeroji di kelas 12 itu, takdir karir saya kembali memanggil. Surat mutasi datang lagi. Saya harus pindah ke Semarang.
Perpisahan kali ini terasa menusuk karena Saeroji masih di ambang pintu masa depan. Di pertemuan terakhir, ia menggenggam erat tangan saya. Saya memeluknya, menepuk punggungnya, dan kembali mengingatkannya tentang lembaran cita-cita itu. “Jangan pernah tinggalkan yang paling penting: peranmu untuk umat. Karir adalah alat, bukan tujuan akhir.” Perpisahan itu terasa berat, namun saya harus yakin, benih yang kami tanam sudah cukup kuat.
Tahun-tahun berlalu, saya sibuk dengan tugas baru di Semarang, dan akhirnya di Kantor Pusat Jakarta. Kabar dari Grobogan mulai samar, tergilas oleh tuntutan korporat yang kejam. Kesibukan membuat saya hampir lupa tentang nama-nama dan wajah di masa lalu, kecuali kadang teringat pada lembaran cita-cita Saeroji itu. Saya sering bertanya-tanya, apakah ia berhasil menembus kerasnya dunia kerja, ataukah ia terpaksa menyerah pada keadaan?
Lalu, sebuah kabar datang melalui jaringan teman di Grobogan. Kabar itu sungguh membuat saya terhenyak dan terharu. Saeroji, anak desa itu, berhasil! Ia tidak menyerah. Ia bekerja di perusahaan bonafide di Kalimantan Timur dengan posisi dan penghasilan yang layak. Momen itu, mendengarnya saat saya sedang sibuk di ruang meeting mewah di Jakarta, terasa seperti oase. Air mata bangga tiba-tiba menggenang, membasahi jas mahal yang saya kenakan.
Namun, yang paling mengharukan bukanlah pencapaian karirnya. Kabar itu melanjutkan, bahwa Saeroji masih sangat aktif di berbagai kegiatan sosial dan keislaman di tempat kerjanya. Ia masih rajin membantu saudara dan teman di kampung halaman. Karirnya cemerlang, namun jiwanya tetap terikat pada janji di selembar kertas itu. Ia berhasil membuktikan, karir tinggi bisa menjadi jembatan menuju pengabdian besar.
Keputusan saya untuk pensiun dini pada 2014 sebagian besar dipengaruhi oleh kisah-kisah seperti Saeroji. Saya sadar, nilai sebuah hidup bukan diukur dari tinggi jabatan atau saldo rekening, tetapi dari seberapa banyak kita bisa membantu orang lain mewujudkan impian mereka. Saeroji adalah cerminan itu.
Ia mengajarkan saya bahwa sukses sejati bukanlah saat kita mencapai puncak, melainkan saat puncak itu kita gunakan untuk mengangkat orang lain. Saya melepaskan jabatan tinggi di Jakarta karena sadar, pengabdian saya yang sesungguhnya berada di luar lingkaran target perusahaan.
Kini, bertahun-tahun setelah perpisahan di Grobogan, saya mendengar kabar Saeroji sudah berkeluarga dan hidup bahagia. Ia tetap konsisten dengan cita-citanya untuk membantu dan berperan bagi masyarakat sekitar.
Sebagai Konsultan SDM, saya sering menceritakan kisah Saeroji sebagai studi kasus nyata tentang kekuatan integritas dan impian. Ia membuktikan bahwa semangat seorang anak desa mampu menaklukkan rimba karir yang brutal, tanpa pernah melupakan panggilan untuk menjadi manfaat bagi umat. Itulah makna cita-cita yang sesungguhnya, sebuah jejak abadi dari Grobogan yang menggetarkan jiwa. []
