Tujuh tahun lebih pernikahan kami terasa seperti karunia tak terhingga. Aku memanggilnya Aa, meskipun ia bukan orang Sunda, karena ia adalah sosok kakak sekaligus pemimpin dalam segala hal. Aku bersyukur dikaruniai seorang suami yang begitu sabar; amarahnya tak pernah meledak, tak pernah menyakiti. Jika ia tak suka, ia hanya diam. Inilah yang ia sampaikan padaku di hari pertama pernikahan kami—bahwa diam adalah caranya menjaga kehormatanku.
Kisah kami berawal di Batam, sebuah kota industri yang ramai, tempat di mana kami sama-sama merantau. Aku bekerja sebagai senior operator di Batamindo, dan ia di kawasan Sekupang. Kami menikah tanpa melalui masa pacaran, bahkan nyaris tanpa saling kenal. Keputusan itu datang cepat, didorong oleh usia krusial 25 tahun dan desakan keluarga di Jawa Barat.
Ketika seorang ibu muda yang kukenal menawarkan proposal seorang pria shalih, aku langsung menerima. Hanya satu pertimbanganku: asalkan ia Muslim yang taat. Hal-hal lain bisa diurus nanti. Setelah pertemuan ta’aruf yang singkat namun meyakinkan, dalam waktu dua minggu ia datang untuk khitbah, dan sebulan kemudian, kami menikah. Segalanya terasa cepat, namun penuh berkah.
Kami menempati asrama perusahaan di kawasan elit Perumahan Green Court. Kehidupan kami dipenuhi kebahagiaan, meskipun jadwal Aa sangat padat. Ia bekerja di kantor, namun juga merangkap sebagai penjual buku dan minyak wangi. Di waktu luang, ia adalah seorang dai muda yang aktif mengisi ceramah di masjid dan sekolah.
Kesibukannya membuat ia sering pulang larut, bahkan kadang harus bermalam di luar kota. Namun, ia selalu memastikan aku merasa dicintai. Romantismenya terbungkus dalam kesederhanaan: pisang goreng, mi ayam, atau apel yang ia bawa pulang. Bagi orang lain mungkin biasa, tapi bagiku, itu adalah jembatan yang menghubungkan hati di tengah rutinitas.
Aa adalah sosok yang romantis, yang mengerti betul perasaan istrinya. Pernah ia memberiku serangkaian bunga sepulang dari tugas luar kota. Momen yang tak terlupakan adalah ketika ia mengirim paket makanan ayam goreng melalui internet dari Jakarta saat training. Di luar paket itu, ada pesan singkat: “Selamat Makan Siang, Aa Kangen sama Ade’.”
Ia juga memiliki kebiasaan yang sering membuatku berdebar: meninggalkan dua buah surat wasiat sebelum bepergian jauh. Satu surat berisi ungkapan cinta dan pesan agar aku menjaga shalat dan Al-Qur’an. Surat kedua berisi daftar hutang piutang. “Itu adalah sunah Nabi,” katanya, dan anehnya, kebiasaan itu justru memberiku ketenangan.
Aa adalah suami yang tidak pernah mengeluh. Ia selalu menikmati dan memuji masakan apa pun yang aku sediakan, betapapun sederhananya. Ia ingin mencontoh Rasulullah yang selalu berakhlak baik kepada istrinya.
Hingga suatu malam, Aa pulang larut. Aku yang menunggunya akhirnya tertidur pulas di kamar belakang karena kelelahan, tanpa menyadari ia tidak menelepon terlebih dahulu. Sekitar pukul 03.00 WIB, aku terbangun dan mendapati tempat tidur di sebelahku kosong.
Jantungku berdebar kencang. Lampu ruang tamu masih menyala, dan motornya sudah ada di rumah. Aa sudah pulang! Aku segera menyibakkan tirai jendela dan pandanganku menyebar ke sudut rumah.
Deg. Aku melihat sesosok tubuh yang kukenal terlelap di depan pintu samping dekat dapur. Ia hanya beralaskan kain spanduk bekas yang kami simpan di gudang, diselimuti sehelai sarung. Pemandangan itu menusukku. Rasanya seperti ribuan jarum menancap di hati.
Aku segera membuka pintu dan membangunkannya. “Aa, kok kenapa tidur di luar? Kenapa tidak bangunkan Ade’? Aa… Ade’ minta maaf…” Air mataku tumpah, mengalir deras karena penyesalan yang begitu dalam. Aku memeluknya erat-erat, merasa bersalah atas kelalaianku.
Aa justru terlihat tenang. Ia mencium pipi dan keningku, menyeka air mataku sambil tersenyum lembut. “Justru Aa yang minta maaf, karena pulang terlambat tanpa ngasih tahu Ade’,” jawabnya kalem.
Aku memprotes, menunjukkan bekas gigitan nyamuk di tubuhnya. “Kenapa Aa tidak telepon atau ketuk pintunya sampai Ade’ bangun?”
Di situlah, Jendela Kecil di Tengah Badai itu terbuka. “Rasulullah dulu kalau pulang terlambat, mengetuk pintu tiga kali, jika tidak dibuka, beliau tidur di luar,” jelasnya dengan suara tenang. “Sebenarnya Aa sudah ketuk beberapa kali, tapi mungkin Ade’ kecapean. HP-nya mati kehabisan baterai. Lagian kan ada kain spanduk, bisa dijadikan alas.”
“Sudah, yuk kita wudhu, masih ada waktu, kita shalat lail berjamaah,” ajaknya.
Kami pun shalat bersama. Ia melantunkan An-Naba dan beberapa ayat Al-Baqarah. Di belakangnya, aku tidak sanggup menahan haru. Tangis syukur tak terperi. Aa tidak hanya menjadi suami yang romantis, tetapi menjadi suami yang mengajarkanku bahwa Cinta Sejati adalah Ikhlas Berjuang meneladani keutamaan. Tidur di atas kain spanduk demi menjaga adab dan hati istrinya.
Setelah malam itu, hal serupa terjadi lagi, beberapa kali. Aku belajar, jika Aa tidak ada di sisiku, hampir pasti ia sedang menjaga ketaatan di depan pintu.
Waktu berlalu. Kami kini telah meninggalkan Batam, kota yang penuh kenangan cinta dan perjuangan itu. Tapi ajaran Aa tetap abadi. Sekarang, rumah kami diramaikan oleh empat anugerah Ilahi. Shalat malam kami tidak lagi berdua; kini, sulung dan adiknya ikut serta.
Kisah di ambang pintu belakang itu mengajarkan bahwa Perjuangan terbesar dalam rumah tangga bukanlah melawan dunia, melainkan melawan diri sendiri, dan kemesraan terindah adalah yang dilandasi ketaatan yang tulus. Sungguh, Allah telah memberiku anugerah tak ternilai.
