Perayaan Maulid Nabi di Lembaga Pemasyarakatan itu menyisakan getaran spiritual yang mendalam. Di antara narapidana dan tamu undangan, Aldi, sang penceramah muda, berdiri dengan wajah teduh. Setelah acara usai, ia dihampiri oleh Lilis Listiyaningsih, seorang mahasiswi senior yang akrab disapa Teh Lies. “Selamat ya, Dhek. Tadi ceramahnya bagus. Afwan, Teteh cuma bisa ambil gambarnya dari jauh,” ujar Teh Lies, menyerahkan kamera.
Aldi hanya menjawab singkat, “Jazakillah.” Meskipun jawaban itu sederhana, di balik kata-kata dan pertemuan yang sering terjadi, ada energi yang tak terucap. Mereka adalah dua kutub magnet yang sama-sama aktif di kampus: Aldi, mahasiswa Informatika yang alim dan Sekjen Senat, dan Teh Lies, si supel dari Akuntansi yang bekerja di perusahaan multinasional dan aktif di berbagai organisasi Islam.
Teh Lies, dengan panggilan ‘Teteh’ karena darah Pasundan yang mengalir, adalah sosok yang sangat dikenal. Ia cerdas, apalagi dalam bahasa Inggris, dan kehadirannya selalu membawa semangat. Perkenalan mereka terjalin di ruang rapat organisasi mahasiswa Islam (OMI), di mana idealism dan cita-cita luhur mereka sering bertemu dan berpadu.
Meskipun dalam pertemuan fisik mereka selalu menjaga jarak, ikatan mereka tumbuh subur melalui media yang lebih sunyi: email. Keduanya bekerja di bidang yang sesuai dengan jurusan mereka, sehingga komunikasi maya ini terasa wajar dan efektif. Melalui surat-surat elektronik itulah, mereka berbagi pandangan tentang Islam, kampus, dan cita-cita.
Di mata teman-teman, mereka adalah pasangan sempurna. Mereka sering tampil bersama, menjadi MC atau pembicara dalam berbagai acara kampus. Keakraban itu terjalin alami, dipersatukan oleh idealisme dan kesamaan visi, hingga batas antara persahabatan dan perasaan personal mulai menipis, sehalus benang sutra.
Sejak acara di Lapas itu, Aldi menyadari guncangan dalam dirinya. Terutama ketika Teh Lies harus pergi menghadiri kongres mahasiswa Islam di Jambi. Aldi, yang bertugas standby di sekretariat, menemukan dirinya hampir setiap hari mengirim pesan singkat, menanyakan kabar dan kegiatan Teh Lies.
Puncaknya terjadi ketika mereka bertugas bersama dalam sebuah acara pengajian; Aldi membaca Al-Qur’an, dan Teh Lies bertugas sebagai pembaca saritilawah. Di tengah lantunan ayat suci, hati Aldi disibukkan oleh pemandangan di depannya. Sesekali ia mencuri pandang ke arah belakang Teh Lies, ia seperti hafal lekuk jilbab yang dikenakan gadis itu. Ia merasa ada yang salah, ada sesuatu yang harus segera diakhiri.
Godaan cinta merah jambu itu adalah Badai yang diam-diam menyelinap ke dalam hati. Gosip di kampus menjadi cerminan nyata dari kedekatan yang sudah melampaui batas syariat. Aldi yang dikenal alim, merasa dirinya terperosok ke dalam lubang tipuan hawa nafsu.
Setelah mendapat taujih (nasihat) tentang Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa) dari seniornya, Bang Hasan, Aldi mengambil keputusan yang menyakitkan namun benar. Ia duduk di depan layar komputer, tangannya gemetar menekan tombol send untuk mengirim email yang akan menjadi penutup bagi hubungan akrab mereka.
“Teteh yang dirahmati Allah. Sepertinya kita harus mulai membatasi diri dalam setiap pertemuan dan aktivitas kampus,” tulisnya, hatinya berdenyut sakit. “Saya takut terkena penyakit hati… Kita sama-sama mengetahui batas-batas hijab antara kita. Saya tidak ingin hal ini mengotori hati kita. Wassalam, Dhek.”
Email itu adalah Keikhlasan Perjuangan Aldi. Sebuah Jendela Kecil yang ia buka, memilih ketaatan dan kesucian hati di atas buaian perasaan sesaat. Ia sengaja tidak membalas lagi, membiarkan keheningan mengambil alih.
Dua bulan berlalu dalam kesibukan masing-masing. Lalu, sebuah email datang. Isinya adalah balasan yang mengharukan dari Teh Lies. “Alhamdulillah Dhek telah mengingatkan, Teteh juga khilaf. Terus terang hampir saya bunga-bunga ini menjerumuskan Teteh… Teteh juga merasakan hal yang sama. Terima kasih telah mengingatkan. Semoga Allah mengampuni kita.”
Aldi merenung, memanjatkan “Amin” dalam hati. Mereka berdua telah memilih untuk kembali ke jalan yang benar, berhasil melewati badai hati yang hampir menjerumuskan. Ia menganggap email itu sebagai pamit yang tulus dan mengakhiri segala komunikasi.
Namun, takdir memiliki akhir cerita yang lebih dramatis. Suatu sore, ponsel Aldi berbunyi. Yadi, adik tingkatnya, mengabarkan berita yang mengejutkan: Teh Lies dirawat di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, terkena malaria.
Bersama teman-teman kampus, Aldi menjenguk. Kondisi Teh Lies semakin hari semakin kritis. Teman-teman bergantian menjaga, menghubungi keluarga di Tasikmalaya melalui pihak perusahaan untuk datang mendampingi.
Namun, Allah memiliki rencana yang lebih dulu. Sebelum kedua orang tuanya tiba, Teh Lies menghembuskan napas terakhir, didampingi oleh teman-teman seperjuangannya di kampus.
Aldi menerima kabar duka itu saat masih berada di kantor. Kaget, sedih, dan perasaan campur aduk langsung mendera. Ia segera bergegas ke rumah sakit. Di sana, ia memimpin teman-temannya untuk menshalatkan jenazah, membacakan Surat Yasin, dan memberikan penghormatan terakhir.
Jenazah dibawa ke masjid Nurul Islam. Pihak perusahaan dan teman-teman kantor Teh Lies sudah banyak berkumpul, menyaksikan kepergian sosok yang mereka cintai. Setelah berkoordinasi dengan keluarga, jenazah Teh Lies diantar oleh pihak perusahaan untuk dimakamkan di kampung halamannya di Tasikmalaya.
Aldi memasuki mobil yang mengantar mereka kembali dari bandara dengan hati yang pilu. Penyesalan? Mungkin. Namun, yang lebih besar adalah rasa syukur yang mendalam. Mereka telah berhasil melewati badai hati itu dengan iman yang utuh.
Di sepanjang perjalanan, hanya doa yang bisa ia panjatkan. “Selamat Jalan, Teteh. Semoga Allah merahmati engkau.” Kisah mereka mengajarkan bahwa Cinta Sejati bukanlah tentang kepemilikan di dunia, melainkan tentang Perjuangan Ikhlas untuk saling menjaga dalam ketaatan, agar kelak bertemu kembali dalam keabadian yang lebih mulia. []
