Pekalongan, 2008. Pagi itu, saya mengisi acara motivasi di sebuah sekolah, yang diselingi dengan promosi produk kartu seluler (IM3). Di antara puluhan wajah remaja yang mendengarkan, ada satu pasang mata yang menarik perhatian saya—penuh fokus dan kerinduan. Namanya Fauziah.
Setelah acara usai, ia menghampiri saya. Wajahnya memancarkan ketulusan, tetapi ada kesedihan tersembunyi. Ia bercerita dengan jujur: ia adalah anak dari keluarga yang kurang mampu, namun ia memiliki hasrat besar untuk membaca dan menulis. “Saya ingin punya penghasilan sendiri, Kak,” katanya lirih, “agar bisa mengurangi beban orang tua.”
Kisah ini menyentuh hati saya. Di tengah keterbatasan, semangatnya untuk mencari ilmu dan mandiri begitu kuat. Kami berdiskusi, mencari ide bisnis sederhana yang sesuai dengan minatnya. Akhirnya, kami menemukan sebuah ide: layanan persewaan buku kecil-kecilan untuk teman-teman sekolahnya.
Sebagai modal awal, saya memberikan empat buah buku karangan saya dan membelikannya tiga buku tambahan. Total tujuh buku. Ketika saya menceritakan inisiatif Fauziah kepada seorang teman, ia tersentuh dan menyumbang tiga buku lagi, sehingga modal pertama Fauziah genap sepuluh buku.
Dengan modal sepuluh buku itulah, Fauziah memulai perjuangannya. Ia menerapkan sistem sederhana: biaya sewa Rp500 per buku, dengan batas waktu maksimal tiga hari. Jika terlambat, ada tambahan biaya—sebuah pelajaran sederhana tentang tanggung jawab dan kedisiplinan.
Tiga bulan berlalu. Suatu hari, Fauziah datang dengan kabar yang mengejutkan dan menggembirakan. Wajahnya berseri-seri. Dari hasil sewa yang ia kumpulkan, ditambah bantuan dari guru dan orang-orang yang bersimpati, koleksi bukunya telah mencapai hampir seratus buah! Ia sudah mulai berburu buku di toko-toko buku bekas, menunjukkan jiwa wirausaha yang gigih.
Jendela Kecil itu kini telah terbuka. Dari usaha sewa buku ini, Fauziah mulai memiliki tambahan penghasilan. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi ia bisa menyumbang sedikit, mengurangi beban kedua orang tuanya yang berjuang mati-matian.
Keinginan untuk melihat langsung medan perjuangan Fauziah membawa saya berkunjung ke rumahnya. Pemandangan itu sungguh membuat hati pilu. Rumahnya sangat sederhana, sempit, terbuat dari papan, dan terletak di sudut perkampungan. Meskipun telah dirapikan sedemikian rupa, kesederhanaan itu tak bisa disembunyikan.
Ayahnya bekerja serabutan: kadang ke sawah, kadang berdagang kecil, atau menjadi buruh harian. Ibunya juga tak tinggal diam, kadang membuat kue untuk dijual, kadang menerima pekerjaan serabutan lainnya. Keringat dan perjuangan adalah menu harian keluarga ini.
Di tengah kondisi yang penuh keterbatasan itu, Fauziah tidak kehilangan arah. Ia memiliki cita-cita luhur yang menjulang tinggi: ia ingin sekolah hingga tingkat lanjut, bahkan bermimpi bisa kuliah. Hasratnya untuk keluar dari lingkaran kemiskinan melalui jalur ilmu adalah sebuah Perjuangan Suci.
Kisah Fauziah mengajarkan saya tentang kekuatan harapan dan keikhlasan dalam ikhtiar. Ia tidak mengeluh tentang kemiskinannya, tetapi mengubah hobi membacanya menjadi alat untuk mencapai kemandirian dan meringankan beban keluarga.
Di antara tumpukan buku yang ia sewakan, tersimpan janji-janji masa depan yang ia rajut sendiri. Setiap koin Rp500 adalah batu bata yang ia gunakan untuk membangun jembatan menuju mimpinya.
Inisiatif Fauziah menjadi inspirasi bagi teman-temannya di sekolah. Ia membuktikan bahwa kekurangan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk miskin ilmu atau miskin daya juang.
Beberapa tahun berlalu, saya tidak lagi bertugas di Pekalongan. Komunikasi kami sempat terputus.
Namun, sekitar tahun 2018, kabar gembira itu terdengar. Fauziah berhasil meraih cita-citanya. Ia tidak hanya melanjutkan pendidikan, tetapi ia kini sudah mengabdikan dirinya sebagai guru di sebuah sekolah. Benih ilmu yang ia tanam dari sepuluh buku sederhana telah tumbuh menjadi pohon yang rindang.
Kisah Fauziah adalah bukti nyata bahwa Cinta pada ilmu dan Semangat pantang menyerah adalah kunci. Karunia ini jauh lebih besar dari uang muka, jauh lebih berharga dari pekerjaan serabutan orang tuanya. Ia mengubah rumah papan menjadi perpustakaan, dan impiannya menjadi kenyataan.
Sungguh, Allah telah memberinya anugerah terindah yang berawal dari sepuluh buah buku dan hati yang penuh keikhlasan untuk menolong keluarga.
