Pekalongan, 2008. Sebagai Kepala Kantor Pemasaran, tugas saya melampaui batas-batas formal di meja kantor. Keberhasilan penjualan kartu IM3 dan Mentari sangat bergantung pada jaringan agen dan counter kami yang tersebar hingga ke pelosok desa, di ujung-ujung pasar. Di sinilah Perjuangan yang sesungguhnya dimulai.
Saya menyadari betul: menjalin hubungan bisnis yang langgeng dan sukses harus berakar pada Cinta dan rasa persaudaraan. Selain acara formal seperti gathering dan pelatihan, saya memilih jalur pendekatan hati ke hati, menolak jarak yang diciptakan oleh jabatan.
Saya memulai rutinitas baru yang intens. Saya sering hadir di momen-momen paling pribadi dan sakral dalam hidup para agen dan pemilik counter. Saya datang ke hajatan pernikahan anak mereka, perayaan khitanan, pengajian, bahkan saat mereka tertimpa duka cita.
Kehadiran di saat-saat penting itu adalah bentuk investasi yang tidak berwujud. Itu adalah pesan bahwa kami melihat mereka bukan sekadar angka penjualan, melainkan sebagai mitra, sahabat, dan keluarga. Mereka adalah wajah Indosat di komunitas mereka, dan hati mereka adalah kunci keberhasilan kami.
Suatu hari, perjalanan tugas membawa saya ke daerah Doro, Kabupaten Pekalongan. Daerahnya cukup jauh dan waktu terus beranjak malam. Karena tidak memungkinkan untuk kembali ke kota, saya memutuskan untuk menginap.
Saya meminta izin kepada pemilik outlet, seorang rekan bisnis yang saya hormati. Namun, melihat kondisi rumahnya yang sederhana dan penuh sesak, saya merasa tidak etis untuk merepotkan. Saya mengajukan permintaan yang tak biasa: Saya minta izin menumpang tidur di toko (outlet) mereka.
Permintaan itu disambut dengan kehangatan dan sedikit rasa terkejut. Mereka menyiapkan alas seadanya di sudut outlet, di antara tumpukan kartu dan spanduk promosi. Saya tidur di sana, bukan di kamar hotel berbintang, melainkan di garis depan perjuangan bisnis kami.
Momen tidur di outlet itu adalah titik balik. Peristiwa itu, yang bagi saya hanyalah sebuah solusi sederhana karena kemalaman, ternyata meninggalkan kesan mendalam yang tak terhingga bagi rekan bisnis saya. Itu adalah wujud nyata dari Keikhlasan dalam menghilangkan sekat.
Bagi mereka, tindakan itu melampaui batas hubungan bisnis. Seorang Kepala Kantor rela tidur di lapak mereka, di tempat mereka mencari nafkah sehari-hari. Itu adalah pengakuan tulus atas harkat dan perjuangan mereka.
Hasil dari pendekatan hati ini sungguh luar biasa. Penjualan kami meningkat tajam. Loyalitas agen dan counter menjadi tak tergoyahkan. Saya tidak hanya berhasil dalam bisnis, tetapi juga berhasil melipatgandakan harta paling berharga: persaudaraan dan sahabat sejati.
Hubungan yang terjalin erat ini menjadi warisan. Bertahun-tahun setelah saya pindah tugas ke kota lain, keajaiban dari silaturahmi itu masih terasa.
Kolega yang menggantikan posisi saya sebagai Kepala Cabang Pekalongan selalu menyampaikan sebuah kalimat yang mengharukan. Mereka berkata, “Bagi orang Pekalongan, Kepala Indosat yang sejati adalah Pak Jumadi Subur. Kami-kami penggantinya hanya dianggap penerus perjuangan beliau saja.”
Mendengar kalimat itu, saya tak kuasa menahan haru. Itu bukan pujian atas kinerja, tetapi pengakuan atas Cinta dan Keikhlasan yang saya tanamkan melalui silaturahmi. Saya tidak hanya meninggalkan target penjualan yang tinggi, tetapi juga meninggalkan jejak hati yang mendalam.
Kisah di Pekalongan ini mengajarkan kita bahwa Kepemimpinan Sejati adalah melayani, dan Perjuangan Bisnis akan mencapai puncak keemasan ketika kita bersedia menanggalkan status dan ego, bahkan sampai bersedia tidur di outlet kecil di ujung pasar.
Jendela Kecil di Tengah Badai dalam kisah ini bukanlah produk yang kami jual, melainkan hati tulus yang kami buka, yang kemudian dibalas dengan loyalitas, persahabatan, dan kenangan abadi
