Saya membaca buku tentang Corporate Mystic pada tahun 2000, sebuah konsep yang menyiratkan bahwa kunci sukses perusahaan bersumber dari hati dan spiritualitas. Di awal, saya menganggapnya idealisme. Namun, perjalanan karier di Indosat mengajarkan saya bahwa konsep itu adalah realitas yang hidup.
Di kantor kami, pemandangan itu sudah menjadi hal yang biasa, namun selalu menginspirasi: Orang-orang yang khusyuk membaca Al-Qur’an di sela-sela rapat yang tegang. Tilawah Al-Qur’an saat menunggu giliran atau dalam perjalanan dinas.
Sudut-sudut kantor, setelah jam kerja usai, seringkali menjadi saksi bisu lingkaran-lingkaran pengajian yang teduh. Sebuah kontras yang indah: profesionalisme yang tajam di siang hari, dan spiritualitas yang lembut di malam hari.
Komunitas iman ini tidak hanya terbatas di kantor. Seringkali, saat mengikuti pelatihan di Indosat Training Center, tanpa ada komando atau perjanjian, kami tiba-tiba berkumpul di masjid saat sepertiga malam untuk melaksanakan Qiyamul Lail bersama.
Kegiatan rutin sholat berjamaah, kultum (kuliah tujuh menit), dan ceramah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kami. Spiritualitas bukan lagi kegiatan sampingan, melainkan fondasi yang menopang etos kerja dan integritas.
Namun, momen-momen yang paling membuat saya terkesan dan haru adalah ketika iman kami diuji di luar zona nyaman kantor.
Salah satu pengalaman tak terlupakan terjadi saat kami, tim management kantor, mengadakan pelatihan di Bali. Salah satu kegiatan team building yang dipilih adalah Arung Jeram di sungai yang menantang.
Jadwal arung jeram dimulai pukul 09.00 pagi dan direncanakan berakhir pukul 15.00 sore. Artinya, agenda itu memotong waktu Sholat Jumat.
Maka, di tengah keriuhan jeram dan tantangan sungai, sebuah keputusan yang mengharukan diambil. Di tengah perjalanan, kami memanfaatkan lokasi peristirahatan di tepian sungai untuk menunaikan kewajiban mingguan kami.
Di tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota, dengan suara air mengalir deras sebagai latar, kami membentuk barisan sholat berjamaah. Saya mendapat kehormatan yang luar biasa: ditunjuk sebagai khatib Jumat hari itu.
Usai menunaikan sholat, di bawah langit Bali yang cerah, hati saya diliputi perenungan yang mendalam. Saya tersungkur dan bersyukur dalam hati, air mata saya menetes.
“Betapa besar karunia-Mu ya Allah. Engkau hadirkan aku di tengah-tengah orang baik ini,” bisik saya lirih. Momen itu menegaskan bahwa komitmen pada Rabb kami lebih besar dari agenda korporat mana pun.
Perjalanan internasional pun menjadi medan ujian spiritual lainnya. Mencari tempat sholat saat transit di bandara internasional seringkali menjadi petualangan yang menantang.
Kami tahu, tidak semua bandara di negara-negara asing menyediakan fasilitas masjid atau musholla yang memadai. Itu bukan hal yang mudah; itu adalah perjuangan kecil untuk menegakkan tauhid di negeri orang.
Saya ingat betul saat transit dalam perjalanan menuju Perth, Australia. Waktu sholat sudah mendesak. Setelah memohon izin kepada petugas keamanan bandara yang tampak keheranan, kami harus menunaikan sholat berjamaah di salah satu koridor bandara.
Di tengah lalu lalang penumpang yang terburu-buru, kami menghadap kiblat, menegakkan rukun Islam. Itu adalah pernyataan iman yang kuat tanpa kata-kata, sebuah pemandangan yang membuat hati bergetar.
Pengalaman-pengalaman ini, baik Sholat Jumat di tengah sungai Bali maupun sholat di koridor bandara Australia, adalah realisasi nyata dari apa yang disebut Corporate Mystic.
Kunci sukses Indosat, dan kesuksesan para karyawannya, tidak hanya diukur dari angka penjualan atau laporan keuangan, tetapi dari kekuatan spiritual dan integritas yang tertanam kuat dalam hati setiap pejuangnya.
Kami adalah profesional yang taat, dan kami adalah hamba Allah yang berkomitmen. Di mana pun kami berada, Allahu Akbar selalu menjadi prioritas utama kami.
Saya bersyukur, kisah-kisah ini menjadi warisan spiritual yang jauh lebih berharga daripada kenangan materiil. Saya telah belajar bahwa, sesungguhnya, kebahagiaan terbesar adalah ketika hati dan pekerjaan kita berjalan selaras dalam ketaatan. []
