Sat. Apr 18th, 2026

Batam, 1998. Kawasan Industri Muka Kuning adalah lautan hiruk pikuk, tempat ribuan pemuda merajut nasib di tanah rantau. Di tengah gemuruh mesin dan godaan pergaulan (yang cenderung) bebas, kami menemukan sebuah jangkar penyelamat. Setiap Jumat sore, saya selalu meluncurkan motor GL Pro kebanggaanku menuju salah satu kamar sederhana di Blok R.

Itulah tempat persembunyian spiritual kami. Di sana, telah menunggu Heri, Aji, Tiyo, Kana, Fahri, dan beberapa saudara lainnya. Di sana pula, Aa Agus – sosok pembina kami yang sabar dan penuh wibawa, yang tempat kerjanya tak jauh dari kantorku – sudah menanti.

Jumat sore bukanlah akhir pekan untuk berlibur, melainkan jadwal istimewa untuk mengisi gizi spiritual. Di setiap pertemuan, taujih yang diulang-ulang oleh Aa Agus selalu menusuk kalbu: “Perubahan, itulah hasil yang diharapkan dari sebuah pembinaan.” Kalimat itu bukan hanya nasihat, melainkan kompas hidup kami.

Kami telah menjadi lebih dari sekadar teman kerja; kami adalah saudara seiman. Kami berbagi segalanya: makan, minum, tidur, berolahraga, hingga kerja bakti. Kami bahkan pernah bersama-sama menghadiri konser nasyid, dan turun ke jalan dalam sebuah aksi solidaritas.

Kebersamaan kami diisi dengan saling membangunkan untuk shalat Tahajud, menyetorkan hafalan Al-Qur’an, diskusi buku, dan mengingatkan waktu shalat. Kami adalah tim support system yang saling menjaga agar tidak tergelincir dalam pergaulan lingkungan industri yang keras.

Sungguh, kami semua adalah saksi hidup dari Perubahan itu. Dahulu, kami adalah remaja yang terombang-ambing, hampir tanpa pegangan hidup yang pasti. Kami hanya menjalani rutinitas: bekerja, pulang, istirahat, lalu bergaul.

Di Muka Kuning, pergaulan masa muda seringkali melanggar batas syariat. Pemandangan muda-mudi yang berduaan, berpacaran, berboncengan, dan duduk mesra di bawah Taman Seribu Janji, adalah hal yang lumrah dan dianggap biasa.

Namun, bagi kami, semua itu telah menjadi masa lalu. Melalui taujih dan ukhuwah ini, hati kami telah menemukan arah baru. Kami telah terpatri dalam satu janji suci: mencintai hanya kepada Yang Maha Pencipta, Allah SWT.

Prinsip kami telah teguh: Cinta suci hanya boleh diwujudkan dalam satu sarana, yaitu pernikahan. Kami yakin, masa itu akan datang pada waktu yang terbaik, saat kami sudah siap, bukan saat kami terombang-ambing nafsu sesaat.

Di tengah perjuangan kami meniti perubahan itu, sebuah nasyid dari grup Suara Persaudaraan, yang berjudul “Langgam Kenangan Muda”, menjadi soundtrack kehidupan kami. Syairnya begitu menyentuh, merangkum hakikat cinta yang kami pahami.

Nasyid itu mengisahkan tentang dua insan yang terhunjam panah asmara, namun kemudian mendapat Hidayah Rabb-nya. Mereka dihadapkan pada pilihan sulit: antara mempertahankan sahabat lama yang salah jalan, atau memprioritaskan cinta suci milik Tuhan.

Keduanya kini harus memilih, Antara sahabat dan Robb-nya terkasih Sahabat lama pun kini ditinggalkan Cinta suci hanyalah milik Tuhan

Liriknya menyadarkan kami: perubahan menuntut pengorbanan, termasuk meninggalkan pergaulan lama yang tidak baik. Kami harus berani memilih jalan yang sepi, jalan ketaatan.

Bagian lirik berbahasa Jawa-nya membawa ketenangan: “Aduh segere banyune ing sendang, Ilang susahe wis mari rak mriyang, Banyune bening nyenyeger ati, Mugerak lali ning Allah kang suci.” Air bening di sendang itu adalah metafora untuk hidayah yang menyegarkan hati kami.

Nasyid itu diakhiri dengan ikrar yang menghujam jiwa, prinsip hidup yang kami pegang teguh sebagai aktivis:

Allah, Allah, tujuan hidup kami, Muhammad tauladan kami, Al-Quran penuntun kami…

Kami sadar, kami telah menemukan tujuan hidup kami, yang jauh lebih besar dari sekadar gaji bulanan di pabrik.

Ah, hingga kini, rindu itu selalu membuncah. Rindu pada suasana syahdu di Blok R Muka Kuning, pada taujih lembut Aa Agus, pada wajah-wajah tulus Heri, Tiyo, dan Kana.

Jejak langkah di Jumat sore itu bukanlah sekadar rutinitas, melainkan Perjuangan Ikhlas menuju sebuah perubahan hakiki. Kenangan Langgam Kenangan Muda akan selalu abadi, mengingatkan kami bahwa kami pernah menjadi pemuda-pemuda yang memilih cinta suci di tengah badai godaan kota industri. []

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *