Perpindahan tugas itu terasa seperti babak baru yang penuh janji. Saya mengemban posisi Manajer di sebuah tim kecil Sumber Daya Manusia (SDM). Lebih dari sekadar divisi kerja, saya menemukan sebuah keluarga kecil di sana: tiga gadis cantik yang cerdas dan hangat—Inda, Sisi, dan Mala—dan satu sosok yang kehadirannya tak terlupakan, Mas Gi. Kami semua sebaya, membuat keakraban terjalin tanpa sekat, mengubah hiruk pikuk kantor menjadi ruang yang nyaman.
Tugas-tugas harian kami sebagai pengurus ‘manusia’ dalam perusahaan memang menuntut profesionalitas. Kami sibuk mengurus administrasi, merancang kurikulum pelatihan, dan menyelesaikan berbagai urusan personalia yang rumit. Namun, kami selalu menemukan waktu untuk memperkuat ikatan. Sesi bonding adalah ritual wajib: kami berbagi popcorn di bioskop, tertawa lepas saat makan siang, atau sekadar menikmati kopi sore sambil berbagi beban dan mimpi.
Di tengah kehangatan dan dinamika tim yang seolah sempurna itu, ada satu bayangan kesedihan yang perlahan menyelimuti sosok Mas Gi. Pria yang secara fisik tampak paling matang dan menawan itu ternyata membawa beban sejarah yang berat, sebuah kisah pilu yang menjadi rahasia kesabaran kami.
Jauh sebelum saya tiba, Mas Gi telah melewati sebuah palagan hidup yang mengubah segalanya: sebuah operasi besar pada bagian otak. Intervensi itu adalah garis pemisah antara hidup dan mati, dan ia berhasil melewatinya. Namun, ia kembali dengan membawa konsekuensi yang merenggut inti dari kecerdasannya.
Para senior dan teman lama sering bercerita, penuh nostalgia dan kekaguman, tentang Mas Gi yang dulu. Ia adalah seorang sales yang legendaris: pria yang hebat, visioner, dan memesona. Presentasinya adalah pertunjukan yang selalu dinanti, ide-idenya selalu menjadi yang terdepan, membuatnya menjadi favorit semua orang, dari rekan hingga pelanggan penting.
Dia pernah menjadi bintang yang bersinar paling terang di perusahaan. Namun kini, cahaya itu meredup, tergerus oleh efek pasca-operasi yang tak terhindarkan. Warisan kecerdasan yang ia miliki perlahan terkikis, digantikan oleh kerentanan yang menyayat hati.
Efek yang paling menyakitkan adalah hilangnya memori jangka pendek. Mas Gi kini menjadi pribadi yang berjuang melawan lupa dalam setiap menitnya. Aktivitas sederhana—seperti menyelesaikan laporan atau bahkan sekadar mengingat bahwa ia sudah berpamitan—menjadi tantangan yang menghabiskan energinya.
Kami menyaksikan momen itu berulang kali, sebuah siklus yang memilukan. Mas Gi akan tersenyum, pamit untuk pulang dengan salam hangat, lalu beberapa menit kemudian kembali lagi ke pintu ruangan, mengambil tasnya sekali lagi, dan kembali pamit dengan senyum tulus yang sama, seolah memori lima menit terakhirnya telah terhapus.
Inda, Sisi, dan Mala akan saling bertukar pandang penuh keibaan, tetapi tak pernah sekalipun kami membiarkan raut wajah kami menunjukkan rasa kasihan. Kami akan membalas senyumnya dengan kehangatan yang sama, menjawab salamnya seolah ini adalah kali pertama ia pamit. Ini adalah sumpah tak tertulis tim kami: menjaga kehormatan dan kehangatan hati Mas Gi.
Namun, tidak semua orang memiliki hati yang sama. Kami tahu, kondisi Mas Gi yang sering lupa ini, dimanfaatkan oleh beberapa rekan kerja yang tidak bertanggung jawab. Mereka meminjam uang, atau meminta sesuatu secara verbal, memanfaatkan kondisi ingatannya yang rentan.
Kami hanya bisa menahan amarah yang membuncah. Kami berusaha melindungi Mas Gi seperti benteng terakhir. Setiap kali ada kejanggalan pada catatan keuangannya atau janji yang tak berdasar, kami berempat berusaha menyelesaikannya secara diam-diam, menutupi celah yang dimanfaatkan oleh ketidakjujuran orang lain. Kami adalah perisai bagi kebaikan hatinya yang polos.
Seiring berjalannya waktu, kondisi fisik Mas Gi mulai sejalan dengan kondisi memorinya. Kesehatannya menurun drastis. Kami melihat perjuangan di matanya setiap hari, tetapi ia tak pernah lupa membalasnya dengan senyum tulus, yang membuktikan bahwa jiwa dan kemurnian hatinya tidak ikut terperangkap dalam keterbatasan fisiknya.
Kami menyadari bahwa kecerdasan yang hilang tidak pernah mengurangi nilai sejati Mas Gi. Ia justru mengajarkan kami tentang empati sejati dan kemurnian hati yang otentik, jauh dari segala ambisi duniawi. Ia adalah pelajaran hidup yang paling berharga bagi kami sebagai pengurus SDM.
Hingga pada suatu pagi yang penuh kecemasan, meja Mas Gi kosong. Bukan karena terlambat, melainkan karena sakit yang mengharuskannya dirawat intensif di rumah sakit. Suasana kantor menjadi sunyi, dipenuhi doa dan harap yang menggantung di udara.
Namun, harapan itu harus bertepuk sebelah tangan. Kabar duka tiba: pada hari itu, meskipun sudah berjuang keras, jiwa Mas Gi telah dipanggil pulang. Kabar itu menghantam tim kami—keluarga kecilnya di kantor—dengan duka yang teramat dalam.
Sebagai manajer tim, saya segera bergegas menuju kediaman beliau. Langkah saya terasa berat, dipenuhi campuran kesedihan yang tak tertahankan, sekaligus rasa syukur atas anugerah mengenalnya. Di sana, di tengah keluarga yang berduka, saya menyampaikan penghormatan terakhir kami.
Melihat wajahnya yang kini terbaring damai, semua kenangan tentang tawa, momen ngopi, dan bahkan rutinitas pamitan berulang-ulang itu, melintas seperti kilasan film. Air mata tak tertahankan membasahi pipi, disertai rasa haru: betapa beruntungnya kami dipertemukan dan diizinkan menjaga pria sebaik dia.
Ini adalah penghormatan terakhir bagi seorang pria yang kehilangannya jauh melampaui sekadar kehilangan karyawan. Saya dan tim kecil itu memberikan doa terhangat, memohon agar segala kesulitan dan perjuangan yang ia lalui di dunia ini menjadi pintu menuju tempat terbaik di sisi-Nya.
Mas Gi kini telah pergi. Ia membawa serta memori yang sempat hilang darinya. Namun, ia meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi kami: pelajaran tentang empati yang tak berbatas, kesetiaan, dan pengingat bahwa nilai sejati seseorang tidak diukur dari kecerdasan atau kesuksesan yang tertera di CV, melainkan dari kebaikan hati yang ia tanamkan pada orang-orang di sekitarnya.
Kisah Mas Gi adalah pengingat abadi bagi siapa pun yang membacanya. Bahwa setiap manusia, dalam kondisi terlemahnya sekalipun, tetaplah suci dan layak untuk dicintai. Tim kami mungkin telah terpisah, tetapi memori tentang Mas Gi, pria tampan yang sering lupa itu, akan kekal menjadi inspirasi untuk selalu melihat setiap individu dengan mata kasih, bukan logika semata.[]
